Sang Penepat Janji

SANG PENEPAT JANJI

karya Shelly Fw

 

Praaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaang…suara itu terdengar berasal dari ruangan Vhyr.

Lagi-lagi Vhyr mengeluh dan mengumpat. Oh, kali ini berbeda. Ia malah mulai suka menyalurkan emosinya pada benda-benda di sekitarnya.

Ini memang bukan yang kesekian kalinya Vhyr sudah dibuat kecewa oleh manusia. Selain karena ditipu, ia juga terkadang dimanfaatkan atau bahkan dikhianati oleh manusia. Kabar terbaru mengabarkan, sudah banyak kaum Einhr yang mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bangsa Einhr juga lebih memilih hidup sendiri dibanding mendapat upah hasil bekerja sama dengan manusia yang serakah; Vhyr tentunya sudah mendengar kabar tersebut.

Keputusan Vhyr untuk meninggalkan dunia manusia telah bulat. Segala surat pengunduran diri beserta alasan-alasannya pun telah ia kumpulkan dalam berkas hijau-perak dan dengan penuh keyakinan ia mendatangi ruangan Ruldg, pimpinan bangsa Einhr di bumi.

Sebuah keberuntungan bagi Vhyr mendapati ruangan pimpinan yang sedang kosong—bukan libur ataupun istirahat—pada jam-jam sibuk seperti ini karena biasanya kantor pimpinan selalu dipenuhi Bangsa Einhr yang ingin berkonsultasi pada jam lewat makan siang.

Seperti biasa, kantor Ruldg selalu dipenuhi bervariasi berkas, Dari pencalonan diri, pengangkatan jabatan, pelantikan, sampai pengunduran diri tersusun menjadi beberapa tumpukan yang ‘agak’ menganggu pemandangan yang memenuhi meja pimpinan hingga membuat Vhyr begitu risih karena harus berjinjit. Bagaimanapun Vhyr harus menemuinya, jadi Vhyr harus membangunkan Ruldg yang sedang tertidur pulas di sofa dengan sopan.

Ting…suara bel di meja Ruldg berbunyi satu kali. Alih-alih bangun, Ruldg malah mendengkur semakin keras.

“Permisi, Zar’ Ruldg.” begitulah Bangsa Einhr menyapa pimpinan mereka namun sepertinya sapaan itu mutlak salah waktu dan tempat.

Vhyr menghela nafas panjang. Disimpannya koper serta berkasnya di atas meja lalu Vhyr membunyikan bel agak keras.

Hening lagi. Kali ini Vhyr menggunakan akalnya untuk sengaja menjatuhkan berkas hijaunya…

“Ada apa,Vhyr?”

Senjata makan tuan. Vhyr tersentak mendengar suara tenor pimpinannya dan langsung menyerahkan berkas hijau-perak itu pada lelaki tua itu dengan kikuk.

“Hijau-perak?” tanya Ruldg tidak percaya.

Vhyr mengangguk seakan hal itu sudah lazim bagi kalangannya, terlepas dari kabar-kabar yang selama ini ia dengar….

Kepala Ruldg menggeleng tidak percaya dan melepas kacamata bulatnya. “Setelah kau bekerja disini selama hampir dua dasawarsa…”

“Mereka tidak peduli berapa lama aku bekerja, Zar’ Ruldg, mereka hanya peduli dengan keringat Bangsa Einhr…”

“Cukup, cukup.” sela Ruldg cepat, tidak ingin ada percekcokan hanya karena kaum manusia. “Kau tahu aku bisa terima ini…tapi tidak sekarang, Vhyr.”

“Apa? Apa yang salah, Zar’?” tukas Vhyr.

“Ah, sepertinya kau lupa membaca dan mendengar pengumuman ini…” Ruldg memberikan Vhyr sebuah kertas pengumuman yang bahkan dapat dibaca jelas sekalipun dalam jarak jauh.

Vhyr terenyak. “Apa? Dua minggu sekali? Kenapa bisa begitu?” desaknya.

“Belakangan ini lalu lintas kepulangan dan keberangkatan Bangsa Einhr sangatlah ramai. Kapasitas karantina pun tercancam membeludak jadi karena itulah aku harus mengaturnya secermat mungkin.”

Vhyr menggeleng. “Ini bukan masalah pengaturan bangsa Einhr, Zar’ Ruldg. Ini masalah siapa-yang-dirugikan. Lebih buruk lagi, ini tentang harga diri bangsa Einhr.”  suara Vhyr bahkan mengejutkan dirinya sendiri hingga ia berhenti berbicara. Vhyr pun menyempatkan diri untuk menghela nafas panjang; kini ia bahkan sudah kehilangan kendali.

Ekspresi Ruldg antara menang dan terluka. Tidak seperti biasanya kedua matanya terlihat lebih besar dan menegang. Antara tercengang atau mungkin sebatas bersimpati.

“Lupakan sajalah, Zar’.” tutur Vhyr.

Ruldg masih membeku, sedangkan Vhyr bergegas membalikkan badan dan membawa kembali kopernya.

 

 

 

Jarum panjang jam menunjukkan pukul dua malam; Vhyr masih belum dapat tidur juga.

Sebenarnya tadi Vhyr sudah tidur, hanya saja mimpi malah membawa Vhyr pada kenangan buruk saat ia dikhianati oleh manusia.

Berawal saat bekerja di bumi. Saat itu Vhyr disibukkan kegiatan untuk mendampingi tuannya mengadakan perjanjian dengan orang lain. Disinilah tugas bangsa Einhr, yang diharapkan mampu menjadi saksi akan setiap perjanjian yang dilakukan oleh manusia. Para manusia di bumi telah mengubah sistem hukumnya dan Bangsa Einhr dijadikan saksi utama yang sah dalam setiap perjanjian, tertulis maupun tidak tertulis.

Namun bukan berarti jasa Bangsa Einhr dapat digunakan dengan sombrono atau menjalankan wewenangnya tanpa perlindungan karena manusia dan Bangsa Einhr mengadakan kesepakatan di atas persyaratan, Adapun antisipasinya yaitu hukuman kurungan bagi bangsa manusia yang telah menghianati atau melukai Bangsa Einhr.

Sayangnya pelanggaran tetaplah pelanggaran. Ada saja manusia yang menggunakan jasa Bangsa Einhr melebihi yang seharusnya, atau malah tidak memberi upah yang selayaknya, dan yang paling buruk, yaitu menjadikan Bangsa Einhr sebagai budak; Vhyr pernah mengalami hampir semua kejadian itu dan meskipun manusia yang bersalah terhadap Einhr dapat dihukum tetap saja itu tidak menguatangi angka pelanggaran. Namun di mata Vhyr, yang terkenal sebagai Bangsa Einhr yang cukup senior dalam menjalankan tugasnya di bumi, masih ada hal yang paling buruk yang takkan pernah bisa ia lupakan.

Seluruh umat manusia dan juga Bangsa Einhr tentunya mengakui bahwa pernikahan merupakan sebuah bentuk dari perjanjian yang sakral yang mengikat antara laki-laki dan perempuan. Nah, kebutuhan manusia akan kesaksian Einhr dalam sebuah pernikahan saat itu memang sempat menjadi perdebatan meski tidak begitu sengit. Pada akhirnya, diadakanlah sebuah perundingan yang menghasilkan gagasan bahwa kesaksian Einhr dalam pernikahan tetap diperlukan sesuai dengan fungsinya sebagai saksi yang sah di setiap perjanjian.

Dan Vhyr adalah salah satu saksi dari sebuah pernikahan.

Betapa waktu dan kemewahan bukanlah sebuah penjamin. Pernikahan yang pernah Vhyr saksikan adalah pernikahan yang bisa dibilang elegan dan membutuhkan waktu yang lama dalam proses persiapannya sehingga wajar apabila hampir seluruh manusia di dunia ingin melihatnya baik langsung ataupun tidak. Kuda-kuda gagah, gaun mahal, busana pencuri perhatian, makanan enak, gedung pernikahan yang mahaluas, pengantin cantik dan tampan, adalah pernikahan yang diidam-idamkan oleh semua orang. Sebuah kehormatan yang besar bagi Vhyr untuk diminta menjadi saksi pernikahan tersebut karena Bangsa Einhr lain dibuat iri karenanya.

Tidak sulit untuk mengikuti perkembangan setelah pasangan itu menikah. Layaknya pasangan suami-istri lain, mereka mempunyai dua orang anak yang sangat lucu dan menggemaskan hingga membuat para peliput berita menjadi semakin rajin menyebar berita mengenai mereka. Delapan tahun pasangan itu hidup bersama, semuanya tampak normal dan bersahaja.

Kemudian masyarakat di dunia dihebohkan oleh satu berita. Kabarnya, salah satu dari pasangan tersebut terlibat perselingkuhan hingga akhirnya pasangan itu memutuskan untuk bercerai. Terlepas dari kehebohan itu, hal ini pastilah asing di mata para Bangsa Einhr yang belum lama bekerja dengan manusia—tidak terbiasa melihat ingkaran dari perjanjian-perjanjian yang disaksikan—dan meskipun tidak ada luka yang ditimbulkan secara langsung bagi Bangsa Einhr sendiri, tapi Vhyr terlanjur menerjemahkan ini semua dengan sebuah bentuk penghianatan terhadap profesi Einhr.

Memang, mengabdi pada pekerjaan dan pantang menyerah adalah watak Vhyr namun sayangnya ada satu hal yang terlupa.

Dalam Kitab Einhryath yang mengatur segala kelangsungan hidup Bangsa Einhr tepatnya Bab VI mengenai kesehatan nomor 21 dikatakan bahwa kondisi perasaan sangat menentukan kesehatan. Ini berarti, selama Bangsa Einhr tidak mengalami kesedihan yang berkepanjangan atau sakit hati yang mendalam, mereka bisa tetap hidup sehat bahkan abadi selamanya.

Betapa hal itu tidak pernah terbersit dalam pikiran Vhyr. Dua hari setelah ia menemui Ruldg, para Einhr yang berada di kantor itu seakan dibuat gempar.

“Nafsu makannya menurun drastis!”

“Ia harus segera dipulangkan.”

“Kita harus segera memanggil dokter!”

“Apakah berat badannya juga menurun?”

“Dia tampak pucat dibandingkan biasanya.”

Beragam pendapat dan usulan telah diutarakan demi pulihnya kesehatan Vhyr. Beramai-ramai kerabat Vhyr menjenguk gadis malang itu setiap malamnya namun tidak ada satupun dari mereka yang tahu apa penyebabnya. Ini berarti Ruldg harus berbicara dengan Vhyr, namun Ruldg sendiri baru bisa menjenguk setelah kesibukkan akhirnya tidak mengganggunya di hari keempat Vhyr merasa kurang enak badan.

“Aku baik-baik saja, Ruldg.” dusta Vhyr tanpa pikir panjang. Di ranjangnya ia seakan terlihat seperti bayi yang meringkuk dalam rahim; kaun Einhr tidak membutuhkan ranjang yang besar seperti manusia.

Suara Ruldg kentara dibuat rendah. “Kau tahu kenyataannya berbeda,”

“Tidak, Zar’ Ruldg. Lebih baik aku mati disini daripada…”

“Vhyr,”

Suara Vhyr yang lemah tidak terdengar selama sejenak. Pandangan matanya sungguh kosong dan Ruldg terpaksa melontarkan pertanyaan, “Apa maumu, Nak?”

Hening sebelum Vhyr akhirnya menjawab. “Aku tidak menginginkan apapun selama aku berada di sekitar kaum Einhr. Dimanapun, dengan mereka….dengan kau.”

Pandangan Ruldg dan Vhyr bertemu selama dua detik yang terasa sangat lama.

Terdengar helaan nafas Ruldg. “Karantina. Itu tempat yang terbaik untukmu.”

“Benarkah? Aku tidak keberatan.” jawab Vhyr setelah Ruldg bangkit dari kursinya.

“Itulah jawaban yang kuharapkan. Anak baik.”

“Ruldg?” Vhyr memanggil ketika Ruldg sampai di ambang pintu. Ruldg pun menoleh. “Tidakkah kau ingin mendengar kata-kata terakhirku?”

Cara menjawab Ruldg sangatlah terburu-buru. “Anggap saja tidak.”

“Zar’ Thyarr Asagf Ruldg?” kali ini suara lemah itu memanggil nama lengkap Ruldg. “Bolehkah aku bertanya satu hal lagi?”

“Silakan,” Ruldg menahan diri untuk tidak menangis.

“Apa yang kau harapkan dari para Einhr yang bekerja pada manusia?” sebuah pertanyaan diluar dugaan Ruldg karena Vhyr mengucapkan kata ‘bekerja pada manusia’ dan bukannya ‘bekerja dengan manusia’ seperti frasa yang dikenal Bangsa Einhr selama ini.

Ruldg tidak menoleh ataupun berbalik ketika menjawab. “Aku ingin mereka tahu siapa diri mereka.”

“Dan apakah kau mengenali dirimu, Ruldg?”

Bibir Ruldg setengah terbuka ketika menoleh tapi yang terdengar hanyalah suara menelan ludah. Antara bingung menjawab atau menyadari betapa banyak hal yang tersirat dalam pertanyaan itu. Satu pernyataan yang jelas tersirat, bahwa Ruldg belum pernah bekerja dengan manusia.

“Kau tahu kau tidak harus menjawabnya.” ucap Vhyr kemudian.

Ruldg mengangkat bahu. “Selamat malam, Vhyr.” lalu ruangan Vhyr kembali gelap.

“Selamat malam, Ruldg.” bisik gadis itu.

Keesokan paginya setelah membuka mata, Vhyr tahu ia sudah berada di karantina. Atau lebih tepatnya yaitu ruang perawatan karena karantina kaum Einhr memiliki beberapa gedung yang berbeda tergantung fungsinya. Gedung Pelatihan Einhr yang untuk bekerja adalah yang paling besar dan terletak disamping Gedung Utama, kemudian dibelakangnya terdapat Gedung Pusat Pengembangan Kemampuan, dan Gedung Perawatan sendiri memanjang menghadap Gedung Utama. Toh bagi Vhyr kantor dan karantina tidak ada bedanya karena meskipun ia tidak dapat pulang ke alam tempat Einhr berasal namun setidaknya ia tidak mempunyai peluang untuk bertemu dengan manusia.

Namun kenyataannya sendiri berbeda.

Vhyr yang kini terlihat kurus dan pucat merasa sudah tidak mempunyai harapan apapun untuk pulih kembali. Ruldg, yang mengetahui akar permasalahan ini pun bahkan tidak memberi kemajuan apapun bagi Vhyr. Alih-alih menjadi pulih, Vhyr malah berpikir bahwa Ruldg sudah tidak peduli lagi dengannya. Vhyr sendiri tidak tahu mengapa pikiran itu sempat terlintas di benaknya.

Seandainya kondisi batin tidak memengaruhi kesehatan kaum Einhr, batin Vhyr.

Atau, mungkin akan lebih baik jika aku yang menjadi Ruldg, ia mulai berkhayal.

Setidaknya aku mempunyai satu kesempatan lagi.

Atau sekalian saja aku tidak pernah menginjakkan kaki di bumi…

Tiba-tiba pintu ruangan Vhyr terbuka lebar. Tidak salah lagi, bangsa Einhr lain yang ditunggu-tunggu oleh Vhyr kini telah datang.

Ketika Vhyr tersenyum, mata kuning perawat itu menyambut kesenangan yang Vhyr rasakan. Itulah hal yang Vhyr suka, yaitu mata kuning para Einhr yang begitu seragam dan indah. Kebanyakan Einhr selalu tersenyum untuk saling menyapa; mengatakan hal-hal yang tidak perlu bukanlah sifat para Einhr.

Tidak banyak yang dilakukan perawat itu selain mengecek keadaan Vhyr karena pada umumnya Einhr perawat hanya menanyakan beberapa pertanyaan pada pasien.

“Apakah kau merasa lebih baik?”  tanya perawat itu ramah.

“Ya. Terima kasih.”

“Baiklah. Apakah kau mau bercermin?”

Kepala Vhyr menggeleng dengan cepat. Dalam bayangannya, kulit keriput dan sekujur tubuh berkulit pucat adalah pantulan yang pasti akan terlihat. Bagaimana tidak, hal itu telah tercantum dengan jelas dalam Kitab Einhryath Bab VI tentang kesehatan kaum Einrh. Seiring hilangnya nafsu makan, kulit sekujur tubuh akan menjadi keriput dan pucat. Warna mata menjadi kuning gelap dan berat badan akan berkurang.

“Baiklah. Tapi aku akan tetap menaruh cermin ini,” Perawat itu pun meletakkan cermin kecil itu di atas meja disamping ranjang Vhyr.

“Terima kasih.”

“Dengan senang hati, Vhyr.” jawab perawat itu.

Tidak lama kemudian sebuah suara dari luar jendela sempat mengagetkan Vhyr. Awalnya ia mengira itu hanya halusinasinya namun apa yang ia lihat mengundangnya untuk bangkit dari tempat tidur.

Mata kuning halia Vhyr berbinar ketika mendapati seekor burung kakaktua hinggap di jendela ruangannya yang terbuka. Untuk sesaat burung putih berjambul kuning itu seakan menebar pandangan waspada sebelum akhirnya ia terbang masuk dan hinggap di ranjang Vhyr.

Vhyr memang menyukai burung kakaktua. Ia memang tidak pernah melihat burung kakaktua ini sebelumnya namun setidaknya suatu kali ia pernah melihat burung kakaktua dengan warna yang berbeda. Ya, Bangsa Einhr juga begitu akrab dengan binatang.

Agaknya Vhyr merasa sulit untuk membenci hewan anggun yang satu ini. Kertas gulung yang berada di mulut kakaktua itu mungkin memang ditujukan untuknya karena burung ini langsung kembali terbang keluar jendela begitu ia menarik kertas gulung itu. Ia menghela nafas sebelum membukanya.

Ini sungguh bukanlah cara Einhr berkomunikasi satu sama lain. Mungkin selama ini kaum Einhr memang mengetahui bagaimana cara manusia berkomunikasi, tapi bukan berarti manusia mengetahui bagaimana cara mereka melakukannya. Juga berbeda dengan cara komunikasi antara manusia dan Bangsa Einhr lewat jarak jauh. Lain.

Tapi mungkin salah satu Einhr menyamar jadi manusia, siapa tahu? Pikir Vhyr. Kali ini rasa penasaran mengalahkan perasaan lainnya. Dibukanya kertas gulung itu…

 

Kesembuhan yang kau harapkan akan  terwujud. Percayalah.

Manusia

 

 

Sebuah janji. Dasar Manusia, keluh Vhyr. Dirobeknya kertas itu seketika.

Vhyr pun kembali menarik selimutnya dan meringkuk di ranjang. Sembuh? Harap? Ia mulai berspekulasi. Manusia tetaplah manusia. Serakah dan tidak pernah mau mengalah.

Lalu suara yang sama mengejutkan Vhyr. Kali ini burung kakaktua itu meletakkan kertas gulung kedua di meja tepat disamping ranjang Vhyr. Kemudian tanpa aba-aba burung itu pergi.

Kening Vhyr mengerut. Ditariknya selimut itu hingga menutupi kepala Vhyr.

Satu jam, dua jam, hingga empat jam dan hari sudah menjelang sore; Vhyr hanya bisa berguling-guling di kasur dengan gelisah.

Dibukanya gulungan kertas kedua itu dengan kasar.

 

 

Percaya atau tidak, kau masih bisa pulang ke tempat asalmu.

Manusia

 

Tanpa pikir panjang Vhyr terdiam sejenak. Lima hari lagi para Einhr yang ingin pulang ke tempat asal akan dijemput oleh kereta khusus Einhr. Terdengar masuk akal jika Vhyr menunggu karena kereta Einhr biasanya tidak pernah absen datang ke karantina. Mungkinkah itu? Pikir Vhyr.

Sebenarnya mudah saja. Jika ingin mengundurkan diri dari pekerjaan Einhr di bumi, Vhyr tinggal menyerahkan surat pengunduran diri karena berkas hijau sudah berada di ruangan Ruldg. Tapi bagaimana dengan kesehatannya?

“Ah, sudahlah.” Vhyr akhirnya menyerah. Tubuh mungil Vhyr pun kembali meringkuk meski perawat kembali ke ruangan untuk memastikan ia baik-baik saja.

Keesokan harinya Vhyr dikejutkan oleh gulungan kertas ketiga yang tergeletak di meja. Tidak seperti kemarin, kali ini kertas itu ditinggalkan bersama pulpen yang tentunya milik manusia. Karena sering melakukan perjanjian yang melibatkan tulis-menulis, tanpa ragu-ragu ia meraih pulpen dan membaca tulisan itu.

 

 

Aku harap kau baik-baik saja. Semoga kondisi kulitmu tidak seburuk kemarin.

Manusia

 

Vhyr menelan ludah. Dilihatnya dengan saksama kulit tangan dan kakinya. Warnanya memang masih pucat meski tidak sepucat kemarin. Dan keriput-keriput yang kemarin ia bayangkan…

Sebelah tangan mungil Vhyr menyambar cermin yang tergeletak di meja disamping tempat tidur dengan segera. Dalam pantulannya, mata kuning Vhyr berputar-putar, lebih tepatnya mencari keriput-keriput yang kemarin sempat mengganggu penampilannya.

Tidak ada. Hanya ada kulit pucat yang memberi harapan bahwa ia akan kembali pulih. Ya, harapan.

 

 

Kau benar. Siapapun dirimu, bisakah kau membuktikan bahwa dirimu manusia?

Kaum Einhr

 

 

Untungnya burung kakaktua yang kini menjadi pengantar pesan antara Vhyr dan manusia misterius itu selalu datang tepat waktu. Betapa terkejut Vhyr ketika mengetahui bahwa kakaktua itu tidak pergi begitu saja meninggalkan gulungan kertas dan pulpen, melainkan menunggu di luar jendela ruangan Vhyr. Dan kali ini Vhyr tinggal menunggu balasan dari manusia itu. Vhyr bahkan mulai mempunyai nafsu makan sekarang.

 

Bagaimana membuktikannya? Aku tidak tahu….Janji dibayar janji, bukan?

Manusia

 

Kening Vhyr mengerut. Tubuhnya membeku bahkan ketika burung kakaktua itu hinggap di bahunya.

Vhyr menelan ludah. Dalam ingatannya ketika mengikuti pelatihan kerja di karantina, Eirnh guru pernah mengatakan padanya bahwa bagi kaum Einhr yang terpenting adalah janji dibayar janji. Maksudnya adalah, jika salah satu Einhr terluka, sedih, atau sakit hati karena janji yang tidak ditepati oleh manusia, maka manusia lain yang menepati janji padanya akan menghilangkan penyakit pada Einrh…

“Selamat pagi,” sapa perawat sembari membuka pintu ruangan dengan lebar.

Dalam hitungan detik, mulut Vhyr dan perawat sama-sama ternganga. Mata kuning Vhyr menoleh pada burung kakaktua di pundaknya dengan perasaan cemas.

Vhyr benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Akankah perawat itu…

“Vhyr!” mata kuning Einrh perawat membelalak tidak percaya; jantung Vhyr berdetak sangat cepat dan tak terkendali.

Langkah kaki perawat mempercepat detak jantung Vhyr. Dengan aba-aba Vhyr akhirnya kakaktua itu terbang ke luar jendela, menyaksikan…

“Astaga!” tangan perawat itu menyentuh wajah Vhyr yang membeku.

“A, ak—aku…”

“Menakjubkan! Kau sehat, Vhyr. Lihatlah mata kuningmu.” ujar si perawat kemudian menyerahkan cermin oval pada Vhyr.

Mustahil.

Kulit Vhyr yang ada di cermin tak ubahnya sedia kala; putih halus bagai boneka porselen; tanpa cacat tanpa cela. Mata Vhyr tampak kuning sehat dan garis-garis senyum Vhyr tampak sempurna. Tidak ada kesan kurus bagi tubuh Vhyr sekarang, melainkan bercahaya seperti Bangsa Einrh yang lainnya. Gaun yang selalu dikenakan Vhyr pun tidak lagi kebesaran.

Ia menepati janjinya.

 

 

Seluruh Einrh di karantina ketika itu dihebohkan dengan sembuhnya Vhyr yang nyaris tidak mempunyai harapan untuk pulih lagi; Vhyr memutuskan untuk menetap di karantina sejak ia dinyatakan sembuh.

Ruldg sebagai pimpinan tentunya menerima kabar itu. Tanpa pikir panjang ia menelepon Vhyr dan menanyakan bagaimana sebenarnya hal itu terjadi. Namun karena kaun Einrh tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak perlu, satu kata yang dilontarkan Vhyr untuk menjawab berbagai pertanyaan itu adalah, “harapan”.

Sementara si manusia misterius, yang notabene adalah pemilik burung kakaktua tampaknya merasa bahwa janjinya sudah terlunasi jadi ia membiarkan kakaktuanya datang ke karantina bangsa Einhr hanya untuk bertemu dengan Vhyr. Adapun rasa penasaran Vhyr akan identitas manusia itu memang terkesan logis jadi ia mengirimkan gulungan kertas dan begitu surat itu dibalas, Vhyr hanya bisa tersenyum membacanya.

 

Aku hanya manusia yang menginginkan kau sembuh. Dan aku tidak ingin memberimu janji. Aku hanya ingin memberimu harapan.

Manusia.

 

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

52 Responses to Sang Penepat Janji

  1. frenco says:

    Hai Shelly, sebenarnya sudah baca cerpenmu ini, tp belum sempat komen

    Yang terlintas pertama kali pas baca cerpen ini adalah kata-katanya sulit-sulit ya, hehe.. kayak Einhr, Vhyr, Ruldg… wah, lidahku keseleo baca kata-kata tsb.

    saya lebih merasa Einhr sebagai perumpamaan atau metafora, siapa sih yang gak sakit hati kalau janjinya gak ditepati? hehe apalagi kalau terkait dengan namanya… ehm, cinta.

    Fungsi bangsa Einhr sebagai penepat janji, menurut aku, gak gt seru. krn apa? krn lebih banyak mereka yang rugi. Wah, kalau seluruh manusia gak menepati janji, bisa punah dong bangsa Einhr. haha. mending dibikin ceritanya Einhr sebagai bangsa penagih janji.. jadi, bagi manusia yang gak menepati janji, akan diteror terus oleh bangsa Einhr.. wahahahaha

    begitu komentar saya, hehe. ini komen balasan dari Shelly di tempatku

    • Shelly Fw says:

      Hha santai ^^ btw trims sdh meninggalkan jejak ya :D

      Ini memang cerita fantasi saya yang pertama sebenarnya (nekat, ya?) maklum kalau nama-namanya memelesetkan lidah hhe…

      Sarannya begitu worth it, sampai-sampai gak kepikiran pas bikinnya. Kamu benar, peran Einhr disini ambigu (juga kontroversial imo =/). Ini satu poin penting kalau suatu hari saya akan membuat cerita ini dalam extended version. Well, tahun depan saya akan berusaha semaksimal mungkin. Doakan ya ^^

      Salam,

  2. shaoan says:

    Hi Shelly! :D
    Mungkin deskripsi fisik ttg bangsa Einhr harus ditampilin agak awal, terutama detail penting kaya mata kuning atau gendernya si Vhyr (gw ngira dia cowo), supaya bisa ngasih gambaran ke pembaca. Ini penting soalnya bangsa Einhr kan pembaca belum tau kaya apa, ga seperti burung kakaktua (yg mungkin ga perlu dikasih deskripsi tambahan, biar ngirit jumlah kata. Hihihi). Terus di ending: endingnya bukannya jelek, tapi agak kurang berkesan. Soalnya sosok manusia ini sebelumnya ga ada hubungan sama sekali ama Vhyr, secara fisik atau emosional, di cerita ini. Siapa sosok manusia ini? Gimana si manusia tau Vhyr sakit & tau dimana dia dirawat? Kenapa dia peduli ama Vhyr? Kenapa dia ngasih support dan pengen Vhyr sembuh? Gw pikir sih seandainya pertanyaan2 itu ga ada di benak pembaca, dan sejak awal pembaca tau bahwa Vhyr ama si manusia itu punya ‘hubungan’, endingnya pasti jauh lebih berkesan. :D

    • Shelly Fw says:

      Hi, Kak Shao ^^

      Soal gender memang sengaja ditaruh di tengah sama saya…tapi eh, kurang tepat ya? >,<
      Endingnya juga sengaja dibuat menggantung untuk kesan misterius…kesannya disorientasi ya?

      Kedepannya saya akan usaha lebih keras lagi XD
      Trims sdh berkunjung ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>