Selamanya

SELAMANYA

karya Swandie

Seorang wanita cantik jelita tengah duduk di bawah pohon dengan wajah termenung. Mata hijaunya tengah mengawasi bunga-bunga yang bergoyang ditiup angin, sementara kedua tangannya tengah memeluk kakinya yang sedang ia lipat. Sayapnya yang putih bersih sedang menutup berhubung dia sedang tidak ingin terbang. Ya, wanita ini adalah seorang malaikat. Dan karena dia adalah malaikat, dia tidak tinggal di daratan yang dipenuhi makhluk darat. Tetapi dia juga tidak tinggal di dalam awan. Di langit yang luas ini, ada sebuah tempat tersembunyi yang menjadi tempat tinggal para malaikat. Tempat ini tidak pernah terlihat berkat adanya kekuatan suci yang menyelubungi dan menyembunyikannya. Tidak ada yang bisa memasuki tempat ini dengan mudah.

Tempat ini bernama Teirra. Penghuni Teirra biasa disebut Rei Aengelis, atau biasa diartikan sebagai ‘Malaikat Cahaya’. Dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana, membuat Teirra menjadi kerajaan paling indah dan sejahtera dari semua kerajaan di langit. Dan itulah sebabnya, Teirra menjadi sasaran empuk Kerajaan Emeth, satu-satunya kerajaan di langit selain Teirra. Emeth dihuni oleh Yami Aengelis, yang artinya adalah ‘Malaikat Kegelapan’. Sebenarnya mereka sama dengan Rei Aengelis, hanya saja mereka memilih untuk membentuk kerajaan sendiri dan melakukan eksperimen terhadap kekuatan suci mereka. Salah satunya adalah dengan mengubah kekuatan suci mereka menjadi kekuatan kegelapan. Kekuatan itu sungguh berdampak pada penampilan mereka. Sayap mereka berubah warna menjadi hitam, begitu juga dengan warna kulitnya. Warna rambut mereka juga menjadi berwarna putih pucat. Tak hanya penampilan, kepribadian mereka juga langsung berubah. Mereka menjadi berambisi untuk menguasai segalanya. Hal inilah yang membuat raja Teirra mengerahkan pasukannya untuk melawan pasukan kerajaan Emeth.

Sang malaikat cantik ini sangat menyesalkan terjadinya hal itu, bahkan dia juga sangat membenci kerajaan Emeth. Tetapi dia membenci kerajaan Emeth bukan karena mereka ingin menguasai Teirra, bukan karena alasan yang umum seperti itu. Dia memiliki alasan yang lebih khusus. Alasan yang hanya dimiliki olehnya dan bukan oleh orang lain. Alasan yang berhasil membuatnya murung untuk waktu yang bisa dibilang lama. Ya, alasan khususnya adalah…

Karena kekasihnya yang diikut sertakan untuk melawan pasukan kerajaan Emeth.

Dengan gaya yang begitu anggun semampai, sang malaikat berdiri dan berjalan menuju ke arah batu raksasa tak jauh di depannya. Batu raksasa ini mungkin dianggap biasa oleh malaikat lainnya, namun tidak untuk dirinya. Salah satu kenangan yang paling dia ingat adalah ketika kekasihnya menuliskan nama mereka berdua di permukaan batu ini dengan kekuatan sucinya. Masih jelas terlihat di sini, tulisan ‘Michaela amei Gabriel, youl ethermar’. Yang artinya ‘Michaela mencintai Gibrael, untuk selama-lamanya’. Michaela adalah namanya, sementara Gabriel adalah nama kekasihnya.

“Gabriel, dimana kau sekarang?” katanya sambil menyentuh ukiran itu.

Kilas balik…

“Ah, hari ini sungguh indah sekali!”

Michaela membuka jendela rumahnya dan membiarkan cahaya matahari mengenai tubuhnya. Di luar, ia dapat melihat malaikat lain yang baru saja bangun dan berterbangan ke segala arah. Biasanya di saat pagi seperti ini, para malaikat mencari-cari tempat tinggi seperti pucak bukit. Tujuannya tak lain adalah untuk menyerap cahaya matahari. Karena berbeda dengan makhluk darat, malaikat tidak mengonsumsi daging, tanaman, dan air. Cahaya mataharilah makanan serta minuman mereka.

Setelah merasa segar kembali, Michaela membentangkan sayapnya dan terbang mengelilingi area yang ada di sekitarnya. Sambil menikmati hembusan angin yang begitu sejuk, ia juga menyapa para tetangganya. Ada pasangan tua yang masih berjemur. Ada juga seorang malaikat pria paruh baya yang tengah melakukan meditasi di tengah-tengah sepinya padang rumput. Istana kerajaan juga mulai beraktifitas. Para pengawal istana serta pendeta, mereka semua terlihat berseliweran bagaikan lalat. Pemandangan yang selalu dilihat Michaela setiap hari.

Puas menjelajahi sampai siang hari tiba, Michaela memutuskan untuk terbang ke padang bunga yang berjarak tak jauh dari rumahnya. Padang bunga itu begitu indah dengan jejeran bunga warna warni yang disebut Feirylis. Ditambah suasananya yang sepi, maka bertambahlah satu lagi alasan Michaela menyukai padang bunga ini. Dia bisa melakukan apa saja seperti duduk, tiduran di antara jejeran bunga, atau memetik beberapa tangkai untuknya dibawa pulang dan dirangkai menjadi mahkota bunga. Bisa dibilang, padang bunga ini bagaikan rumah keduanya.

Michaela mendarat dengan halus di atas tanah cokelat tempat sebongkah batu raksasa berada. Dengan langkahnya yang lemah gemulai, ia berjalan ke hamparan bunga yang mengelilinginya tanpa batas. Dia merasa begitu damai, sampai-sampai dia tidak sadar kalau ada seseorang yang mengamatinya dari atas pohon. Seorang malaikat pria tampan berambut hitam pendek dengan kedua bola mata biru yang tidak kalah indahnya. Michaela baru menyadari keberadaannya ketika melihat ada sehelai bulu sayap yang terbang ke arahnya. Wajahnya terkejut, namun juga terpesona.

“Oh… halo,” sapa Michaela.

Sang malaikat pria tersenyum, lalu ia terbang turun mendekati Michaela. Tubuhnya begitu tinggi dan gagah.

“Kau sering ke sini?” tanyanya.

“Em, iya. Aku juga sudah menyukai tempat ini dari dulu.”

“Oh.”

“Bagaimana denganmu? Kelihatannya baru kali ini ada orang selain aku yang mengunjungi tempat ini.”

“Aku bosan berada di rumah setiap hari. Karenanya, aku memutuskan terbang dan mencari tempat yang bisa digunakan untuk bersantai sejenak. Kebetulan, aku menemukan padang bunga yang indah ini. Dan tak lama kemudian, kau muncul sambil berjalan dengan anggunnya menyusuri Feirylis.”

Michaela menundukkan kepalanya. Wajahnya memerah ketika ia mendengar kata ‘anggun’. Benarkah dia anggun? Rasanya dia cuma melangkah seperti biasanya.

“Apa yang paling kau suka dari tempat ini?”

Michaela mengangkat wajahnya kembali. “Yang paling kusuka?”

“Iya, pasti ada alasannya kan kau begitu menyukai tempat ini?”

“Tidak ada alasan khusus kok.”

Michaela berjalan hingga ke tengah. Membuat pakaian serta rambut cokelat panjangnya berkibar-kibar karena tiupan angin. Sang malaikat pria memfokuskan pandangannya, melihat keanggunan Michaela untuk kesekian kalinya. Cantik, begitulah kesan yang langsung muncul di otaknya.

“Aku menyukai semua yang ada di sini. Tak hanya sekedar bunganya, tetapi juga suasananya. Hening, tenang, damai, tidak ada tempat lain di Teirra yang bisa memberikan ketiga suasana itu.”

“Tidak ada tempat lain? Bahkan istana kerajaan sekalipun?”

Michaela mengangguk. “Meski aku sendiri belum pernah ke sana.”

“Begitukah?”

“Kau sendiri bagaimana? Apa tempat favoritmu di Teirra?”

“Apa ya?” katanya sambil berpose ala berpikir. “Jujur, aku jarang pergi ke tempat lain. Aku lebih sering berada di rumah.”

“Berarti, tempat favoritmu adalah rumahmu?”

“Tidak juga, aku tidak pernah menganggap kalau rumahku spesial atau semacamnya. Karena tidak ada yang tinggal di sana selain aku sendiri.”

Michaela memiringkan kepalanya. “Kau sungguh membingungkan.”

“Oh ya?”

“Iya, begitulah.”

Michaela mengalihkan pandangannya pada deretan Feirylis yang ada di sampingnya. Kemudian, tangannya memetik satu persatu bunga itu. Dari bunga yang ia petik, muncul beberapa makhluk kecil bersayap yang sangat lucu. Bentuknya bulat dengan kedua bola mata yang besar. Tangan dan kakinya pendek, sementara kupingnya sedikit lancip. Makhluk ini bernama Punyi, persis seperti suara yang selalu ia keluarkan. Mereka hidup di dalam Feirylis dan keluar saat pagi sampai siang hari, sementara malam adalah waktu mereka untuk tidur.

Michaela mencium Punyi yang ada di jarinya dengan menggunakan hidungnya, dan setelah itu ia membiarkannya terbang. Semakin ia berjalan, semakin banyak Punyi yang muncul dan datang menghampirinya. Berputar-putar mengelilinginya, seolah-olah ingin mengajak bermain dan tidak hanya sekedar menyapa. Melihat ini, Michaela menyerahkan telapak tangannya, dan para Punyi langsung berkumpul di sana tanpa merasa ragu sedikitpun. Melihat keakrabannya dengan binatang, sang malaikat pria kembali dibuat terpesona.

“Kau sungguh akrab dengan mereka,” katanya.

“Iya, mungkin karena aku sering kemari,” jawab Michaela. “Awalnya sih mereka takut denganku.”

“Lalu bagaimana cara kau mendekatinya?”

“Aku tidak melakukan apa-apa, paling hanya menyapa mereka sambil tersenyum setiap mereka keluar dari Ferylis. Lama kelamaan, mereka luluh juga.”

Sang malaikat pria menganggukkan kepalanya. Dan kemudian dia berjalan mendekati Michaela untuk mencoba memegang sekumpulan Punyi itu. Tetapi karena mereka tidak mengenalnya, mereka langsung terbang dari tangan Michaela dan kabur. Michaela tak mampu menahan tawanya, terutama ketika melihat wajahnya yang melongo. Dia pasti kaget.

“Jangan khawatir, aku yakin mereka akan terbiasa denganmu.”

“Sakit hati juga ditolak oleh hewan.”

“Lumayan, aku saja pernah disemprot serbuk bunga oleh mereka.”

“Sungguh?”

“Iya, makanya kau harus sabar dalam menghadapi mereka. Dan tentu saja, kau tidak boleh marah-marah.”

“Sepertinya cukup sulit.”

“Sulit bukan berarti tidak bisa kan?”

Mereka berdua terus mengobrol dengan asyiknya. Hampir seluruh waktu luang mereka dihabiskan di padang bunga dan mengobrol mengenai berbagai hal. Pembicaraan mereka tidak ada yang serius, hanya saja terasa begitu menyenangkan. Sudah lama sekali bagi Michaela untuk tidak memiliki lawan bicara. Sampai kemarin, teman Michaela hanyalah padang bunga ini beserta isinya. Entah mimpi apa dia semalam, hari ini dia bisa bertemu dan mengobrol akrab dengan malaikat yang baru saja ia temui.

Tanpa mereka sadari, sore hari sudah tiba. Jika sudah sore, para malaikat diharuskan untuk segera masuk ke dalam rumah mereka masing-masing. Karena jika hari semakin gelap, para malaikat akan melemah jika tidak ada cahaya. Michaela maupun Gabriel mau tak mau harus mengakhiri obrolan mereka. Entah kenapa waktu selalu berjalan begitu cepat ketika sedang dinikmati.

“Yak, aku harus segera pergi,” kata Michaela.

“Sebelumnya, tunggu dulu.”

“Hm?”

Malaikat pria itu tersenyum. “Kau belum memberitahuku namamu. Kau juga tidak tahu kan siapa namaku?”

Michaela sedikit terkejut ketika mendengarnya. Terkejut karena sampai saat ini dia belum menanyakan namanya dan begitu pula sebaliknya. Kok bisa-bisanya ya mereka berdua melupakan pertanyaan yang dasar seperti itu?

“Oh, benar juga. Perkenalkan, namaku Michaela.”

“Michaela? Nama yang bagus sekali. Kalau tidak salah, artinya adalah ‘cahaya suci’ menurut sastra kuno.”

“Kau terlalu memuji,” jawab Michaela. “Kalau namamu?”

“Gabriel.”

“Gabriel… itu adalah nama…”

“Ya, nama malaikat legendaris dalam sejarah kan? Orangtuaku memberi nama Gabriel dengan harapan semoga aku bisa seperti dirinya.”

“Wow.”

“Nah, perkenalan sudah selesai. Aku pulang dulu ya, Michaela.”

“Gabriel, tunggu dulu.”

“Ya? Ada apa lagi?”

“Apakah besok kau akan datang lagi ke sini?”

Gabriel menatap Michaela sesaat, dan kemudian dia tersenyum. “Kalau itu maumu.”

Setelah membentangkan sayapnya, Gabriel segera terbang dan pergi meninggalkan Michaela sambil mengarungi hari yang semakin gelap. Michaela menatap sosoknya yang perlahan menjauh dan akhirnya menghilang tak lama kemudian. Entah kenapa, suasana hatinya hari ini jauh lebih bahagia dibandingkan hari-hari sebelumnya. Lebih tepatnya, semenjak dia bertemu dengan Gabriel. Pria itu seperti hal kedua setelah cahaya matahari yang mampu mengisi kebutuhan hidupnya. Dan karena dia bisa diajak mengobrol, maka (tentu saja) dia bisa menghiburnya lebih dari kumpulan Punyi yang ia temui setiap hari. Setiap kata yang dia ucapkan, tatapan matanya, serta rambut pendeknya. Michaela ingin sekali melihatnya lagi esok hari.

***

Berbulan-bulan sudah berlalu sejak pertemuan pertama mereka. Mereka berdua selalu bertemu di padang itu dan selalu mengobrol bahkan terbang mengelilingi Teirra bersama-sama. Ketika berada di padang bunga, Michaela memetik bunga seperti biasa sementara Gabriel mencoba mengakrabkan dirinya dengan sekumpulan Punyi. Mereka masih belum begitu akrab, meskipun sudah lebih baik daripada saat Gabriel pertama kali kemari. Michaela hanya tersenyum, tetapi kadang bisa sampai tertawa. Apalagi ketika Gabriel juga disemprot serbuk bunga seperti dirinya dulu. Terbukti, Gabriel harus berusaha lebih keras.

Suatu hari saat malam dimana bulan menunjukkan dirinya seutuhnya, Michaela dan Gabriel masih berada di padang dan saling mengobrol satu sama lain. Tanpa memperdulikan aturan yang melarang malaikat untuk keluar saat gelap, mereka terus mengobrol seolah mulut mereka  tidak pernah kehabisan kata-kata.

“Indah sekali, baru kali ini aku melihat bulan sedekat ini.”

“Memangnya sebelumnya tidak?”

“Peraturan kan tidak mengijinkan malaikat untuk keluar saat malam. Tapi kita malah melanggarnya hari ini.”

“Tak apa kan? Sebagai gantinya, kau bisa melihat bulan ini lebih jelas.”

“Yah, kau memang benar.”

Pertama kali bagi Michaela untuk merasakan bagaimana angin malam saat bertiup mengenai tubuhnya. Rasanya lebih sejuk daripada saat siang hari. Suasananya juga jauh lebih sepi, karena tidak ada Punyi yang keluar dan bermain-main. Tidak ada malaikat yang beraktivitas selain penjaga, hanya ada mereka berdua di sini. Dengan pandangan yang mengarah ke langit sembari mengagumi indahnya langit. Terutama Michaela, pandangannya nyaris tidak beralih.

“Hei, Michaela.”

“Ya?”

“Boleh aku menanyakan sesuatu padamu?”

Michaela tersenyum. “Tanyakan saja.”

“Apa yang kau pikirkan tentang aku?”

Kali ini Michaela menyipitkan matanya. “Maksudmu?”

Wajah Gabriel menunjukkan ekspresi sedikit jengkel. Jengkel karena Michaela ternyata tidak sepeka yang dia kira. Dengan tangannya yang begitu halus dan agak dingin, ia menggenggam tangan Michaela yang sedang menyentuh tanah. Wajahnya menjadi serius dengan kedua mata biru yang terpaku pada mata hijaunya. Tetapi sayang, Michaela masih tidak mengerti apa maksud dari ucapan dan tindakan Gabriel.

“Sejak aku bertemu denganmu…” Gabriel memulai ucapannya. “Sejak aku bertemu denganmu, aku sudah merasa ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Aneh, tetapi juga menyenangkan di saat yang bersamaan. Seolah-olah ada sesuatu yang merasuki diri dan hatiku.”

Michaela tidak menjawab.

“Aku terus berusaha untuk memikirkan arti dari perasaan ini, dan terkadang aku malah tersiksa karena tidak juga menemukan arti jawabannya. Tetapi ketika aku terus meluangkan waktu bersamamu, mengobrol denganmu, serta bercanda denganmu, perlahan-lahan aku mengerti apa maksudnya.”

“… apa?”

Genggaman tangan Gabriel terasa menjadi lebih kuat, namun tidak sampai membuat tangan Michaela terasa sakit. Menghembuskan napas, Gabriel menggeser posisi duduknya mendekati Michaela. Tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari gadis cantik itu. Gabriel mendekatkan wajahnya secara perlahan hingga jarak antar wajah mereka hanya beberapa senti saja. Bibir mereka nyaris bersentuhan.

“Aku mencintaimu, Michaela.”

Malam itu adalah malam yang sungguh-sungguh merubah hidup Michaela seratus delapan puluh derajat. Karena mereka tidak lagi sekedar teman bermain, teman mengobrol ataupun teman dekat semata. Mereka telah menjadi sepasang kekasih, sepasang kekasih yang saling mencintai. Salah satu bukti cintanya adalah ukiran yang dibuat Gabriel dengan menggunakan kekuatan sucinya, yang ia buat tak lama setelah ia menciumnya. Kebahagiaan Michaela pun bertambah. Karena tanpa ia sadari, ia juga mencintai Gabriel sejak pertama kali mereka bertemu.

Namun, siapa sangka? Kalau ternyata mereka terlalu cepat untuk merayakan kebahagiaan mereka.

Beberapa hari setelah malam itu, terjadi pemberontakan besar-besaran dari para penjaga istana. Mereka menuntut raja agar diberi izin keluar dari Kerajaan Teirra dan membentuk kerajaan sendiri, dengan alasan kalau mereka bosan dengan kehidupan di Teirra yang terlalu damai dan tenang. Mereka ingin mencari tantangan, dan Kerajaan Emeth yang mereka dirikan adalah salah satu buktinya. Masih belum puas, mereka menciptakan kekuatan baru yang elemennya sangat berbanding terbalik dengan elemen semula yang mereka miliki.

Pertahanan Teirra yang menurun drastis membuat sang raja memerintahkan seluruh malaikat pria untuk ikut bertempur. Tak terkecuali, Gabriel. Sebelum keberangkatannya ke medan perang, dia menyempatkan diri untuk bertemu dengan kekasihnya di padang yang biasanya. Tidak banyak yang mereka ucapkan, apalagi Michaela hanya menangis. Tetapi, ada satu kalimat. Satu kalimat singkat yang selalu Michaela ingat dan pegang.

“Aku pasti akan kembali.”

Akhir kilas balik…

Sejak saat itu, Michaela selalu menunggu pulangnya Gabriel di padang bunga ini. Setiap hari dengan melawan rasa lelah dan rasa bosan. Dia tidak peduli meskipun hari demi hari terus berganti. Dia juga tidak peduli dengan ajakan malaikat lain untuk pulang. Karena dia yakin akan satu hal. Dia yakin Gabriel pasti akan pulang dan menemuinya di padang bunga ini. Menemuinya dengan muka berseri-seri sambil berkata ‘aku pulang’ dan memeluknya.

Tangan serta mata Michaela masih belum lepas dari ukiran itu. Tanpa ia sadari, hari sudah mulai gelap. Mengingatkannya saat Gabriel menyatakan cintanya dan… menciumnya. Baik Gabriel maupun Michaela sudah yakin kalau hidup mereka akan bahagia. Tetapi kenapa hari itu harus tiba? Kenapa dia tidak bisa menghabiskan waktunya berdua saja dengannya? Kenapa takdir seolah mencoba memisahkan mereka? Kenapa? Tidak ada yang mengetahui menjawabnya. Dan tidak ada juga yang bisa menjawabnya.

“Gabriel,” ucap Michaela. “Aku tidak tahu kau ada dimana sekarang, tetapi apakah begitu sulitnya bagimu untuk bertemu denganku walau hanya sebentar?”

Mata Michaela mulai berair. Tak lama kemudian, ia tidak bisa menahannya lagi.

“Aku sangat merindukanmu, kau tahu?” katanya lagi. “Mungkin memang sulit untuk meluangkan waktu bertemu denganku, tetapi sulit bukan berarti…”

“Bukan berarti tidak bisa, kan?”

Michaela langsung menolehkan kepalanya ke arah suara yang menjawabnya. Untuk melihat sosok Gabriel yang sedang berdiri sambil menutup kembali kedua sayapnya. Rasanya Michaela ingin sekali berlari dan memeluknya, tetapi sesuatu menahannya. Ekspresi wajahnya. Ekspresi wajahnya tidak lagi ceria dan tenang seperti yang biasa ia tunjukkan ketika mereka berdua bertemu. Malah sebaliknya, dia terlihat agak sedih.

“Gabriel?” tanya Michaela sambil berjalan perlahan mendekati kekasihnya. “Apa yang terjadi denganmu?”

Gabriel tidak menjawab. Tetapi pandangannya tidak lepas dari wajah Michaela. Seolah-olah dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ada yang menghalangi mulutnya untuk berbicara.

“Gabriel?”

Michaela menyentuh wajah Gabriel dengan tangannya. Dan baru saja jari Michaela menyentuh pipi Gabriel, tangan Gabriel langsung menggenggamnya pelan. Membuat Michaela merasakan kembali sentuhan Gabriel yang sangat ia suka. Rasanya begitu… menyenangkan. Meskipun telapak tangannya tidak sehalus dulu, tetapi semua itu sudah lebih dari cukup. Oh, betapa Michaela sangat merindukan ini.

Sentuhan tangan Gabriel langsung berubah menjadi sebuah pelukan erat. Tangan kirinya memegang kepala Michaela, sementara tangan kanannya memeluk pinggangnya. Pelukan ini membuat air mata Michaela mengalir lebih deras lagi. Sambil membenamkan wajahnya di pundak Gabriel, Michaela mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukannya.

“Sudah lama sekali aku ingin bertemu denganmu,” katanya. “Aku merindukanmu.”

“Kenapa kau baru datang kalau begitu?”

“Maafkan aku, sangat sulit untuk datang ke sini,” katanya lagi. “Tetapi seperti katamu, sulit bukan berarti tidak bisa.”

“Tidak apa-apa. Sudah lama sekali kau tidak memelukku. Aku juga sangat merindukanmu, kau tahu?”

Mereka terus berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Malah kalau bisa, Michaela ingin sekali memeluknya terus. Dia tidak ingin melepaskannya. Dia tidak ingin Gabriel pergi lagi meninggalkannya. Tetapi sayang, keinginannya tidak terkabulkan. Karena tiba-tiba saja, Gabriel melepaskan pelukannya. Wajah mereka saling bertatapan selagi Gabriel memegang pundak Michaela.

“Aku harus pergi lagi, Michaela.”

“Harus?”

“Ya,” jawab Gabriel yang setelah itu mencium Michaela. “Aku diam-diam datang ke sini, karena aku benar-benar sudah rindu denganmu. Rasanya tak bisa kutahan lagi.”

“Kalau begitu jangan pergi, tetaplah di sini bersamaku.”

“Kau tahu sendiri kalau aku tidak bisa melakukan itu, kan?”

Michaela menundukkan kepalanya. Sebagai pengucapan kata ‘iya’ secara tidak langsung.

“Maafkan aku jika membuatmu lelah menunggu, tetapi perang belum berakhir. Emeth terus berusaha untuk menekan kami, dan kami bisa saja kalah kalau lengah sedikit saja.”

Rasanya mulut Michaela ingin protes, namun tentu saja dia tidak jadi melakukannya. Dia mengerti akan situasi yang sekarang sedang terjadi. Karenanya, dia tidak boleh bersikap lemah seperti seorang anak kecil. Dia harus bisa tegar. Seperti yang selalu ia lakukan ketika menunggu Gabriel. Sebelum Gabriel pergi meninggalkannya lagi, Michaela memberikan sebuah kecupan di pipinya.

“Aku akan selalu menunggumu.”

Cahaya harapan di dalam hati Michaela kembali memancarkan sinarnya. Mulutnya tersenyum sambil melihat sang kekasih terbang kembali ke angkasa. Ya… dia akan terus menunggunya.  Selama apapun Gabriel akan pergi, dia sama sekali tidak peduli. Karena dia selalu yakin dan percaya. Kalau Gabriel pasti akan pulang dan mereka akan hidup bersama. Selamanya.

 

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Selamanya

  1. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Baiklah. Ini entah cerita romance keberapa yang udah saya baca. Tapi ini juga cerita dengan keju terbanyak. Overload. Banjir keju dimana mana. =__=

    Sori, tapi memang kejunya terlalu banyak sampe konfliknya beneran bikin saya: What? itu doang permasalahannya? tanpa ada solusi? >.<

    belum lagi bagian ketemu di padang bunga dan ukir-ukiran nama di batu. (mati tergeletak)

    Mungkin buat yang suka cerita jenis jenis Harlequin lebih bisa nikmatin cerita ini daripada saya.

    2 out of 5. :)

  2. Swandie says:

    maksudnya keju apa ya???

    Sebelumnya, makasi ya buat kritiknya. Saya memang baru pertama kali bikin cerita fantasi, jadi saya masih…. em, kurang bs berimajinasi. Saya mmg biasa nulis cerita bergenre romance.

    • negeri tak pernah-48 says:

      Bantu jelasin..

      Setau saya, keju itu pelesetan dari bahasa Inggris : cheesy.
      Artinya bukan betulan keju favorit Jerry si tikus, tapi picisan.

  3. Halo salam kenal ya :D

    Hmm, cerita tentang romance antar malaikat. Lumayan bagus sih idenya, tapi gw setuju sama gurugumawaru ^_^ Rasanya terlalu padat di flashback dan jadi terasa kurang greget. Mungkin kalau porsi banyak ngobrol di flashback itu dipake untuk menjelaskan lebih detil setting dan menambah alur cerita, bisa lebih bikin greget. Ini subjektif sih. Haha.

    Oh ya, kalau gw pribadi, keberadaan ‘wall of text’ (paragraf yang panjang banget kalimatnya) itu sedikit bikin pusing sih. Mungkin paragraf yang semacam itu bisa dipecah jadi paragraf-paragraf yang lebih kecil.

    Kalau ada waktu, silakan mampir ke lapak 244 ya ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>