Putri Siren

PUTRI SIREN

karya Fransisca Liang

Satu hari lagi di Bumi. Dan masih banyak lelaki yang harus kukerjai sebelum aku pergi. Untuk mengawali hari, aku tersenyum ramah pada seorang pemuda yang tampaknya sedang terpukau melihat kulit putihku yang bening. Alhasil, pemuda itu tersandung dan jatuh menabrak pejalan kaki lain. Sesaat ia tampak malu. Kemudian aku terkikik geli atau lebih tepatnya berpura-pura terkikik geli melihat tingkahnya yang konyol. Dan benar saja! Dengan cepat perasaan senang menghinggapi benak pemuda itu, menggantikan perasaan malunya. Dasar bodoh!

Aku tidak ingin memikirkan efek yang akan diakibatkan tawa palsuku kepada diri pemuda tadi. Fey bilang tindakan sekecil itu dapat membawa perubahan besar seperti efek sayap kupu-kupu.

”Tawa kita akan dikenang cukup lama dalam ingatan laki-laki dan itu memberi kita kesempatan untuk menghancurkannya sekalipun kita sudah tidak di sini” ujar Fey suatu hari.

”Siapa tahu…” lanjutnya. ”Orang-orang bodoh itu akan membuat keputusan yang salah atau tewas ketika menyeberang jalan saat ia mengingat tawa anggun salah satu dari kita”

Fey. Aku memikirkan nama itu selagi berjalan menuju kampus. Dua tahun yang lalu sewaktu masih di SMU, aku dan Fey bagai dua ujung spektrum. Fey adalah gadis gaul yang suka clubbing, pesta pora, dan terkadang pergi membolos. Sementara aku gadis lugu, seorang kutu buku yang belum pernah melihat dunia. Cukup wajar jika gadis semacam Fey, kadang-kadang mengerjai gadis polos seperti diriku, entah itu untuk mengisi waktu atau sekadar melepas stress. Banyak gadis di sekelasku yang sudah menjadi korban Fey dan aku berusaha menyiapkan mental menunggu giliranku tiba.

Sebagai ulat yang masih bersembunyi di dalam kepompong, aku tidak terlalu mempedulikan penampilanku dan tentu saja aku nyaris tak percaya ketika Kevin — cowok paling keren di sekolah memintaku untuk menjadi pacarnya. Tentu saja aku mengacuhkannya selama berminggu-minggu dan berpikir ia hanya ingin mempermainkanku.

Tapi keteguhan hatinya lambat-laun membuatku luluh. Aku pun resmi menjadi pacarnya dan harus membiasakan diri menerima tatapan sirik dari cewek-cewek lain yang iri hati.

Saat itu aku bahagia sekali dan tidak yakin kalau itu bukan mimpi. Dan sesungguhnya kejadian itu memang sebuah mimpi. Mimpi yang sangat buruk. Baru seminggu berpacaran, Kevin mencoba menciumku di aula sekolah dan aku tidak menolak.

Kebahagiaan akan ciuman pertamaku sirna dalam sekejap. Tiba-tiba Kevin mulai tertawa tak terkendali. Dan satu-persatu komplotan gengnya bermunculan dari balik dinding. Di antara mereka terdapat Fey, Sofia dan Veronica.

”Aku menang” kata Kevin pada Fey, yang disambut sorakan pendukung Kevin. Fey melemparkan seikat bundel uang pada Kevin.

”Terima kasih atas uangnya, Kathleen!” kata Kevin padaku. Saat itu aku terlalu sedih hingga tak sanggup mempertahankan harga diriku dengan berusaha menampar wajahnya. Aku telah dipermalukan dan seisi sekolah akan segera mengetahuinya!

Untunglah aku masih mempunyai kekuatan untuk segera lari dari tempat itu.

***

Gadis-gadis yang tadinya menatapku dengan sirik dan dengki, kini terang-terangan tertawa dan mengejekku. Hari-hari selanjutnya terasa seperti di neraka. Aku tidak masuk pada hari kelima setelah kejadian itu dan memutuskan untuk bunuh diri pada malam harinya. Aku pasti tetap akan menjalankan niatku andaikata aku tidak mendengar nyanyian menenangkan yang biasanya aku dengar saat sedang hujan terutama ketika aku berada dalam kesedihan yang mendalam. Tetes-tetes air hujan seolah membawa debur ombak yang menenangkan dan aku dapat merasakan pikiran kalutku dijernihkan.

Aku menguatkan hati untuk ke sekolah keesokan harinya dan tanpa disangka Fey mencegatku di toilet perempuan.

”Hal itu jadi pelajaran buatmu, bukan?” kata Fey padaku. Ia ditemani oleh Sofia dan Veronica. Walaupun begitu aku tidak takut padanya dan nyaris mencakar wajahnya kalau saja aku tidak mendengar simpati yang tersirat dari suaranya.

Aku menyelidiki wajahnya dengan saksama.

”Pelajaran nomor satu. Jangan percaya dengan ucapan laki-laki!” Fey mengatakan itu dengan dingin. Sangat berbeda dengan gaya manja dan nakal yang kutangkap darinya selama ini. Aku masih diam seribu bahasa.

”Kau tentunya bertanya-tanya, tapi jika kau ingin balas dendam pada Kevin, temuilah aku di rumahku jam enam sore ini” lanjutnya sambil menyerahkan secarik kertas padaku.

Melihatku masih ragu-ragu, ia menambahkan, ”Dan aku bisa membantumu memberikan jawaban mengapa kau bisa mendengar suara nyanyian pada saat hujan!”

Aku terkejut mendengarnya. Rahasia itu tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun bahkan kepada ibuku sendiri. Akhirnya aku mengambil kertas itu. Dan hidupku tidak akan pernah sama lagi.

***

Sore itu, Fey membawaku ke halaman belakang rumahnya yang dijadikan kolam renang. Di sana Sofia dan Veronica telah menunggu. Mereka berbaring santai sambil menikmati limun. Sejenak aku ragu-ragu. Mengapa mereka selalu bertiga? Apa Fey ingin mengerjaiku di sini? Aku mencoba menepiskan pikiran itu ketika Fey menyelaku.

”Kita tak punya banyak waktu. Orang tuaku akan segera pulang. Jadi lebih baik segera lepaskan pakaianmu.”

Perasaan cemas, takut, dan bingung merayapi benakku secara bersamaan. Dengan gugup aku melirik ke samping, menantikan sergapan dari Kevin atau laki-laki lain. Sedetik kemudian, mereka bertiga meledak dalam tawa.

”Kau membuatnya takut, Fey!” ujar Sofia.

”Kata-katamu bisa disalahartikan. Kau memang bukan perekrut yang baik” timpal Veronica.

”Ya, aku masih ingat ketika pertama kalinya dia merekrutku. Aku ketakutan setengah mati waktu itu.” balas Sofia.

Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan dan tiba-tiba Fey menghela napas.

”Tunjukkan padanya gadis-gadis!” kata Fey. Tiba-tiba Sofia dan Veronica melompat ke kolam renang. Gerakan yang tiba-tiba itu mencuri perhatianku.

”Perhatian baik-baik!” Fey berbisik di sampingku. Untuk sesaat aku menoleh pada Fey dan kembali memperhatikan kolam renang. Aku mengerjapkan mata tidak percaya ketika Sofia dan Veronica telah tiba di ujung kolam renang itu.

Kolam renang itu luas dengan panjang sekitar lima belas meter dan lebar sepuluh meter. Sofia dan Veronica berenang balik dengan kecepatan yang menurutku mustahil. Mereka terlihat seolah meluncur mulus begitu saja di dalam air. Saat mereka berada di tengah kolam renang, mataku silau terkena pantulan sinar matahari. Kukerjapkan mata beberapa kali lagi ketika kupikir aku mengalami halusinasi dan melihat warna air sedikit berubah. Air di sekitar kaki Veronica berwarna keperakan sementara air di kaki Sofia berwarna biru-kekuningan.

Ketika mereka mendekat, bagian yang tadinya kupikir kaki itu telah menempel satu sama lain dan ditumbuhi sisik-sisik. Itu bukan kaki. Itu ekor. Aku terhuyung mundur karena takut. Fey memegangi lenganku dan aku berjengit ketika menyadari bahwa dia sama seperti kedua temannya.

Dan aku pun bersuara untuk pertama kalinya. ”Apa maumu? Siapa kalian?”

Terus terang Sofia dan Veronica terlihat amat cantik ketika sedang berubah menjadi putri duyung[1] sehingga reaksi ketakutanku mungkin terdengar sedikit aneh andaikata seorang laki-laki yang menyaksikan peristiwa ini.

”Aku hanya menunjukkan siapa dirimu yang sesungguhnya” jawab Fey lembut.

Perlu beberapa saat bagiku sebelum kata-kata itu tercerap sepenuhnya.

Aku? Ini tidak lucu!” tukasku kasar.

”Hei, apa dulu aku terlihat seperti itu, Fey?” tanya Sofia cemberut.

Fey mengabaikannya. Matanya tajam terfokus pada diriku.

”Kami tahu betapa berat ini untuk pertama kalinya. Kami semua juga mengalami hal yang sama. Suatu hari nanti kau akan mengingat hari ini dan menertawakannya. Betapa manusia berpikir—”

”—bahwa mereka adalah satu-satunya makhluk di jagad raya ini” Veronica menyela perkataan Fey dan mengedipkan matanya padaku.

”Dan lebih berat lagi ketika…” Fey mengabaikan rasa dongkolnya.

”Ketika kau dihadapi kenyataan bahwa dirimu bukanlah manusia” Sofia menyelesaikan kalimat Fey.

”Bisakah kalian diam!” bentak Fey.

”Sorry, Fey! Jarang-jarang kita mendapatkan teman baru”

”Hei, Kathleen, lihat ini!” Veronica memanggilku. Lalu ia mengubah warna rambutnya yang hitam menjadi emas dan memanjangkannya hingga terurai sampai ke pinggang.

Fey berdecak kesal. ”Ingat, besok harus sudah pendek lagi!”

Hari itu aku masih kebingungan. Aku tidak yakin dengan apa yang terjadi, kecuali mengapa perempuan sering ke salon setiap minggunya.

***

Hari-hari berikutnya aku terlihat sering bersama mereka baik itu di tempat umum maupun di rumah salah satu dari mereka. Aku ingin jawaban dan Fey dengan perlahan menjelaskannya. Pada titik tertentu, aku sudah mengakui eksistensi mereka yang bukan manusia biasa namun aku masih ragu dengan jati diriku sendiri.

”Ok, cukup!” kataku terbatuk-batuk seraya keluar dari kolam renang. Aku memuntahkan air dan kapok dengan percobaan bunuh diriku yang kesepuluh atau kesebelas hari itu.

”Aku rasa aku bukan salah satu dari kalian” kataku datar.

”Kau hanya perlu melepas anggapan orang tentang dirimu, Kathy!” Fey berusaha menyemangatiku. ”Melompatlah ke dalam air dengan perasaan senang seolah kau pulang ke rumah. Dengan begitu kau tidak akan tenggelam. Kau tidak boleh terikat pada daratan.”

Aku merenungkan bahwa kata-kata Fey sesungguhnya dapat dijadikan saran bunuh diri yang bagus bagi orang yang depresi. Lalu tiba-tiba sebuah pikiran berkelebatan dalam benakku.

”Fey, bagaimana seandainya kau salah? Bagaimana kalau aku bukan salah satu dari kalian? Mungkin aku hanya gadis normal… seorang manusia yang—”

”Aku tidak mungkin salah, Katherine!” katanya tiba-tiba serius. ”Lagipula, seperti yang sudah sering kukatakan berkali-kali, kita — anak-anak Siren — semuanya memiliki tanda lahir khusus yang berbeda coraknya di setiap pergelangan kaki kiri kita. Selain itu, bau kita pun berbeda dengan manusia yang memancarkan keserakahan. Kau akan dapat mengetahui perbedaannya nanti setelah indera penciumanmu lebih tajam.”

Aku tidak tahu bagaimana Fey dapat mengetahui tanda lahir di kakiku yang kututupi dengan gelang kaki.

”Tapi, Fey, jika kau salah, apakah kau… maksudku, apakah aku….” Aku tidak mampu menyelesaikan kalimatku namun Veronica menangkap maksudku.

”Jangan khawatir, Kathy. Seandainya kau hanya perempuan normal pun, kami tidak akan membunuhmu!” katanya sambil tersenyum jail.

***

Metamorfosisku sungguh tidak menyenangkan. Suatu hari sebuah perasaan alienasi menghinggapi dadaku ketika melihat kerumunan manusia di sekelilingku. Dengan sesak aku menyadari bahwa aku bukan bagian dari mereka. Tanpa sadar, air mataku mengalir dan lamunanku dibuyarkan oleh hujan deras yang turun tiba-tiba. Aku pun bergegas mencari tempat untuk berteduh, lalu tiba-tiba aku merasa hujan tidak mengangguku lagi. Aku menengadahkan kepala ke langit, merasakan sensasi ketika hujan mengguyur seluruh tubuhku. Aku dapat mencium bau laut. Kepalaku terasa dingin menyegarkan.

Orang-orang menatapku penuh tanya tapi aku tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Saat itu aku lebih cemas dengan kondisi fisikku. Fey tidak pernah memperingatiku mengenai kondisi tidak menyenangkan, yang akan terjadi ketika akan berubah wujud untuk pertama kalinya.

Aku merasa pakaian yang kukenakan terlalu kasar dan tidak nyaman. Kulitku terasa berlendir seolah kulit itu akan mengelupas dan digantikan kulit baru. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri agar tidak melepas pakaianku dan membiarkan hujan menyetubuhiku.

Aku bergegas pulang ke rumah dan segera berendam dengan air panas. Aku menghela napas lega dan memejamkan mata. Semua penat hilang dan rasanya seperti berada di rumah.

Aku membuka mata ketika menyadari ada yang salah dengan diriku. Lalu, aku menjerit sekeras-kerasnya ketika melihat kakiku telah berubah menjadi ekor. Tentu saja ibuku tergopoh-gopoh mendatangi kamar mandi, mengetuk pintu dengan cemas dan menanyakan apa yang terjadi. Aku harus berbohong kalau aku ketiduran.

Aku mungkin tidak akan mati tenggelam, tapi tiga puluh menit berikutnya, kuhabiskan dengan menggelepar-geleparkan ekorku dan berusaha menjangkau ponsel yang ada di saku celanaku. Aku menelepon Fey dan bertanya padanya bagaimana cara mengembalikan kakiku. Fey terdengar sangat senang dan ia menertawaiku.

Kulitku, tentu saja, menjadi lebih putih dan bercahaya. Semua orang (khususnya laki-laki) terpesona menatapku. Ibuku sendiri berkata bahwa dia baru menyadari kalau putrinya adalah seorang gadis yang sangat cantik. Dan aku pun ternganga menatap bayangan yang terpantul dari cermin. Aku melihat seorang gadis muda yang begitu ceria, dan penuh kehidupan seolah ia baru saja menghisap darah vampire.

Teman-teman baruku membiarkanku melakukan pemanasan dengan tubuh baruku. Aku pun berenang, menyelam, dan bersalto di udara dengan lincah. Aku mencoba beberapa manuver seperti bersalto ke belakang maupun memutar tubuhku ke samping sebanyak tujuh putaran penuh sebelum kembali ke air. Fey, Sofia dan Veronica terkikik geli melihat tingkahku. Kami pun bermain bersama dengan riang.

***

 

”Tujuan kita di Bumi ini hanya satu. Balas dendam pada laki-laki!” kata Fey tegas dan galak. Ia menghentikan cerita-cerita picisan Veronica yang sedang berusaha memanipulasiku dengan romantisme. Kamarnya penuh dengan buku-buku teenlit dan harlequin.

”Balas dendam?” tanyaku bingung. ”Untuk apa?”

Fey tersentak dan menatapku dengan tajam.

”Kau bertanya untuk apa? Lupakah kau apa yang telah dirampas Kevin darimu?” desis Fey. Ingatan itu sungguh menyakitkan dan darahku menggelegak marah.

”Tentu aku ingat!” tiba-tiba aku menjerit. ”Kalau bukan karena kau, first kiss-ku tentu akan menjadi salah satu kenangan yang terindah dalam hidupku!”

”Kalau bukan karena aku,” Fey membantah, ”Laki-laki lain seperti Kevin akan mencuri milikmu yang paling berharga! Tersadar saat itu pun sudah terlambat. Kau tidak akan pernah bisa kembali ke jati dirimu yang sebenarnya. Laut akan menolakmu.”

Aku termenung memikirkan kata-kata Fey. Dia benar. Andaikata kebohongan Kevin tidak terbongkar saat itu, mungkin aku terbujuk untuk melakukan hal-hal yang berlebihan.

”Laki-laki sudah cukup lama menguasai planet ini.” Fey melanjutkan. ”Banyak perempuan yang telah menjadi korban dan berada di bawah kekuasaan mereka. Karena itulah nenek moyang kita memutuskan menginjakkan kaki ke daratan dan menghancurkan mereka.”

”Membunuh mereka saja tidak cukup. Kita harus membuat mereka tergila-gila pada diri kita dan mengerjainya dengan satu dan lain cara. Dengan begitu balas dendam akan terasa manis.” Fey tersenyum licik.

Mendadak aku teringat penangkapan Kevin karena memakai narkoba di bar. Dia ditahan enam bulan penjara. Suaraku tercekat, ”Kevin, apa dia…”

Fey menggangguk, ”Itu hasil karyaku. Alkohol, judi, narkoba dan seks adalah umpan yang bagus untuk menghancurkan hidup semua laki-laki di dunia ini. Tapi membuatnya terjerumus sehingga menjadi pelaku kriminal akan lebih baik. Dan tentu saja — Cinta!” Fey mengakhirinya dengan tawa seolah ia teringat kenangan lama.

”Tapi tidak semua laki-laki itu jahat, Kathy.” Veronica bersuara untuk pertama kalinya. ”Beberapa diantaranya ada yang bersungguh-sungguh peduli pada wanita dan….” Veronica tidak dapat melanjutkan kata-katanya karena melihat tatapan tidak senang Fey.

Lalu tatapan itu berubah menjadi lembut dan agak sedih. ”Tampaknya Veronica sudah memutuskan jalan yang akan dipilihnya nanti, Kathy. Aku sedih karena kita tidak bisa bersama-sama seperti ini untuk selamanya.” Fey yang keras dan tegar pun berubah menjadi ciut. Keheningan yang canggung menghisap udara di kamar itu.

”Ada apa? Mengapa kita tidak bisa terus bersama-sama seperti ini?” tanyaku panik.

Sofia yang menjawab, ”Ketika berusia 25 tahun nanti kau diharuskan menjadi dirimu yang sesungguhnya, Kathy. Atau kau tidak akan bisa berubah menjadi putri duyung lagi dan tinggal di laut.”

Aku tercekat. Semenjak berubah, perasaanku pada laut menjadi lebih sensitif dan mereka pun pernah mengajakku menyelam untuk melihat negeri-negeri yang berada di bawah sana. Atlantis menjadi kerajaan duyung terbesar yang dipenuhi dengan aristektur mengagumkan.

”Jika kau memilih laut maka kau tidak akan bisa menginjakkan kaki di daratan lagi” kata Veronica lirih.

Fey mendesah dan berkata, ”Banyak Putri Siren yang memilih mengorbankan diri menjadi manusia untuk terus melanjutkan misi dalam hidupnya. Tapi lebih banyak lagi yang terjebak oleh ’cintanya’ sendiri. Setelah memperdayai banyak laki-laki, suatu hari nanti, akan ada seorang laki-laki yang mencuri hatinya seperti yang terjadi pada ibu-ibu kita.”

Aku ternganga. ”Ibuku juga putri duyung?”

Fey mengangguk.

”Dia sudah lupa, Kathy. Semua duyung yang terlalu lama berada di daratan akan lupa pada jati dirinya. Aku belum pernah menemukan satu orang pun yang masih ingat.”

***

 

 

Itu kejadian dua tahun yang lalu. Saat ini Veronica dan Sofia masuk ke universitas lain untuk merekrut ’bakat-bakat’ baru sementara aku dan Fey satu kampus. Veronica sudah memutuskan bahwa ia akan hidup bersama dengan lelaki yang dicintainya setelah pengabdiannya sebagai Putri Siren berakhir. Kami tidak dapat berbuat apa-apa. Aku, Sofia dan Fey hanya berharap bahwa lelaki pilihannya memang tepat.

Sofia dan aku memutuskan kembali ke laut sementara kebencian Fey terlalu dalam sehingga ia belum memutuskan apakah akan mengorbankan diri untuk melanjutkan misi seumur hidupnya.

”Ada mangsa baru” Fey berbisik padaku dan melirik pada cowok yang duduk menyendiri di pojok. Dia sangat ganteng hingga beberapa gadis mencuri lirik padanya. Pada saat makan siang, kami menghampiri cowok itu yang duduk sendirian di meja kantin. Fey berpura-pura cuek dan mengabaikannya. Setelah mengobrol berdua selama beberapa menit, Fey mengalihkan perhatiannya pada cowok itu dan menyapanya.

”Hai, aku baru melihatmu! Kau baru pindah ke sini?” Fey menyunggingkan senyumnya yang paling manis, yang dapat membuat siapa saja meleleh. Tapi cowok itu tidak mengangkat wajahnya. Lalu, tanpa terduga dia tersenyum sinis dan berkata, ”Tak perlu repot-repot. Aku tidak menjalin hubungan dengan ikan. Mereka bau amis.”

Aku dan Fey seperti disambar petir. Kami ternganga dan tidak tahu harus berkata apa. Selama sesaat, cowok itu masih tidak mengangkat wajahnya dan makan dengan santai. Lalu seolah baru menyadari kesunyian yang ia ciptakan, ia akhirnya mau menatap kami dan melihat reaksi terkejut kami.

”Aku diutus agar kalian tidak bertindak terlalu berlebihan dan berhati-hati dalam memilih calon korban.” Cowok itu berkata dengan nada yang mengancam.

”Sebagian besar dari mereka bersumbangsih besar sebagai pengingat agar umat manusia masih mendewakan kami”

”Tunggu dulu! Kau tahu siapa kami?” Fey berkata ketus. Senyum di wajahnya menghilang.

Cowok itu menggangguk. ”Dulu kalian membuat Olympus terguncang karena membuat Oedipus menjadi gila. Lalu, sekarang, pada abad ini, kalian membuat Kraken terbangun dari tidurnya dan menyebabkan tsunami besar pada sejumlah negara di dunia. Kalian melalaikan kewajiban kalian untuk terus bernyanyi bergantian dan menidurkan Kraken sehingga membuatnya sedikit tidak nyenyak.”

Aku dan Fey dibuat bingung dengan informasi-informasi itu.

”Kau belum mengatakan siapa dirimu! Siapa yang mengutusmu dan mengapa kau tahu tentang kami!” kata Fey kalap.

Cowok itu mengangkat alisnya. ”Bukankah itu sudah jelas? Aku diutus ayahku.”

”Ayahmu! Ayahmu! Aku tak tahu siapa ayahmu!” Fey kehilangan kendalinya.

”Poseidon!” bisik cowok itu.

Poseidon?” Fey tertawa. “Dan kau adalah…”

“Aku Cyclop.” sahut cowok itu.

“Kaupikir aku percaya itu? Dewa-dewi yang ada di dongeng mitologi?” Fey tersenyum meremehkan.

”Sayangnya, itu bukan sekadar dongeng” sahut cowok itu tenang.

”Oh, ya? Lalu coba katakan mengapa dewa-dewa itu masih ada setelah tak ada satu umat manusia pun yang menyembah mereka?”

Cowok itu tersenyum. ”Zaman telah berubah. Tak diperlukan lagi perawan wanita untuk para dewa. Itulah yang ingin kukatakan pada kalian. Beberapa dari lelaki yang kalian kerjai berfungsi sebagai pengingat agar umat manusia terus menyembah dewa-dewi Olympus. Mereka mungkin berprofesi sebagai penulis, aktor, sutradara, dosen, atau tukang cerita keliling. Selama mereka masih terus mengingatkan umat manusia, keberadaan kami tidak akan hilang.”

”Sayangnya, kalian mengerjai orang yang salah,” di sini cowok itu melirik padaku. ”Pemuda yang kautemui tadi pagi adalah seorang penulis yang bermaksud menulis kisah heroik para dewa. Tapi akhirnya Oracle meramalkan bahwa ia berubah pikiran dan akan menulis tentang kisah cinta. Coba bayangkan itu! Cinta! Kalian percaya?”

Fey menatap cowok itu  dengan ekspresi yang dapat kumengerti.

Cyclop!” desisnya. ”Kupikir mereka bertubuh besar, idiot, dan hanya mempunyai satu mata di kening mereka.”

”Maksudmu, ini?” cowok itu membuka mata keningnya dan memperlihatkannya pada kami.

”Wow, keren!” seruku terpukau.

Mata duniawi Cyclop itu melirikku dengan sinis.

”Sudah kubilang tak usah repot-repot. Dengan mata asliku, aku dapat melihat sisik dan ekormu.”

Namun aku tidak peduli dan telah memutuskan akan menghabiskan sisa waktuku di dunia ini untuk membuat Cyclop ini jatuh cinta padaku.


[1] Tentu saja saat itu di kepalaku tidak ada kosakata tersebut. Aku hanya merasa takut luar biasa sama seperti apa yang mungkin kau alami jika suatu hari nanti, seseorang yang kau kenal tiba-tiba menunjukkan bahwa dirinya adalah alien.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Putri Siren

  1. No. 156 says:

    hei, salam kenal. aku suka dengan cara berceritamu yg seperti film-film disney hollywood. fantasinya kerasa. dan sepertinya cerita kita punya beberapa kemiripan. lalu ini selesai begitu saja? Oh tidak. kukira akan ada pertarungan ras Siren dengan manusia atau apalah :)
    becanda, haha. tapi gak juga sih. *bingungsendiri
    intinya aku belum melihat konfliks yg bener2 konfliks. ini kayak menceritakan sesuatu yg tiba2 wow dalam hidupmu dan baru pembukaan awal atas seluruh petualangan.
    ya, jika kau mengerti maksudku.

    kalau sempat mampir ke Laut Banda Aceh (No 156), ya.
    nampaknya kathleen butuh refreshing.
    GL ^_^

  2. Fransisca Liang says:

    Terima kasih. Ya, nanti aku akan mampir

  3. Roedavan says:

    Oh, cerita abg yang dikemas dalam seting fantasy. Bagus. Dan saya setuju dengan kamu. Yang namanya cowok itu memang kadang2 kurang ajar dan suka mempermainkan cewek. Itulah sebabnya, saya ga pernah pacaran sama cowok dan memutuskan untuk menikah dengan seorang cewek. XD

  4. negeri tak pernah-48 says:

    Pas baca bagian awalnya, langsung inget Meteor Garden ataw drama-sinetron sejenisnyah. Satu lagi, sebelum ini baru banget baca cerita putri duyung. Sepertinya duyung dan laut lagi tren di FF2012.

    Eniwei, balik ke cerita.
    Setuju, gaya ceritamu unik. Fantasi yang pas buat remaja.

    Ide ceritamu juga oke. Ironis dikit sih, para Siren ini menghabiskan waktu buat ngerjain cowo. Ujung-ujungnya si tokoh utama ngejar cowo cakep juga. Eh. Cyclop. Ga masuk itungan ya?

    Begitulah. Mampir juga yah ke nomer 48 :)

  5. Fransisca Liang says:

    Emang cerita putri duyung di FF 2012 nomor brp aja?

    Hmm.. thanks! tapi, apa kamu udah yakin klo si tokoh utama jatuh akhirnya jatuh cinta pada cowok? Kalimat endingnya bersifat ambigu lho… :)

  6. Stella says:

    Hai! Salam kenal :)
    Ceritanya bagus, cuma kenapa Kathleen tau2 berubah gitu ya? Dari awalnya ikut ngancurin cowok2, begitu ketemu Cyclops langsung naksir? *nggak percaya sama love at the first sight* ^^

    Oke nih. Good luck!

    • Fransisca Liang says:

      Salam kenal juga!

      Jawabannya sama kayak post sebelumnya. Ada banyak alasan bagi seseorang mendekati orang lain dan motivasi Kathleen ketika berkata, “Akan kubuat Cyclop ini jatuh cinta padaku” harus dipertanyakan :)

  7. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Wakaka, baru aja beres baca cerita tetangga dirimu yang juga soal putri duyung, ternyata ini juga ^^

    Tapi cerita ini seru! Mirip-mirip sama percy jackson seriesnya Riordan. Saya suka sama dialognya yang lancar tanpa terlalu kaku.

    Kalo boleh protes, endingnya terlalu cepet, terlalu dipaksain beres. Kebentur kata ya? :D dan ada adegan yang namanya berubah jadi katherine iso kathleen.

    3,5 out of 5 ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>