Sang Pencuri Permata Es Abadi dan Roh Salju

SANG PENCURI PERMATA ES ABADI DAN ROH SALJU

karya Hatzka

Dahulu, negeri Lier adalah sebuah negeri yang sangat panas dan hanya memiliki satu musim yaitu musim panas. Tidak ada musim dingin di negeri itu. Hujan pun jarang turun sehingga tanah menjadi kering dan tumbuhan layu.

Lalu pada suatu hari, Roh Salju datang ke negeri itu. Dilihatnya tanah yang kering dan tumbuhan yang layu kekurangan air. Dirasakannya udara yang teramat panas hingga nyaris melelehkan pakaiannya yang terbuat dari es. Dalam hati, ia merasa kasihan pada mereka.

Maka ia memutuskan untuk membawa sedikit musim dingin kepada mereka. Dikibaskannya tangannya dan udara yang panas berubah menjadi sejuk. Diangkatnya kedua tangannya ke atas dan hujan salju yang pertama di negeri itu pun turun.

Para penduduk yang menyaksikan hal itu bersukacita dan meminta Roh Salju untuk tinggal di negeri mereka. Roh Salju yang tidak pernah punya tempat tinggal tetap setuju untuk tinggal di negeri ini dan menjadi Roh pelindung negeri Lier.

Negeri Lier kini menjadi lebih baik dari sebelumnya. Cuaca panas berubah sejuk dan salju yang turun menjadi sumber air bagi mereka. Para penduduk pun makin memuja kekuatan sang Roh Salju.

Namun ada seseorang yang tidak menyukai sang Roh Salju. Namanya adalah Aerden. Ia adalah satu-satunya penyihir di negeri. Para penduduk sering meminta bantuannya namun setelah kedatangan Roh Salju, sihirnya menjadi tidak berguna dan ia mulai dilupakan.

Aerden juga adalah satu-satunya yang mengetahui tentang keberadaan Permata Es Abadi yang menyimpan setengah kekuatan dan jiwa sang Roh Salju. Karena rasa iri hati dan haus akan kekuatan yang lebih, Aerden memutuskan untuk mencurinya.

Maka di sinilah ia berada, di dalam Istana Es yang merupakan tempat tinggal sang Roh Salju. Ia membuat dirinya tidak terlihat dengan sihirnya sehingga memudahkannya untuk menyelinap masuk tanpa diketahui siapapun. Walaupun begitu, mencari Permata Es Abadi tetap saja sulit. Setelah beberapa lama ia mulai merasakan tubuhnya menggigil kedinginan.

Seperti namanya, Istana Es seluruhnya terbuat dari es. Dindingnya, lantai, perabotan di dalamnya, semua terbuat dari es. Bahkan para penjaganya adalah patung-patung es yang digerakkan dengan sihir.

Dari jauh Aerden menatap dua buah daun pintu besar yang terbuat dari es. Ada hawa dingin yang menusuk tulang berhembus dari celah-celahnya. Itulah kamar pribadi sang Roh Salju, ruangan yang sejak tadi ia cari.

Aerden tersenyum lebar. Berusaha untuk tidak menimbulkan suara, ia membuka pintu itu dan memasuki kamar sang Roh Salju.

Sang Roh Salju tampak tertidur di tempat tidur di tengah ruangan. Seuntai kalung melingkari lehernya dan yang menjadi bandulnya adalah sebuah permata biru berukuran kecil. Permata Es Abadi.

Aerden menarik napas, menenangkan dirinya. Matanya terpaku pada permata tersebut. Hanya beberapa langkah dan permata itu akan ada di genggamannya.

Dengan hati-hati ia mendekati tempat tidur itu. Diperkuatnya sihirnya sehingga keberadaannya makin tak terasa.

Namun saat ia mendekat, mulai timbul keraguannya. Permata Es Abadi menyimpan setengah kekuatan dan jiwa sang Roh Salju. Jika itu diambil, kekuatannya akan melemah dan memperpendek jangka hidupnya. Apa yang akan terjadi pada negeri Lier?

Di dalam kebingungannya Aerden menatap sosok sang Roh Salju yang tertidur dan menyadari bahwa mungkin ini adalah pertama kalinya ia melihat sosoknya dari dekat. Wujud sang Roh Salju sangat berbeda dari yang ia bayangkan selama ini.

Sebenarnya tidak pernah ada orang yang tahu pasti wujud asli sang Roh Salju sehingga menjadikannya yang pertama. Di depannya adalah seorang pemuda. Rambutnya putih panjang dan agak acak-acakan. Pakaiannya menyerupai baju zirah dan terlihat seperti dibuat oleh serpihan-serpihan es halus.

Pendaran dari permata di leher pemuda itu menyentaknya. Ah, ya, ia ke sini untuk mengambil Permata Es Abadi, bukan untuk mengetahui wujud asli sang Roh Salju. Gemetar, ia menjulurkan tangannya hingga jemarinya menyentuh permukaan dingin permata itu. Tangan satunya lagi memutus rantai kalungnya.

Seluruh tubuh Aerden kini bergetar hebat dari ketakutan dan kegembiraan. Permata Es Abadi telah berada di genggamannya. Dengan perasaan yang meluap-luap ia membalikkan badan dan berlari keluar. Sihirnya yang telah diperkuat membuat langkah kakinya tidak menimbulkan suara. Saat ini ia sudah melupakan apa yang akan terjadi pada negeri Lier jika kekuatan sang Roh Salju melemah.

Namun baru beberapa langkah keluar, terdengar suara raungan yang menggelegar. Seluruh Istana Es bergoncang hebat. Kedua daun pintu ruangan sang Roh Salju terlepas dari engselnya dan hancur menghantam dinding istana. Di ambang pintu tampak seorang pemuda berambut putih panjang yang tampak amat murka.

“PENCURI!” geram sang Roh Salju. Suaranya mirip geraman binatang buas.

Aerden bergetar hebat, kali ini dari ketakutan. Ia menggenggam Permata Es Abadi dengan kedua tangannya erat-erat dan mulai melangkah mundur. Dalam hati ia berharap sihirnya masih dapat menyelubungi keberadaannya.

Mata biru dingin sang Roh Salju menatap tajam padanya. Aerden menyadari bahwa ia sudah ketahuan. Walaupun begitu ia tetap menolak menyerahkan permata biru itu.

Sang Roh Salju berjalan menujunya. Langkah-langkahnya menimbulkan getaran pada Istana Es. Ia berhenti tepat di depan Aerden, menatap tajam padanya.

Aerden mundur selangkah dan sang Roh Salju maju selangkah. Begitu terus hingga akhirnya punggung Aerden menabrak tembok es dan tidak memungkinkannya untuk mundur lagi.

Sang Roh Salju menggeram, “Kembalikan Permata Es Abadi padaku dan kau akan kubiarkan pergi dari tempat ini hidup-hidup.”

Aerden tidak menjawab. Ditatapnya permata biru di telapak tangannya lalu sang Roh Salju yang tampak marah di depannya. Apakah ia akan mengembalikan Permata Es Abadi yang sudah ada di genggamannya?

Tidak akan.

Aerden sadar bahwa ia sudah terpojok, maka ia melakukan satu-satunya hal yang terlintas di pikirannya. Menutup matanya, ia menaruh permata biru itu di dalam mulutnya dan menelannya. Seketika itu rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya.

“GRRRRRRRRAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!!” terdengar suara raungan menggelegar yang menggetarkan seluruh istana.

Aerden memberanikan diri untuk membuka matanya. Pemuda yang tadi ada di hadapannya telah digantikan oleh seekor serigala besar berbulu putih yang punggungnya mencapai langit-langit istana, berkepala tiga dan berekor tujuh.

Serigala tersebut menggeram marah. Ia mengayunkan cakarnya namun Aerden dengan menghindar. Dengan kekuatan sang Roh Salju yang kini telah bersatu dengan kekuatannya sendiri, ia menyerang balik.

Sang Roh Salju kini benar-benar murka. Ia menyerang Aerden dengan segenap kekuatannya. Diayunkannya cakarnya ke segala arah dan diserangnya pemuda itu dengan jarum-jarum es. Tidak dipedulikannya Istana Es yang kini sudah hancur setengahnya.

Kurang ajar! Berani-beraninya kau mencuri Permata Es Abadi-ku!

Ia membekukan napasnya, membentuknya menjadi pedang-pedang es dan melontarkannya pada pemuda itu.

Jangan harap kau bisa pergi dari sini hidup-hidup!

Ia mengayunkan cakarnya, berusaha menebas pemuda itu.

Kemana dia? Jangan harap kau bisa bersembunyi dariku!

Sang Roh Salju mengedarkan pandangannya pada reruntuhan Istana Es, berusaha mencari sosok pemuda itu, namun ia tidak dapat menemukannya. Menyadari bahwa Aerden telah melarikan diri, serigala besar itu melolong marah.

Tidak akan kubiarkan dia meninggalkan negeri ini!

Serigala itu berlari meninggalkan istananya yang kini tinggal kepingan-kepingan es menuju perbatasan. Badai salju menemani langkahnya dan udara makin lama makin dingin.

Ia berjalan menyusuri perbatasan negeri Lier dan tembok-tembok salju yang begitu kokoh hingga mustahil untuk diruntuhkan oleh manusia pun tercipta. Negeri Lier menjadi terkurung dan hubungan dengan dunia luar terputus.

Tetapi sang Roh Salju tidak puas hanya dengan itu saja. Murkanya sudah memuncak dan karena Aerden telah menghilang tanpa jejak, ia melampiaskannya pada seluruh penduduk negeri Lier.

Akibatnya negeri Lier menjadi negeri terdingin sama seperti sebelumnya negeri itu adalah negeri terpanas. Badai salju terjadi setiap hari dan tanah selalu ditutupi lapisan es tebal, membuat bercocok tanam menjadi mustahil. Negeri Lier kembali menderita.

Namun sang Roh Salju masih memberi para penduduk kesempatan. Katanya, “Kembalikan Permata Es Abadi-ku dan aku akan menghentikan semua ini.”

[X]

Dua puluh tahun berlalu sejak kejadian itu. Sudah banyak penduduk yang berusaha mencari permata itu namun semuanya kembali dengan tangan hampa. Permata itu seperti hilang ditelan bumi. Dan karena tidak ada satu pun yang berhasil, musim dingin terus terjadi.

Penduduk negeri Lier menjadi sangat menderita. Panen selalu gagal. Banyak dari mereka yang jatuh sakit dan meninggal karena tidak tahan pada udara yang begitu dingin menusuk tulang. Selain itu tembok es yang mengelilingi negeri mereka membuat meminta bantuan negeri lain menjadi mustahil.

Banyak dari mereka yang menyerah, namun masih ada sebagian yang tetap bertekad kuat untuk menemukan permata itu dan mengakhiri semua ini. Cazar adalah salah satu dari mereka yang belum menyerah. Alasan mengapa ia ingin menemukan permata itu sederhana : ia ingin tembok es yang mengelilingi negeri Lier musnah agar ia dapat pergi ke negeri tetangga untuk membeli obat bagi ayahnya yang sakit keras.

Seperti para penduduk lainnya, setiap hari Cazar pergi ke hutan untuk mencari bahan makanan. Sang Roh Salju rupanya masih berbaik hati untuk tidak memusnahkan seluruh sumber makanan. Di hutan, banyak tumbuh-tumbuhan yang bertahan hidup, menjadikannya sebagai satu-satunya sumber makanan bagi para penduduk negeri Lier. Di hutan pula Cazar menemukan petunjuk pertamanya tentang keberadaan Permata Es Abadi yang hilang.

[X]

Cazar menatap sekelilingnya. Ia yakin kalau ia tersesat. Ia tidak mengenali pepohonan yang mengelilinginya, tidak juga danau beku luas yang terbentang di hadapannya. Ditambah lagi saat itu sudah gelap sehingga makin menyulitkannya mengenali sekelilingnya.

“Tersesat?” sebuah suara bertanya.

Cazar menoleh. Dicabutnya kedua pisau berburunya yang selalu ada di sisi pinggangnya.

“Siapa kau?!” serunya.

Seekor serigala berbulu putih menampakkan dirinya dari balik pepohonan. “Tersesat?” ulangnya.

Cazar menatap serigala itu, terkejut melihat seekor serigala dapat berbicara.

“Kudengar ada seorang pemuda yang bertekad kuat untuk menemukan Permata Es Abadi milikku.” Serigala itu menatap Cazar dengan mata biru dinginnya.

Permata Es Abadi miliknya? Jangan-jangan ia adalah—

“Ya, aku adalah sang Roh Salju,” serigala itu berkata seolah ia tahu apa yang dipikirkan Cazar.

Tidak mempedulikan Cazar yang terkejut, ia melanjutkan, “Seorang penyihir bernama Aerden mencuri permata itu dua puluh tahun yang lalu. Jika kau dapat membawanya ke Istana Es milikku yang terletak di seberang danau ini, negeri Lier akan kubebaskan dari musim dingin yang berkepanjangan ini.”

Setelah selesai berkata, serigala itu membalikkan badannya dan berlari melintasi danau beku menuju sebuah istana yang seluruhnya terbuat dari es namun tertutup oleh kabut tebal sehingga nyaris tidak kelihatan.

[X]

Pada pagi harinya Cazar ditemukan oleh seorang penduduk yang sedang mencari bahan makanan. Setelah menjelaskan dirinya yang tersesat semalaman di hutan, si penduduk setuju mengantarkan Cazar pulang.

“Apakah Bapak tahu mengenai seorang penyihir bernama Aerden?” tanya Cazar saat mereka berjalan.

Bapak tua itu mengangguk. “Ya, tentu saja. Semua yang pernah hidup di saat sang Roh Salju belum datang pasti mengenalnya. Kami sering meminta bantuannya.”

Raut wajah Cazar berubah serius. “Apakah Bapak tahu dimana ia berada sekarang?”

Bapak tua itu menggelengkan kepalanya. “Ia menghilang dua puluh tahun yang lalu, sama seperti Permata Es Abadi milik sang Roh Salju.”

“Ah, jadi begitu. Pantas aku tidak pernah tahu tentangnya,” kata Cazar kecewa.

Bapak tua itu tampak berpikir.

“Tetapi kemarin aku sempat menemui seseorang yang amat mirip dengannya. Mata coklat dan rambut coklat pendek yang sama. Hanya saja ia lebih muda. Saat aku panggil, ia menanyakan letak Istana Es dan saat aku jawab kalau aku tidak tahu, ia langsung menghilang begitu saja. Menurutmu dia ada hubungannya dengan Aerden?”

Harapan Cazar tumbuh kembali. Ia bertanya dengan antusias,” Benarkah? Dimana Bapak melihatnya? Apakah ia penduduk Lier juga?”

“Kurasa bukan. Aku sudah mengelilingi seluruh negeri ini namun aku tak pernah menjumpainya. Kalaupun aku pernah bertemu dengannya, aku pasti akan mengingatnya. Tidak setiap hari kau berjumpa dengan seseorang mirip sekali dengan Aerden.”

Lier adalah sebuah negeri yang kecil, mungkin hanya sepertiga ukuran kota terbesar di negeri tetangga. Penduduknya saling mengenal satu sama lain sehingga orang asing mudah dikenali.

“Dimana kau melihatnya?” tanya Cazar lagi. Ia sangat penasaran dengan orang asing itu. Tidak ada orang yang dapat keluar-masuk Lier setelah tembok es itu ada.

Kecuali jika mempunyai Permata Es Abadi.

Mungkinkah orang asing itu mempunyainya? Batin Cazar bertanya-tanya.

“Jauh di sana.” Bapak tua itu menunjuk ke belakang. “Di tepi danau, dekat tempat aku menemukanmu tadi.”

“Kalau begitu, tolong sampaikan pada ayahku kalau aku hendak mencari permata itu. Terima kasih sudah memberi tahuku.”

Setelah itu Cazar membalikkan tubuhnya dan berlari masuk lebih jauh ke dalam hutan, meninggalkan bapak tua itu.

[X]

Ia sudah dekat. Danau beku sudah tampak di pandangannya. Hanya beberapa langkah lagi dan ia akan tiba di tepinya. Dari kejauhan, dinding-dinding Istana Es juga mulai terlihat.

Namun mendadak angin kencang bertiup, mendorong Cazar hingga ia terjatuh. Hujan salju yang mendadak menjadi lebat menghalangi pandangannya.

Sial! Pikir Cazar. Matanya memicing dan tangannya terangkat melindungi wajahnya. Badai salju!

Namun mendadak angin kencang berhenti bertiup dan salju berhenti turun. Penasaran, Cazar menurunkan tangannya dan membuka matanya. Tampak olehnya seorang pemuda berambut coklat pendek dan berjubah membelakanginya.

“Kau tidak apa-apa?” Pemuda itu menoleh. Mata coklatnya memandang Cazar khawatir.

Cazar bangkit berdiri dan menyapu butiran-butiran salju dari pakaiannya. “Aku baik-baik saja . . .”

“Lio, namaku Lio,” kata pemuda itu sambil tersenyum. “Apa kau tahu dimana Istana Es tempat sang Roh Salju tinggal berada? Aku mau mengembalikan Permata Es Abadi miliknya.”

Cazar tampak terkejut.

Lio tersenyum padanya. “Ya, aku datang untuk mengantarkan permata itu atas permintaan ayahku, Aerden.”

Cazar tersenyum. “Sang Roh Salju memintaku untuk mengantarkan permata itu padanya. Ia berjanji kalau musim dingin ini akan segera berhenti setelah ia mendapatkan kembali permata itu. Ikuti aku.”

[X]

Cazar tidak pernah melihat Istana Es secara langsung. Ia hanya pernah mendengar cerita tentangnya dari para orang tua. Kadang-kadang Cazar merasa kalau mereka terlalu melebih-lebihkan namun berdiri di depan gerbangnya, ia harus mengakui kalau seluruhnya benar dan tak ada yang dilebih-lebihkan.

Gerbang besar dari es, patung-patung prajurit es indah memegang tombak yang seolah diukir oleh tangan-tangan ahli berjejer di setiap sisi jalan dari gerbang hingga ke anak-anak tangga dari es yang menuju pintu depan istana, dan tentu saja Istana Es itu sendiri yang menjulang tinggi dan memantulkan cahaya matahari sehingga terlihat seperti bercahaya serta kabut tebal di sekitarnya menambah kesan mistis istana itu.

Lio tampak takjub. Ia menyentuh sebuah patung es. “Apa ini semua hasil karya sang Roh Salju?”

“Sepertinya begitu. Aku tidak yakin kalau—“ Cazar tidak sempat menyelesaikan kata-katanya. Terdengar suara berderak keras dari sekelilingnya.

“PENCURI!” Serentak puluhan suara terdengar. Kepala-kepala es menoleh pada mereka dan tangan-tangan es mengacungkan tombak mereka.

“PENCURI!” Kaki-kaki es bergerak dan para prajurit es tersebut berlari menuju mereka berdua dengan langkah berdebum.

Cazar menarik kedua pisau berburunya dari setiap sisi pinggangnya. “Apa yang kau lakukan?!” bisiknya pada Lio.

Lio tampak gugup. “Aku hanya memegang patung itu!”

Cazar menghindari tusukan tombak sebuah patung. Ia mengayunkan pisaunya, memotong kepala patung itu yang langsung roboh.

“Apa mungkin ada hubungannya dengan Permata Es Abadi yang kau bawa? Mereka mungkin mengira kau mencuri permata itu!” teriak Cazar. Ia harus berteriak agar suaranya terdengar di antara bunyi berdebum yang disebabkan oleh langkah patung-patung es itu.

Lio melompat ke samping, menghindari sebuah tombak yang dilempar ke arahnya. Ia mengulurkan tangannya, menciptakan sebuah perisai dari es.

“Kalau itu memang benar, apa yang harus aku lakukan?” tanyanya setengah berteriak.

Cazar menebas sebuah patung lagi. Ia melompat ke atas menghindari sapuan tombak sebuah patung es lain ke kakinya.

“Tentu saja mengembalikan permata itu!” balasnya.

Lio mengepalkan tangannya, mengubah perisai esnya menjadi sebuah tombak es dan melontarkannya pada sebuah patung yang menyerangnya.

“Beritahu aku caranya!”

Cazar mundur satu langkah ke belakang. Kedua pisau berburunya menyilang di depannya, menahan serangan sebuah patung es.

“Masuk ke istana dan cari sang Roh Salju! Aku akan menahan mereka!”

Punggung Lio menabrak punggung Cazar. Kini mereka berdua berdiri punggung pada punggung dengan patung-patung es yang tersisa mengelilingi mereka.

Patung-patung es itu mengacungkan tombak mereka, siap menyerang. Cazar memegang erat kedua pisau berburunya, siap menahan serangan. Di belakangnya Lio menciptakan sebuah perisai es.

Satu teriakan terdengar dan semua patung es itu menerjang, namun saat mata tombak mereka nyaris mengenai Cazar dan Lio, mendadak saja gerakan mereka terhenti.

Sebuah suara rendah dan terdengar seperti geraman terdengar. “Siapa yang berani membuat keributan di Istana Es-ku?”

Mereka berdua menoleh ke arah istana. Tampak oleh mereka di anak tangga paling atas seorang pemuda berdiri. Rambutnya putih panjang dan acak-acakan. Mata biru dinginnya menatap mereka tajam.

Lio lah yang memulai bicara. “Namaku Lio. Aku datang kemari atas perintah ayahku Aerden untuk—“

“Aerden si pencuri itu?” pemuda itu menggeram. Suaranya terdengar seperti suara seekor binatang buas, mengingatkan Cazar pada serigala berbulu putih yang ia temui di hutan semalam.

“Y-ya,” kata Lio gugup. “Ia menyuruhku untuk mengembalikan ini.” Dari balik jubahnya Lio mengambil sebuah permata biru berukuran kecil.

Pemuda itu menatap permata itu sebentar. “Kemarilah, aku ingin melihat apakah ini benar Permata Es Abadi milikku.”

Keduanya kini sadar pemuda di depan mereka adalah sang Roh Salju. Dengan gugup Lio berjalan melewati patung-patung es yang tergeletak di tanah bersalju, menaiki anak-anak tangga es hingga ia berhadapan langsung dengan sang Roh Salju dan memberikan Permata Es Abadi itu padanya.

Sang Roh Salju menatap permata di tangannya. Ia mengangkatnya dan mengamatinya.

“Apakah Aerden telah meninggal?” tanyanya tiba-tiba.

“Ya, ia meninggal setelah mengeluarkan permata itu dari tubuhnya menggunakan sihir dan memberikannya padaku,” jawab Lio.

Sang Roh Salju mengepalkan tangannya sehingga permata itu tertutup dalam genggamannya.

“Ia menyegel sebagian besar jiwa dan kekuatan sihirnya ke dalam permata ini. Pantas saja patung-patung es itu menyerang kalian. Mereka pasti merasakan kehadiran Aerden,” katanya.

“Kurasa itu karena Ayah merasa bersalah,” kata Lio pelan. “Ia mengatakan kepadaku kalau selama ini ia selalu berpindah-pindah, berusaha menghindari negeri Lier dan juga menghindarimu. Pada akhirnya ia mengatakan kalau ia merasa bersalah telah mencuri Permata Es Abadi ini dan menyebabkan negeri Lier sengsara. Kurasa ini adalah permintaan maafnya padamu.”

Sang Roh Salju terdiam. Dibukanya kepalan tangannya dan ditatapnya permata biru yang berpendar lembut di telapak tangannya. Lio menundukkan kepalanya dan Cazar menatap mereka berdua.

Keheningan itu berlangsung hingga sang Roh Salju berkata, “Aku tidak butuh jiwa ataupun kekuatan sihirnya. Kekuatan dan jiwaku sendiri sudah cukup.”

Jantung Lio berdetak kencang. Apakah sang Roh Salju akan—

“Tetapi karena ia sudah mengorbankannya sebagai permintaan maaf, aku akan menerimanya.” Lio menghembuskan napas lega.

“T-terima kasih,” katanya sambil tersenyum. Kuharap Ayah tahu bahwa sang Roh Salju telah memaafkannya sehingga ia bisa tenang di sana.

“Dan sesuai janjiku,” Sang Roh Salju menatap Cazar. Seulas senyum tipis tersungging di bibirnya.“Musim dingin ini akan kuhentikan dan tembok es akan musnah. Aku minta maaf kalau banyak penduduk yang sengsara akibat tindakanku.”

Cazar menatapnya. Sebuah senyum terulas di bibirnya.

“Kau sebaiknya juga meminta maaf pada penduduk lain dan mengembalikan negeri ini menjadi seperti sebelumnya.”

Sang Roh Salju mengangguk. “Akan kulakukan itu.”

Dan pada saat matahari berada di puncak langit, hujan salju berhenti turun. Es mencair dan tembok es yang selama ini mengelilingi negeri Lier pun musnah. Negeri Lier berangsur-angsur menjadi negeri yang makmur dengan sang Roh Salju sebagai Roh pelindung mereka.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Sang Pencuri Permata Es Abadi dan Roh Salju

  1. Lucille13 says:

    Semoga jadi juara XD
    Endingmya bagus.

  2. HiminaChan.Tteba says:

    Plotnya bagus, dan penjelasannya detail. Tetapi…agak aneh juga kalau Aerden sendiri yang tau dimana istana-nya. Dan tidak dikasih tau kenapa Aerden bisa mengetahui keberadaan istana tersebut. Ya.. itu saja.

    Semoga diterima ya, Hatzka-san!

    • Hatzka says:

      Makasih udah suka :) dan penjelasannya detail? walah, padahal saya udah takut penjelasannya kurang karena kejeduk kuota 3000 kata. Tentang Istana Es itu, sebenernya yang sebelum time skip dan sesudah time skip itu beda bangunan. Yang sebelum time skip diketahui semua penduduk negeri yang sesudah time skip baru yang tersembunyi. Semoga ngerti, ya.

  3. katherin says:

    Nice story…
    Solid background, flowing narration, and all…

    Tapi IMO lbh baik kalo fokus di PoV satu karakter dan satu bagian timeline.
    Kamu kehabisan stock word count karena range timeline di cerpen ini terlalu luas.
    Bisa saja cerpen langsung dimulai di bagian Cazar bertekad mencari permata es.
    Background dunianya bs diintegrasikan perlahan ke dalam isi hati Cazar.
    But again, this is just my private opinion.

    Good luck…

    • Hatzka says:

      Mungkin karena itu cerita saya sempat kelebihan kata. Terima kasih atas sarannya, kak. Timeline yang berbeda itu supaya background cerita dan perbedaan suasana di negeri Lier lebih terasa. Saya agak susah kalau menyampaikan dua hal itu seandainya cuman berfokus pada satu karakter saja seperti Cazar. Saya harap sih, perbedaan PoV tidak membuat kak Katherin bingung. Terima kasih ya sudah komen cerita saya. Cerita kak Katherin nomor berapa?

    • katherin says:

      Aku di no 54. ^^
      *lari duluan menyiapkan minuman dingin*

  4. Noirciel says:

    OK!
    Konsepnya simpel, tapi pembawaannya enggak jelek ini.
    Cuma, gonta-ganti fokusnya rada bikin capek IMO. Perpindahannya terasa kurang smooth.
    Itu aja sih yah, yang kerasa mengganjal.
    Senang juga liat roh enggak keras kepala selamanya XD

    • Hatzka says:

      sorry kalo bikin capek >_< kok saya gak nyadar tentang ini ya pas ngedit?
      Thanks udah mau komen cerita saya :)

  5. Un, sepakat sama Katherin di atas. Bisa mulai pas Cazar lagi nyari, dan membedakan suasana negerinya bisa lewat flashback. Lagipula, kalau fokusnya ke Cazar saja, bisa membantu bikin cerita lebih gampang dibaca. Apalagi, sebagai hero, dia punya motivasi yang lumayan menarik simpati.

    (Tapi saia gak ngelak klo dituduh bahwa poin yang terakhir itu sebagiannya karena di kepala saia nama “Cazar” kebaca jadi “Cesare.” *bersiap diguyur kuah Oden oleh Oyabun Noirciel*)

    Alur cerita belum punya kejutan yang kuat. Soalnya, batu dikasih dan rohnya minta maaf, selesai. Nggak ada sesuatu yang gak terduga. Tapi runutnya cukup baik, dan gaya menulisnya juga nggak bertele-tele. Cuma perlu sedikit editing dan polesan biar cerita ini jadi lebih menarik.

    • Noirciel says:

      *tarik muka Senorita selebar mungkin*
      hayo, hayo, fangirlingnya ditahan, ini bulan Puasa (lho?) XD

      Untung nama perinya nggak mirip Lucrezia yah #Eaamalahngomporin

    • Hatzka says:

      Cesare tuh siapa ya? 0_0 Gak pernah denger tuh. Ini mau mencoba gaya dongeng gitu, dan gara-gara waktu udah mepet, jadinya idenya saya bikin simpel dan mudah dimengerti aja karena saya waktu itu bingung banget mau nulis apa. Makasih udah komen, Kak ^^ Kalo ini bisa diedit lagi, pasti saya edit biarpun entah kenapa saya agak gak sreg aja kalo ceritanya mulai dari Cazar.

  6. negeri tak pernah-48 says:

    Halo Hatzka, salam kenal :D

    sebelum komen, OOT dulu.
    OOT 1: pertama baca roh salju kirain cewe, salah image di kepala @.@
    OOT 2: gara-gara saya orang Sunda, baca negeri Lier jadinya Lieur = pusing @.@
    *disambit sendal jepit

    Oh iya, balik ke cerita.
    Plotnya simpel tapi menarik lho. Narasinya juga oke. Ikut dukung komen di atas yang bilang ceritanya bisa mulai dari Cazar. Jadi bagian ketemu Lio bisa lebih dalem dan si Aerden bisa lebih misterius.

    Endingnya juga mungkin bisa dipoles lagi supaya lebih berkesan. Karakter Roh Saljunya kaya anak kecil, gampang marah dan gampang memaafkan. Unyu? hahaha :D

    Begitulah. Mampir juga ke nomer 48 (promosi lapak) yaa :D

    • Hatzka says:

      Adik saya yang baca ini untuk pertama kali sempet ngusulin buat ngejadiin si Roh Salju cewek aja :D Dan Lier jadi Lieur? Eh, itu waktu nulis juga kepikiran tuh, haha. Dan kalo pertemuan Cazar-Lio jadi lebih dalam, saya takut bakalan ada hints BL bertebaran secara saya #uhuk#yaoifangirl#uhuk# Makasih ya udah komen #bungkuk90derajat# bakal saya baca ntar ceritamu. Kalo memungkinkan pasti bakal saya edit lagi. Mepet sih nulisnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>