Rahd

RAHD

karya Blood Raven

 

“Gugup, Han?” tanya Bathara yang berjalan di depanku. Dia tak menoleh sedikitpun namun bisa kupastikan bahwa wajahnya sedang menyeringai dan mengolok-olokku. Walaupun yang tampak dari posisiku sekarang hanyalah punggungnya yang tinggi tegap berlapis mantel hingga lutut serta rambut pendeknya yang disisir rapi kebelakang.

Mana mau aku menggubrisnya. Aku sudah lumayan sibuk mengimbangi langkah-langkahnya yang panjang dan cepat itu. Dilihat dari cara bergeraknya orang asing tak akan mengira bahwa laki-laki ini sudah berkepala lima.

Jika informasi dari atasan tidak meleset, misi kali ini adalah ‘lacak, segel dan kirim kembali.’ Simpel, dan tak sampai tengah malam nanti pasti segalanya usai. Sebagai pengalaman pertama, Bathara meyakinkanku bahwa ini tidaklah sulit.

Kuperhatikan sejumlah jendela dengan lampu menyala di seberang jalan. Di saat orang-orang mulai menghentikan aktifitas mereka untuk pulang dan menikmati hangatnya karpet rumah mereka, kakiku justru harus menapaki dinginnya trotoar di samping jalan raya yang mulai sepi ini.

Bathara membawa langkah-langkah kami berdua untuk berbelok di sebuah gang yang terletak di samping toko elektronik tingkat dua. Jalanan kotor dengan genangan air dan lumpur serta lampu-lampu neon redup di tembok-tembok kusam langsung menyambut kami berdua.

Sepi. Suara-suara kendaraan yang cukup jarang mulai terbenam semakin jauh kami masuk kedalam gang. Udara serasa sesak di dalam sini.

“Mana mereka?” gumam Bathara setelah kami berbelok ke kanan di ujung gang tadi. Pemandangan di sini masih sama. Hanya saja memang gang ini sedikit lebih lega.

Bathara berhenti sebelum menatap arloji titanium –yang menurutku sudah ketinggalan jaman- yang melingkari pergelangan tangan kirinya. Tak lama kemudian dua sosok muncul dari arah yang berlawanan dari tempat kami tiba. Seorang pria berumur tiga puluhan dan seorang gadis remaja.

“Selamat malam semuanya. Maaf menunggu lama,” sapa si Pemuda begitu dirinya dan si gadis sampai di hadapan kami. Masih mempertahankan senyumnya, mata pria ini beralih dari Bathara ke arahku. “Jadi ini Raihan? Murid Tuan Bathara saat ini? Namaku Raka. Semoga nanti kita bisa bekerjasama dengan baik ya. Dan ngomong-ngomong, bagaimana rasanya belajar langsung dari Sang Ahli?”

Bathara terkekeh. “Sudahlah, jangan terlalu memuji.”

Setuju.

“Namun saya pikir anda memang pantas mendapatkannya. Mengingat prestasi-prestasi anda selama ini,” tambah Raka sambil merapikan syal motif garis-garis yang menggulung diatas kerah sweater hijau gelapnya. “Oh iya, hampir lupa. Kenalkan, ini Sechan. Dia dalam bimbingan saya saat ini.”

Yang dimaksud segera menyingkap tudung dari jaket warna merah marun yang ia kenakan. Cantik! Itu yang pertama kudapat dari menatap kedua mata cokelatnya yang sendu. Rambut hitamnya yang lurus sebahu sedikit menutupi wajahnya yang separuh menunduk. “Mohon kerjasamanya,” ujarnya tersipu. Dia kelihatan sangat pemalu.

“Karena semuanya sudah disini, langsung saja kita lakukan sesuai prosedur,” kata Bathara akhirnya. “Jadi, lebih condong kemana peran Sechan? Pedang? Perisai? atau pendukung?”

“Sama dengan saya. Dia nanti yang akan melempar ikatan pada target. Iya kan, Sechan?” kata Raka yang meringis pada muridnya. Sechan mengiyakan dengan lirih. “Bagaimana dengan Raihan?”

“Si Han muda disini ini pedang sepenuhnya. Memang dia berbakat, namun masih sedikit labil. Jadi dia akan bergerak di dekatku selalu.”

Kurang ajar. Kalau tidak ingat dia ini mentor-ku akan kutinju lehernya.

Selanjutnya, Raka memimpin kami bertiga menyusuri gang-gang diantara bangunan-bangunan berlantai banyak. Yap, Raka yang memimpin jalan untuk mencapai target. Si Tua Bathara mana mau repot-repot mengecek hal-hal semacam ini. Bahkan ia menyuruhku menyimpan lembaran misi yang diberikan atasan begitu ia menerimanya. Aku heran orang seperti dia bisa ditempeli Rahd sakti yang berumur ribuan tahun.

Rahd. Makhluk-makhluk ini datang dari dunia yang berbeda dengan kita. Namun oleh sebab tertentu yang terjadi berabad-abad lalu, dunia itu  kini cacat. Dengan teknologi yang dimilikinya, para Rahd bisa menemukan jalan menuju dunia kita.

Sejumlah Rahd yang menyaksikan betapa muda dan murninya dunia kita dibandingkan milik mereka mulai termotivasi untuk datang kemari. Demi kebaikan bagi semua, mereka membuat batasan pada masing-masing bahwa tiap Rahd hanya boleh memilih salah seorang manusia untuk menjadi inangnya, dan harus kembali ke dunia mereka begitu si manusia mati. Dan harus melalui proses yang-aku-tidak-tahu-bagaimana-dan-berapa-lama untuk kembali kesini. Ini karena Rahd tidak bisa mempertahankan wujudnya sendiri dengan sempurna. Tanpa inang, Rahd bisa merusak baik dirinya juga lingkungan tempat mereka berada.

Dua menit aku berjalan tepat di samping si gadis dalam diam. Sementara Raka di depan berceloteh tentang betapa kagumnya ia pada Bathara yang pernah berhasil membersihkan sebuah bunker bekas tentara Jepang penuh dengan Rahd seorang diri. Entah laki-laki ini memang tulus memuji atau hanya ingin mencari perhatian aku tak mengerti. Namun yang manapun dari keduanya, dia cukup berhasil menurutku.

“Di sini,” ujar Sechan lirih. Yang membuatku lumayan terkejut mengingat gadis ini dari tadi menutup rapat bibirnya.

Kuamati sekitarku. Gang tempat kami berada kali ini diapit oleh dua bangunan tinggi dengan balkoni-balkoni kecil dan tangga darurat. Selebihnya tidak berbeda dengan sang sudah-sudah.

Raka yang sepertinya sangat mengerti akan apa yang harus ia lakukan langsung maju selangkah dan menarik kedua lengan sweaternya sedikit. Dari balik saku jeans-nya, ia keluarkan sebuah pisau lipat berbahan perak dengan ukiran-ukiran lengkung dan tatahan permata hitam yang serasi. Setelah membisikkan sesuatu pada benda mati itu Raka menghempaskan telapak tangan kirinya yang bebas ke tanah.

Ah, aku mengerti. Perimeter. Kuliah dari Bathara entah-pertemuan-keberapa.

“Berapa jauh?” tanya Bathara.

“Sekitar seratus meter,” jawab Raka sambil kembali berdiri tegak. Aku mulai tidak nyaman dengan wajah ramahnya yang menurutku cuma dibuat-buat itu.

“Bagus sekali. Dengar itu, Han? Kita bebas gunakan kekuatan kita di tempat seluas itu.”

Iya iya aku tahu. Secara fisik perimeter ini seperti sebuah kubah raksasa kasat mata yang membuat dimensi tersendiri di dalamnya. Semua kerusakan yang mungkin akan kami buat di tempat ini tidak akan berpengaruh apa-apa di kenyataannya. Di lain kata, setelah kubah ini dihilangkan nanti, semuanya akan kembali ke semula. Kau bisa meruntuhkan gedung sekolah untuk melampiaskan amarahmu kalau kau mau.

Senyap. Yah tentu saja. Semua orang yang tidak membuat perjanjian dengan Rahd tidak bisa mengakses ruang di dalam kubah. Bagi mereka, kini kami seakan hilang dari dunia mereka. Dan begitu pula sebaliknya.

“Sechan?”

Mengerti apa yang dimaksudkan mentornya, si gadis mengangguk pelan. Sangat pelan hingga aku tak akan tahu jika saja tak mengamati wajahnya baik-baik. Oke. Aku sudah mengamati seluk beluk dirinya selama lima menit terakhir. Silahkan tertawa.

Detik selanjutnya Sechan meraih kerah jaketnya dan menggenggam keluar sebuah liontin dari kalung yang dari tadi menghiasi lehernya. Wujudnya berupa bola mutiara sebesar kelereng dengan binkai emas yang melingkarinya dengan elegan. Ah, jadi itu benda penghubung antara dia dengan Rahd-nya. Pilihan bagus.

“Raihan, apapun Rahd yang keluar nanti aku mau kau yang memberikan pukulan pertama,” kata Bathara lirih yang langsung mengalihkan perhatianku. Nada bicaranya jelas serius. “Tunjukkan hasil dari semua yang telah kuajarkan. Baru kau bisa pamer pada gadis itu.”

Aku mau saja mengangguk dan menyambut kata-katanya dengan tanggapan berapi-api, tapi kalimat terakhirnya ini lumayan mengganggu.

Sama seperti yang dilakukan Raka, Sechan membisikkan sesuatu ke liontinnya sebelum memasukkannya kembali ke balik jaket. Kemudian ia julurkan tangan kanannya ke depan dan menerawang udara kosong sementara kedua matanya terpejam.

Hingga akhirnya Sechan membuka mata tepat ketika telapak tangannya berhenti di satu titik. Baik aku dan Bathara segera mengambil posisi di belakang Sechan dan mendapati tangan si gadis menghadap ke atap bangunan lantai tiga yang terletak di satu sisi gang tempat kami berada. Aku bisa lihat bahwa Sechan tak merasa nyaman dengan kami berdua yang bernafas di punggungnya.

“Ah, jadi dia di atas sana,” ujar Raka berseri-seri. “Mari kirim Rahd yang telah kehilangan inangnya itu kembali ke tempat yang seharusnya.”

Merasa saatnya hampir tiba, Sechan mengangguk sebelum kemudian mengepalkan jari-jarinya yang tadi masih terulur. Ah, tidak. Tepatnya menggenggam. Dari yang kulihat, tangan Sechan seakan-akan sedang menggenggam seutas tali. Tali kasat mata yang berujung tepat di atas gedung tempat si target diperkirakan berada.

“Semuanya siap?” kata Sechan lirih sambil menoleh padaku dan Bathara satu persatu yang kini berada di kanan dan kirinya. Kami berdua mengangguk bersamaan.

Di seberang sana, Bathara menggenggam arlojinya yang tak lain adalah penghubung antara dirinya dengan Rahdnya. Sementara aku segera memastikan sebuah cincin perak polos yang melingkari jari manis tangan kananku masih ada pada tempatnya.

Sechan menarik napas panjang sebelum dengan pijakan mantap ke tanah tempatnya berdiri menarik genggamannya ke belakang dengan bobot tubuhnya. Semburat cahaya biru yang dingin mengalir dari tangan sechan dan menluncur sepanjang tali yang kasat mata tadi hingga ke atas gedung. Tali yang tadinya tak berwujud itu pun kini tampak menjadi rajutan benang-benang biru menyala yang memanjang dari tangan ke gadis hingga ke-

Apa itu?

Biarpun tertimpa oleh pendaran dari rajutan-rajutan benang biru menyala yang mengikatnya, makhluk itu hanya berupa siluet saja dari tempatku berada. Aku baru mau bertanya pada Bathara namun yang terjadi selanjutnya menahan seluruh kata-kataku.

Jeritan Sechan membuat dadaku sesak seiiring dengan tubuhnya yang tertarik keatas gedung lantai tiga itu. Bathara, telah memicu pertaliannya dengan Rahd yang mendampinginya memijak tanah dengan keras dan melontarkan tubuhnya keatas dengan hentakan yang mengagumkan. Aku bisa melihat bekas sepatu kulitnya yang membekas ke tanah sebelum menyaksikan sosoknya menghilang di balik atap gedung.

Tak bisa melakukan hal yang sama, aku langsung berlari menuju pintu belakang gedung yang berada tak jauh dari tempatku berada. Sial! Kenapa jadi begini?

“Atas nama pertalian seumur hidup, ulurkan tanganmu padaku!” kata-kata ini kuselesaikan tepat tiga meter sebelum aku mencapai pintu kembar dengan kenop berkarat itu. Bisa kurasakan sensasi kejut yang singkat pada jari manis tangan kananku yang menjalar dan pergi secepat angin hingga ke seluruh tubuhku.

Dengan kedua telapak tanganku, kuhempaskan kedua pintu tadi hingga lepas dari engselnya. Suara bising menggema ke tiap sudut ruangan di dalamnya saat salah satu pintu terlempar dan menghantam tembok di sisi lain, sementara pintu yang satu lagi tergantung miring pada engselnya yang tersisa.

Kususuri lorong belakang apartemen yang kini kosong itu dan tak butuh waktu lama hingga kutemukan tangga menuju lantai atas. Entah harga diri atau rasa peduliku pada si gadis yang mendorong diriku melakukan ini semua. Namun, biarpun Rahd yang kami hadapi ini termasuk golongan yang jauh dari bisa dikatakan lemah, paling tidak Bathara ada bersama kami. Dengan kehadirannya tak ada yang perlu kami khawatirkan. Iya kan?

Harapanku langsung luntur begitu aku menjeblak pintu yang menghubungkan atap dengan tangga hingga lepas.

Tidak mungkin. Bathara terkulai tak bergerak di tengah-tengah atap gedung yang datar itu. Sementara Sechan tak bisa kutemukan dimanapun. Satu-satunya yang bisa kulihat adalah sesosok wanita yang bisa kupastikan adalah target kami berdiri di samping tubuh Bathara. Rambutnya yang panjang berkibar ditiup angin. Sementara sebelah tangannya merah bersimbah darah.

Kepanikan yang menjalari tubuhku langsung menggiringku mundur untuk kembali menyusuri tangga. Tunggu! Apa ini? Kemana tangganya? Aku tak bisa menemukan satu pun anak tangga yang seharusnya ada tepat di depan mataku. Tembok dan atap yang meliputi anak-anak tangga itu pun tak bisa kutemukan. Apapun yang tadinya ada dibalik bingkai pintu itu seakan-akan hilang dan digantikan kegelapan pekat yang tak berujung.

Sial. Apa yang terjadi?

Ketika kubalikkan tubuhku untuk mencari jalan lain di sekitar atap, jantungku seakan-akan melewatkan satu detakkan ketika kudapati wajah pucat wanita itu menyeringai sejengkal dari wajahku. Tangannya yang putih pucat bersimbah darah segar segera mendorongku jatuh ke kegelapan.

Cahaya dari luar bingkai pintu itu menjauh seiiring semakin dalam aku jatuh. Hingga akhirnya tak menyisakan apapun.

Gelap.

Dari lamanya aku terjatuh, seharusnya punggungku sudah menghantam tanah dan remuk bersama tulang tengkorakku. Tapi ini… sungguh perasaan yang aneh. Tak ada suara. Bahkan angin yang seharusnya menerpa tubuhku pun tak dapat kurasakan.

Apa ini?

Dimana ini? Apa aku tak lagi hidup?

Aku menjerit tertahan ketika aku merasakan benturan di dahiku. Namun sensasi jatuh di kegelapan ini masih belum menghilang.

Ingin rasanya aku menjerit sejadinya dan meminta tolong namun lagi-lagi dahiku mendapat sensasi benturan yang sama. Seperti seseorang menghantamnya dengan ensiklopedia beribu halaman. Hingga pada benturan ketiga yang sukses membuat kepalaku pusing, aku bisa merasakan sebuah telapak tangan merenggut bahu kananku dan menarik seluruh tubuhku.

Yang kudapati selanjutnya aku telah terjatuh bergulung-gulung di tangga dan baru berhenti begitu mencapai lantai.

Lantai?

“Maaf, maaf. Semoga kau tak trauma di kepala,” sebuah suara familiar yang membuatku ingin meneteskan air mata. “Makhluk tadi mencoba memainkan triknya dengan isi kepalamu. Beruntung aku bisa memukulnya kembali ke dunia asalnya. Namun pengaruhnya pada pikiranmu lumayan kuat. Kau harus lebih hati-hati lagi besok!”

Bathara berjalan menuruni tangga dengan senyuman pada wajah paruh bayanya yang ramah. Tangan kanannya melempar kenop pintu yang sepertinya ia gunakan untuk memukul-mukul tulang tengkorakku tadi. Ia terlihat sangat sehat. Di belakangnya bisa kulihat bingkai pintu yang menghubungkan ruangan ini dengan atap gedung.

“Wajar jika kau bingung. Mengacaukan pikiran kita adalah langkah pertahanan pertama bagi Rahd sebelum kontak fisik. Sepertinya ia berniat untuk menyerangku tadinya.”

Benar. Rahd punya bakat untuk mempermainkan pikiran kita.

Indera-inderaku yang mulai pulih menyadarkanku pada satu hal. “Sechan! Dimana dia?”

“Dia tak akan pulang bersama kita,” ujar Bathara datar tiba-tiba.

Aku tak melanjutkan pertanyaanku. Selain karena wajah bathara yang berubah dingin, juga karena dirinya yang langsung mengajakku pergi meninggalkan apartemen tingkat tiga itu melalui pintu depan.

Mengapa pintu depan? Bathara tak memberiku kesempatan bertanya lebih jauh karena ia langsung menjelaskan bahwa prosedur selanjutnya ialah untuk mengeluarkanku (yang masih berstatus murid ini) dari perimeter yang juga berfungsi sebagai pembatas ruang gerak bagi para Rahd yang terperangkap di dalamnya. Ada kemungkinan Rahd lain berkeliaran di tempat ini pikir Bathara.

Hingga setelah berlari di atas aspal untuk beberapa saat kami sampai ke salah satu sisi ujung perimeter yang teletak di sebuah alun-alun. Tampak semacam kaca biru membatasi tempat ini dengan dunia di luar yang penuh dengan manusia.

Sekali lagi sensasi benturan kurasakan di kepalaku. Aku menoleh penuh emosi secara reflek ke arah Bathara yang sepertinya berhasil berhenti di saat terakhir.

Apa ini? kami tak bisa melewati batas perimeternya!

“Dugaanku benar,” desis Bathara. “Ini bukan perimeter biasa. Perimeter biasa tak akan menahan kita untuk keluar.”

Paling tidak dia bisa memperingatkanku terlebih dulu kan?

“Bukankah yang membuat perimeter ini tak lain adalah…,” aku mulai mengerti ketika laki-laki itu mendekat dari kejauhan.

Senyum yang dari tadi ia pamerkan masih melingkupi wajahnya. Namun kali ini bisa kurasakan aura mengancam keluar dari sekujur tubuhnya. Tangan kirinya menggenggam sebuah boneka beruang yang sudah rusak.

“Dimana Sechan?” teriakku pada penyebab semua ini.

“Sechan sudah tak ada lagi bersama kita,” sahut Bathara. “Atau memang sudah begitu sebelumnya.”

Raka tertawa ringan. “Benar. Sechan adalah Rahd yang seharusnya menjadi target misi ini. Ia mengambil sosok inangnya yang telah tiada. Tenang. Dia sudah mati dari dulu kalau boleh kutambahkan. Kalian tahu, butuh waktu lama bagiku untuk mengambil kendalinya dan mempersiapkan sebuah sekenario. Mengagumkan, Tuan Bathara. Reputasimu memang terbukti. Aku tak membutuhkan ini lagi.” Raka menunduk hormat sebelum melempar boneka tadi dari tangannya.

“Maaf tapi anda harus dilenyapkan. Saya sudah disumpah untuk berhasil.”

Yang terjadi selanjutnya lumayan singkat. Raka menjulurkan tangannya kesamping sebelum membentangkannya dengan cepat kedepan. Mengirim sebuah tampat sampah seukuran sedan yang berada di samping restoran siap saji melayang mengerikan kearahku. Bisa kulihat Bathara yang bergerak cepat dari sisiku memberi tendangan telak pada tempat sampah berbobot ratusan kilo itu ke sisi lain hingga berputar-putar liar di aspal sebelum menghancurkan tembok ruko terdekat.

S-sial. Aku gemetar barusan.

Raka yang ternyata menggunakan momentum barusan untuk berlari ke arahku mengeluarkan pisau lipatnya dan mengayunkannya dengan sasaran leherku. Meleset! Aku mati-matian mengelak ke samping dan berguling di atas aspal.

Tak kupedulikan rasa perih di telapak dangan dan lututku yang tergores. Raka yang berusaha mengantarkan serangan kedua berhenti di tengah jalan karena Bathara menarik syal beserta kerah sweater yang dikenakannya hingga ia jatuh dengan keras.

Bisa kulihat Bathara menepuk dahi Raka sebelum laki-laki berbahaya itu memutar tubuhnya dan bangkit berdiri. Bathara tak mau memberinya kesempatan bernapas. Dengan sebelah lututnya, ia memberi hantaman telak ke pipi Raka yang kini lari sempoyongan kebelakang.

“Nyaris ha?” teriak Raka yang raut wajahnya sudah jauh dari kalem.

“Selesai.”

Baik diriku dan Raka terbelalak walau dengan sebab yang berbeda.

Raka mengelus dahinya yang kini ditorehi dengan sebuah aksara asing yang melingkar. Seketika kedua tangannya terkulai lemas. Wajahnya kembali tenang. Tidak. Bukan tenang. Tatapan itu lebih seperti tatapan putus asa.

“Sial,” umpat Raka merana. “Tuan Bathara yang melegenda. Pemilik Rahd berumur ribuan tahun. Yang bisa berperan sebagai pedang, perisai dan rantai dengan setara.”

Empat pasang pedang terbuat dari cahaya keemasan turun dari langit dan menghujam tanah di sekeliling Raka dengan debaman keras. Memenjarakannya.

“Orang sepertimu tak pantas berada di dunia ini. Segel ini akan memisahkanmu dengan Rahd-mu. Mengambil seluruh kekuatanmu. Dan akhirnya-”

“Mengirimku ke dunia mereka. Aku tahu. Aku tak akan bertahan lama di dunia yang telah sekarat itu.” Ditengah keputus asaannya Raka masih bisa melepaskan senyuman. “Tapi jangan lupa. Orang-orang sepertiku tidaklah sedikit. Mereka akan berusaha mencekik kalian di setiap tikungan.”

“Akan kukirim mereka satu-persatu untuk menyusulmu!”

Raka menghela nafas. “Mungkin jika lebih banyak Rahd yang kuat di pihak kalian maka…” Raka berhenti sejenak sebelum menatapku dan memasang raut muka paham. “Aku mengerti. Anak ini akan jadi sehebat anda suatu hari, bukan begitu?”

“Aku tak mau melatih seseorang jika dia tak kelewat potensial tahu.” Ini pertama kalinya aku mendengar Bathara amat memujiku. Dari tatapan matanya aku berani taruhan bahwa ia sungguh-sungguh!

Setelah kalimat terakhir itu empat pasang pedang tadi memendar amat terang. Lebih terang dari sebelumnya hingga aku harus menutupi wajah dengan tanganku. Sampai pada titik tertentu pedang-pedang itu lenyap bersama Raka.

Tabir pelindung yang memerangkap kami berdua pun sirna. Suara-suara hembusan angin, kendaraan-kendaran lalu lalang, dan jangkrik diantara semak-semak langsung menggelitik indera pendengaranku.

Kami bebas.

Bathara mengambil boneka beruang yang tergeletak di aspal. Lalu mengamatinya dengan seksama. “Beberapa Rahd, karena alasan tertentu bisa terikat secara emosional dengan inangnya. Jika itu terjadi, mereka akan berusaha entah bagaimana menjaga inangnya selama hidupnya. Dan terkadang menetap dalam kurun waktu tertentu di dunia ini melalui kenangan-kenangan dari sang inang yang telah tiada. Sejumlah pembelot memanfaatkan hal ini untuk kepentingan mereka.”

“Tapi itu tugas kita kan untuk meluruskan segalanya?”

Bathara tersenyum hangat sesaat. Kupikir ia akan melunak padaku seiring berjalannya waktu.

“Makan malam kali ini dari dompetmu! Adalah sebuah keteledoran hingga gadis itu bisa mengalihkan perhatianmu dan membuatmu terjebak seperti tadi. Kau harus kuhukum karena tak bisa mengontrol hormon testosteron-mu yang meluap-luap.”

Aku memang naif!

Lagi pula dia sendiri juga kan yang memakan pujian laki-laki sinting itu mentah-mentah?

Ah sudahlah. Aku lega segalanya berakhir. Paling tidak Bathara selalu ada tiap kali aku mengalami pengalaman-nyaris-mati. Terlebih lagi ia adalah mentorku. Dan aku adalah muridnya yang potensial. Heh, entah mengapa aku jadi menyukai kata itu. Mentraktirnya kali ini mungkin bukan ide yang buruk kan?

“Apa boleh buat.”

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Rahd

  1. makkie says:

    mengamankan pertamax sebelum solar dan premium abis…

  2. Johan Padmamuka says:

    Sudah baca di K.com :D

    Komentarku juga masih sama, tentang motif Raka yang tiba-tiba membelot (juga menjadikan RAHD Sechan sebagai alat). Juga perlu penjelasan lebih jauh tentang pedang, rantai dan perisai. Lalu, yang agak membingungkan itu jurus terakhir Bathara… Memisahkan RAHD dan mengirim Raka ke dunia RAHD? Is that bad?

    Maaf, kalau kurang berkenan

    • Johan Padmamuka says:

      Numpang promosi: AYO KUNJUNGI LAPAK NO. 59!

    • Ragna_FMA says:

      sebelumnya, terima kasih atas kedatangannya. :D
      dan ya, saya akui memang banyak detil2 yang saya lewatkan. my bad, ceritanya saya buat mepet deadline, jadinya nggak ada banyak waktu buat cari proof reader. hehe

      motif Raka memang fatal sekali tidak tersampaikan. huhu. singkatnya dia ini ada di kubu yang berbeda dengan Bathara dan Raihan. dia ini semacam penyusup. begitu.
      masalah pedang, perisai, dan rantai itu seperti peran dalam formasi tempur. seperti penyerang, back, keeper di permainan sepakbola.
      untuk jurus Bathara memang iya. itu sangat buruk. (lagi2 saya gagal menyampaikan detilnya) Rahd yang ada di dunia kita bisa bertahan hidup tanpa membuat kerusakan bagi dirinya dan tempat di sekitarnya dikarenakan ia memiliki inang sebagai semacam ‘avatar’ (punyanya Om Cameron, bukan yg botak itu lho). jadi bisa dibilang kalau kita dilempar begitu saja ke dunia mereka tanpa Rahd sebagai inang kita disana, efeknya akan sama.^^

      semoga sedikit memberi pencerahan ya. dan iya, segera saya meluncur ke lapak kk. yosh!

  3. Adham117 says:

    Sudah pernah saya komen di kcom ya. Saya ulang lagi deh :D

    Ini cerita berpotensi jadi novel yang action-y, sharp, and sexy. Like it!

    3.5/5

  4. Voxa says:

    Uhmm..
    Mulai darimana ya? Uhmm..
    Baiklah, mungkin pertama aku harus bilang aku lumayan bingung mencerna masalah Rahd-nya, gak tau karena penjelasannya yang kurang atau aku nya yang kurang pinter jadi gak nanggep, yang ku dapet cuma ada satu bangsa namanya Rahd yang berkolab dg manusia. Terus ada yang nyimpang dan alsan nimpang nya itu kenapa aku gak ngerti.–a

    Waktu adegan perkelahiannya aku lumayan mudah berinteraksi dengan imajanisaiku, so anda sukses membuat saya membaca sekaligus menghayal.
    XD
    #plaakk

    Cuma anehnya Rahd si Bathara yang ada di benakku kok malah dementornya si Herpot yak? Fufufufu..
    XDd

    • Ragna_FMA says:

      gomenasai. ketidak jelasan plot memang kesalahan fatal dari saya. mohon maaf.^^

      dementor ya…? ahaha, padahal saya nggak make sipir azkaban buat referensi loh. hehe. trimakasih utk kedatangannya ya..

  5. Atla Rhat says:

    hai tetangga..maav baru brkunjung..

    ide ttg rahd hmpr sama kyk ceritaku lho..
    tapi punyaku demidemon..
    *mampir ke sebelah ya klo smpet :D

    btw bnyak yg gk aq mngerti..
    jahatnya raka tuh knpa sih?
    trus stlh sechan ma raka mati, mrka ninggalin sbuah boneka?? ni apa mksdnya?

    penamaan kyknya gk seimbang ya..?
    bathara: india hindu
    sechan: jepang
    raka: indonesia gaul
    raihan : indonesia religi
    maav ya klo aq ngelantur -,-

    sekian.
    met kenal ya :)

  6. Connie says:

    waaaaahhh…perimeter ini kek ada di komik karya clamp judulnya X, kerennnnnnn… apa kamu terinspirasi dari itu??? :) ceritanya unik, tp rada gaje tentang raka ma sechan…hahha… no big deal, tetep enjoy, saya suka :)

  7. Jovyanca says:

    Halo, Blood Raven ^^ ‘Lam kenal.

    Ini seru! :D Narasinya juga okay. Karakter tokoh2nya berasa banget. And saia suka jalan ceritanya. Actionnya keren. gOOd jOb~ b^^

    (Jadi inget manga2 favourite saia: Shin Angyo Onshi and Kekkaishi ^^)

    Cuman kurang jelas dari segi asal usulnya. Banyak detail yang perlu ditambahkan biar bisa lebi dinikmati. Membaca ini seperti membaca potongan dari sebuah cerita panjang. Jadi serasa pengen baca “Bab 1”nya buat ngingatin kembali dan melanjutkan menyimak petualangan Raihan dan Sang Mentor dengan para Rahd di “bab2 berikut”. :)

    Anyway. Sukses and semangatttt! :D

  8. Hai salam kenal ya :D

    Sebenernya kebingungan utama gw pas baca cerita ini ada di motif raka yang mendadak membelot. Waktu dari situ entah kenapa gw agak lost baca ceritanya. Well, gw sudah liat komentar sebelumnya jadi udah lumayan ngerti kenapa dia membelot.

    Meskipun begitu, idenya seru kok. Potensinya tinggi untuk jadi novel. Haha. Btw perimeter itu justru mengingatkan gw sama anime yang judulnya shakugan no shana.

    Btw, kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya :D Makasih.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>