Kisah Dari Buana: Serra di Lembah Sabit Kembar

KISAH DARI BUANA: SERRA DI LEMBAH SABIT KEMBAR

karya Ryan Dachna

Pikiran Serra teraduk-aduk seperti butiran-butiran pasir di luar kereta kadal yang ditumpanginya. Wanita berumur awal tiga puluhan itu meremas-remas tangannya yang dibalut sarung tangan kulit, mencoba untuk fokus pada tugasnya. Sudah lama ia tidak melakukan pekerjaan ini dan ia meragukan kemampuannya sendiri.

“Apakah kau baik-baik saja?” sebuah suara laki-laki, setengah berteriak untuk mengalahkan suara bising butiran pasir yang menghantam kereta tertutup itu dari segala arah, terdengar oleh Serra. Mata hijau gelapnya mencari asal suara itu dan menemukan bahwa laki-laki yang mengucapkannya sedang tidak berbicara kepadanya.

Laki-laki itu mengenakan baju pelindung dari cincin logam yang terlihat sering digunakan tapi terawat dengan baik. Ia juga membawa sebuah perisai bundar dan pedang. Seorang Petualang, tebak Serra. Ia berbicara dengan satu-satunya perempuan lain di dalam kereta berisi sembilan orang termasuk kusirnya itu. Perempuan itu masih muda, berambut hitam ikal panjang yang terlihat indah. Tubuhnya terbalut tunik murah. Pada bagian tubuhnya yang tidak tertutup – lengan, dan betisnya, Serra dapat melihat bekas luka cambuk. Seorang Budak, tebak Serra, mungkin sedang melarikan diri. Serra menebak demikian karena hanya mereka yang putus asa yang mau menembus badai pasir yang muncul sepanjang musim panas di padang gurun ini.

Padang gurun ini disebut Mati Pucat. Ia memisah benua Meduna di timur dengan benua Yuropa di barat. Menyeberanginya pada saat musim panas sama dengan bunuh diri karena badai pasir yang muncul di sana setiap tahun dapat merobek daging dari tulang. Tapi bagi mereka yang cukup putus asa ada satu alternatif: Lembah Sabit Kembar.

Lembah itu dulunya sungai yang mengalir dari sebuah mata air di Yuropa Tenggara. Entah bagaimana mata air dan sungai itu sekarang berada di bawah tanah, menyisakan sebuah lembah yang dalam, yang secara ajaib melindungi mereka yang di dalamnya dari angin-angin ganas yang menyapu Mati Pucat. Memasuki lembah itu dari Yuropa cukup mudah tapi dari Meduna, seseorang harus menyicipi sedikit Mati Pucat terlebih dahulu. Untuk itulah hadir para Kharoner. Mereka mempunyai kereta-kereta kadal padang gurun (satu-satunya makhluk yang tahan terhadap angin dan pasir Mati Pucat) yang dapat mengantarkan para jiwa putus asa untuk mencapai Lembah Sabit Kembar.

Serra memperhatikan para jiwa putus asa di dalam kereta yang ditumpanginya satu persatu. Ia melihat si Petualang tadi, lalu si Budak, lalu di sampingnya sepertinya ada seorang petualang lain. Beda dengan petualang yang tadi, petualang yang di samping Serra sedang terlelap. Petualang itu juga seorang laki-laki. Baju pelindungnya adalah sebuah cuirass, baju pelindung dari pelat logam yang menutupi hanya bagian dada dan perut. Di balik cuirassnya si petualang mengenakan gambeson – baju berlengan pendek yang digunakan agar baju pelindung yang berat terasa lebih nyaman saat dikenakan. Kakinya dibalut celana panjang kulit dengan pelat logam untuk melindungi tulang keringnya.

Alasan Serra memperhatikan orang itu sedemikian detil adalah karena wanita itu sadar ia mengenakan baju pelindung yang sama. Hanya saja cuirass Serra terbuat dari kulit kadal padang pasir yang dikeraskan dan juga Serra mengenakan sebuah jubah perjalanan yang menutupi seluruh tubuhnya. Jika tidak maka Serra yakin ia akan terlihat sama dengan petualang tertidur itu.

Wanita itu terus mencari kemiripan dirinya dengan si petualang yang tertidur. Ia tahu umur mereka setidaknya sama. Ia lalu memperhatikan senjata si Petualang. Beda. Petualang itu menggunakan pedang dua tangan sebagai senjata pilihannya, sedangkan Serra menggunakan belati, pisau lempar, dan busur silang.

Serra tidak menyerah, ia benar-benar berharap ada satu atau dua hal yang akan memberitahunya bahwa petualang itu juga seorang pencuri, seperti dirinya dulu. Matanya dengan hati-hati melihat tas kulit yang diletakkan si petualang dekat dengan kakinya. Ada banyak benda yang hanya dibawa oleh seorang pencuri, seperti ramuan-ramuan, sebotol minyak pelicin, atau seutas kawat yang hampir tidak kasat mata. Tapi Serra tidak melihat satupun yang dicarinya.

Setelah melihat orang-orang yang duduk di seberangnya, iapun pasrah menerima kenyataan bahwa ia harus menyelesaikan pekerjaannya tanpa bantuan dari penyusup lain. Tidak mungkin pedagang kaya dan tiga bodyguard yang duduk di seberangnya itu bisa membantunya kalaupun mereka mau.

 

Kereta kadal itu akhirnya berhenti setelah tiga jam perjalanan. Serra menunggu semua penumpang keluar dan mendekati Si Kusir. “Kharoner, berapa lama sampai ada kereta lain yang bisa membawaku kembali ke Meduna?” tanya wanita itu.

Si Kusir belum pernah mendengar pertanyaan seperti itu seumur hidupnya. “Kau tidak mau menyeberang ke Yuropa?” tanya laki-laki Meduna itu bingung. “Jawab saja pertanyaanku,” balas Serra jengkel.

“Tergantung apakah ada atau tidak orang yang mau menyeberang, kawan. Kalau tidak ada ya tidak ada Kharoner yang kemari,” adalah jawaban Si Kusir. Serra mengeluarkan dua keping emas yang langsung menangkap perhatian laki-laki berambut keriting itu.

“Tunggu aku di sini. Jika dalam dua hari aku tidak muncul maka kau boleh meninggalkanku. Kau boleh kembali ke Fahadil sekarang untuk membeli bekal, menyewa seorang ‘teman’, atau apa saja. Tapi setelah itu kau langsung kembali kemari dan tunggu aku. Setuju?”

“Setuju!” kata Si Kusir tanpa berkedip. Ia langsung menyambar satu keping emas pemberian Serra. Si Kusir mengerti, ia akan mendapatkan yang satu lagi hanya kalau ia menunggu. “Aku akan kembali ke Fahadil dulu untuk membeli bekal seperti kau katakan dan mungkin menyewa seorang bodyguard. Kadal-kadalku cukup ganas dalam bertarung tapi lembah ini banyak sekali makhluk buasnya. Walau begitu kau bisa mengandalkan aku, kawan. Aku akan menunggumu sampai mentari muncul dua kali.”

Serra hanya bisa berharap Si Kusir menepati janjinya. Iapun turun untuk menemukan para penumpang yang bersamanya tadi berkumpul membahas sesuatu. Saat ia mendekat mereka menoleh ke arahnya.

“Sister, bagaimana denganmu? Sudikah kau berjalan bersama dengan kami? Tentu lebih aman kalau kita berkelompok melewati lembah ini. Kami semua berniat menuju Batu Besar, kota para bandit. Di sana anda bisa meminta perlindungan mereka sampai ke Yuropa. Tidak murah memang tapi jauh lebih aman,” Si Pedagang tambun yang membawa tiga bodyguard menyapanya dengan sopan sambil menjelaskan apa yang mereka rundingkan. Laki-laki itu berumur empat puluhan – hampir lima puluh tapi masih terlihat penuh energi. Ia menenteng sebuah busur dan di pinggangnya ada sekantong penuh anak panah. Bodyguardnya semua berbaju pelindung dari kulit yang dikeraskan dan masing-masing membawa tombak pendek dan perisai.

Serra agak kaget waktu dipanggil Sister, panggilan untuk wanita yang bekerja di kuil. Tapi ia langsung ingat kalau pada jubah perjalanannya dibordir lambang Kuil Sang Pelindung. Kuil itu terkenal di Yuropa tapi di Meduna hampir tidak terdengar. Wanita itu menebak Si Pedagang pasti orang Yuropa.

“Atau kau lebih memilih untuk dilindungi oleh penguasa kuilmu?” si petualang yang tadi tertidur meledeknya. Serra tersenyum kecut dan membalas, “Penawaran kalian adalah bukti bahwa Sang Pelindung menyertaiku. Aku menerima perlindungan kalian.” Si Petualang hanya mendengus.

Serra tidak tahu mengapa ia berpura-pura menyamar sebagai pekerja Kuil. Ia merasa kalau Si Pedagang menghormati Kuil Sang Pelindung, walaupun Si Petualang Ngantuk tidak. Ia berharap sandiwaranya tidak menyulitkannya nanti.

“Maaf kawan-kawan, sebelum kita melanjutkan, siapakah yang mengusulkan kita bergabung?” selidik Serra kemudian. Si Pedagang membalasnya sambil tersenyum, “Si Pariah yang menawarkan pertama kali.” Laki-laki tambun itu menunjuk ke arah si petualang berbaju pelindung terawat. Serra tidak menyangka kalau laki-laki itu seorang Pariah. Yang dimaksud menoleh, melebarkan senyum dan mengangguk.

Pariah adalah bangsawan Yuropa yang telah diasingkan. Mereka tidak lagi mempunyai hak dan kewajiban seorang bangsawan tapi mereka masih memiliki kemampuan untuk membangkitkan sihir sens. Para pembangkit sihir sens dapat memanipulasi energi mistis yang tidak kasat mata, mengubahnya menjadi elemen tertentu yang dapat dikendalikan… asal mereka mempunyai kristal sens. Kalau para bangsawan dapat dengan mudah memperoleh kristal langka itu, para Pariah harus melakukannya dengan susah payah. Mereka harus mengumpulkan banyak uang untuk menyuap banyak orang guna mendapatkannya. Karena itu sebagian Pariah yang ingin mempertahankan kemampuan mereka membangkitkan sihir sens menjadi kriminal karena cara termudah untuk mendapatkan uang banyak adalah dengan cara ilegal. Sebagian yang masih berpegang pada nilai-nilai kemanusiaan menjadi petualang. Sebagian lagi mencari cara lain untuk mempertahankan kemampuan sihir mereka: menjadi mistikus sanguin.

Mistikus Sanguin menggunakan sihir yang berbeda dengan para pembangkit. Mereka pertama-tama membuat sebuah pakta dengan makhluk dari alam kegelapan yang nantinya memberikan mereka kemampuan sihir. Entah mengapa para pembangkit sens mempunyai kesempatan yang lebih tinggi untuk menemukan dan menjalin pakta dengan makhluk-makhluk halus yang ditemukan di tempat-tempat angker ini. Sebagai pengikat perjanjian najis ini, seorang calon mistikus harus memberikan kepada makhluk kegelapan tersebut darah manusia. Nantipun untuk menggunakan sihirnya, seorang mistikus harus menggunakan darah tapi tidak harus darah manusia. Walau begitu setelah periode tertentu makhluk yang membuat perjanjian dengan sang mistikus akan meminta darah manusia lagi sebagai tumbal.

Tidak sedikit Pariah yang menjadi Mistikus Sanguin dan ini membuat Serra tidak nyaman berada di dekat mereka. Untuk itu walau ia menerima perlindungan teman-teman seperjalanannya, ia menjaga jarak dengan Si Pariah.

Malam datang sebelum rombongan itu sempat mencapai Batu Besar. Dari kejauhan mereka memandangi kota yang dipahat di tepi tebing, tepat di titik tengah Lembah Sabit Kembar itu. Mahluk-mahluk yang tampak seperti kera memasuki jendela, pintu, ataupun bukaan lainnya ke dalam kota dalam jumlah yang banyak. Kota itu sedang diserang.

“Apakah itu para Sniblin?” Si Petualang bertanya. Si Pedagang mengangguk-angguk, kekuatiran mewarnai wajahnya. “Ini yang disebut perburuan besar!” kata laki-laki tambun itu. Salah satu bodyguardnya menggeleng-geleng tidak mengerti. “Kau tau tentunya kalau para Sniblin biasa membentuk kelompok berburu dan menyergap penjelajah yang bepergian sendirian? Kalau mereka berhasil, penjelajah yang tidak beruntung itu akan dimakan. Peralatan yang dibawa olehnya mereka ambil. Sniblin cukup pintar untuk mengenali senjata ataupun sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. Untuk itu, setiap kali kelompok berburu sebuah suku berhasil, suku Sniblin tersebut akan mempunyai tambahan senjata. Kalau senjata mereka sudah banyak sekali, satu suku akan membentuk sebuah kelompok besar dan berburu bersama. Pada saat-saat tertentu, banyak suku akan mempunyai timbunan senjata yang besar di saat bersamaan. Di saat itu para Sniblin akan melakukan perburuan besar. Beberapa suku bergerombol dan menyerang kota atau desa manusia yang berada di pinggir peradaban, yang paling lemah penjagaannya. Dengan begitu mereka akan mendapat banyak buruan sekaligus ‘membuang’ anggota suku mereka yang lemah,” Si Pedagang menjelaskan. “Aku tidak percaya ini terjadi sekarang! Anakku ada di dalam kota itu!”

“Anakmu diculik bandit?” Si Pariah bertanya. Si Pedagang geleng-geleng, “Dia… Dia salah satu dari mereka. Aku kadang menemuinya sekedar untuk melepas rindu.” Setelah mengucapkan itu Si Pedagang bergegas mengumpulkan barang bawaannya. “Aku harus segera ke sana! Aku harus menemui anakku!” Para bodyguard membantunya.

“Kau gila! Yang paling masuk akal adalah kita harus menghindari perburuan besar seperti itu!” Si Petualang berusaha mencegah. Si Pedagang tidak mendengarkannya.

“Aku akan membantumu ke sana,” Si Pariah justru berpikir berbeda. Serra tersenyum dalam hati karena ia juga harus masuk ke kota itu. Lagipula apa yang diucapkan pendeta yang mengutusnya benar: akan ada pengalih perhatian yang besar sehingga pekerjaannya akan relatif mudah, asalkan ia tepat waktu. Jadi Serra pun mengemas barang-barangnya.

“Kau juga akan ke sana, Sister? Semua orang sudah gila!”

“Urusanku ada di kota itu. Tidak ada yang memaksamu ikut, Petualang. Tetaplah di sini dan lindungi Si Budak kalau kau mau. Sepertinya ia menyukaimu,” jawab Serra asal.

Serra bersama Si Pedagang, para bodyguardnya, dan Si Pariah mencapai Batu Besar hampir dua jam kemudian. Mentari mulai tenggelam membuat seluruh lembah menjadi gelap. Walau begitu para Sniblin sekarang terlihat lebih jelas dan penampakan mereka membuat Serra merinding. Makhluk-makhluk itu tampak seperti kera tapi tidak berbulu. Kulit mereka bersisik, seperti kulit kadal padang gurun. Makhluk-makhluk itu berisik sekali, berteriak-teriak dan berdecit-decit.

“Tidak mungkin kita masuk lewat gerbang depan!” kata Si Pedagang. Tiga bodyguardnya merunduk di depannya dengan perisai terangkat untuk menjadi tembok di antaranya dengan para Sniblin. Untungnya tidak seekorpun menganggap mereka sasaran.

“Aku tau sebuah jalan lain,” kata Serra sambil mengeluarkan peta pemberian pengutusnya. Ia menuntun rombongan itu ke sebuah batu yang berbentuk seperti roda besar. Ia mencoba mendorongnya sendiri tapi batu itu terlalu berat.

“Biar aku,” kata Si Pariah. Ia menyentuh kristal sens yang dipasang di sarung tangannya dan benda itu berpendar kuning. Ia lalu mengedipkan matanya dan roda batu itu menggelinding ke pinggir menunjukkan sebuah celah kecil. Serra mengangguk hormat kepada Pariah itu sebelum masuk.

Jalan rahasia itu membawa mereka tepat ke dalam salah satu kedai di tengah Batu Besar. Karena kota itu praktis dibangun di dalam tebing batu, bagian dalamnya harus diterangi dengan obor. Di dalam kedai itu kekacauan terjadi karena para Sniblin berhasil masuk. Serra menyentak tangannya dan sebuah pisau lempar langsung muncul ke masing-masing tangannya dari dalam jubah. Si Pedagang yang berada tepat di belakangnya kaget. Tidak pernah terbayangkan olehnya seorang pekerja kuil mempunyai senjata rahasia di balik jubahnya.

Beberapa Sniblin menyerang rombongan itu. Para bodyguard kembali menjadi tembok perisai. Si Pedagang menyerang makhluk-makhluk itu dengan busurnya sementara Si Pariah menghajar setiap makhluk yang berhasil melewati para bodyguard. Sekali-sekali Si Pariah menggunakan sihir sensnya yang ternyata memanipulasi batu. Ia menimbun satu Sniblin, menjatuhkan yang lain dengan memiringkan pijakan kakinya, dan menghantam lainnya dengan bongkahan-bongkahan batu yang diambilnya dari dinding kedai. Orang-orang lain yang terluka di dalam kedai langsung menyesuaikan posisi mereka di belakang Si Pariah. Mereka menyorakinya sebagai penyelamat. Di tengah kekacauan itu, Serra diam-diam keluar.

Batu Besar adalah kota yang mengagumkan. Kota itu seperti sebuah bangunan besar bertingkat tiga yang dibangun di dalam sebuah tebing. Pilar-pilar tinggi menopang langit-langit yang ditumbuhi jamur yang menyala-nyala agar tidak runtuh. Tangga dari batu menjembatani tiap lantai. Bangunan yang diincar Serra adalah markas para Tudung Biru, kelompok perampok yang saat itu menguasai Batu Besar. Mereka bersarang di sebuah bangunan besar di atas kedai tempat Serra masuk. Walau dekat, puluhan Sniblin menghalangi jalannya. Serra-pun menyatu dengan bayang-bayang.

Para Sniblin awalnya tidak melihat wanita itu, tapi tangga batu yang akan membawanya ke lantai dua diterangi banyak obor. Saat ia tiba di sana, puluhan Sniblin menyerangnya. Serra mengeluarkan sebuah ramuan berwarna hijau dari balik jubahnya, juga pemberian pengutusnya. Ia membanting ramuan itu dan asap hijau yang pekat keluar. Sambil menahan nafas Serra menyabet para Sniblin tepat di leher mereka saat makhluk-makhluk itu terdisorientasi bau asap tersebut. Wanita itu melesat ke lantai dua ketika separuh lawannya terbaring tak berdaya.

Para Tudung Biru mengunci diri di markas mereka. Jendela mereka dibuat sempit tapi tinggi agar udara masuk dengan mudah tapi makhluk yang lebih besar dari tikus tidak bisa menembusnya. Dari dalam, para perampok itu melempari Sniblin di luar dengan lembing dan menembaki mereka dengan anak panah dan bolt – amunisi busur silang. Serra yang tidak menemukan jalan masuk tahu ia harus membuatnya sendiri.

Dari dalam jubahnya ia mengeluarkan ramuan lain pemberian pengutusnya. Botol ramuan itu dari kaca sebesar kepalan tangan orang dewasa. Di dalamnya berisi cairan berwarna merah dan biru.

“Kocok sampai panas,” katanya mengingat-ingat instruksi dari pengutusnya. Ia membuka sarung tangannya agar dapat merasakan perubahan suhu ramuan itu. Cairan di dalamnya berubah ungu saat tercampur dan panas pun mulai terasa. Serra melempar botol itu ke pintu markas Tudung Biru yang terbuat dari kayu.

Blaaaaahr!

Sebuah ledakan hebat menghasilkan sebuah lubang yang besar. Para Sniblin yang cukup jauh dari ledakan melihat jalan masuk dan merekapun tumpah ke dalam markas Tudung Biru. Serra menyelinap bersama mereka ditutupi asap dan debu yang beterbangan. Tudung Biru yang menghalanginya ditebasnya dengan belati.

Wanita itu lalu melesat ke lantai atas markas sementara para perampok disibukkan dengan para Sniblin. Di sana ia melihat sasarannya. Sebuah buku bersampul kulit merah yang diletakkan para perampok di atas tumpukan rampasan mereka. Serra menyambarnya, disaksikan oleh dua orang Tudung Biru.

“Kembalikan itu, Pencuri!” teriak yang satu. Temannya menyuruhnya melupakan wanita itu, karena toh yang diambilnya hanyalah sebuah buku, bukan sesuatu yang berharga.

Serra menggunakan ramuan peledaknya yang terakhir untuk membuat lubang untuk melarikan diri. Ia juga harus menghabiskan semua ramuan asap hijaunya untuk menghindari kepungan Sniblin. Kembali ke dalam kedai minum di bawah, ia melihat situasi di sana sudah berubah.

Si Petualang telah bergabung bersama Si Pedagang dan para bodyguardnya, dan Si Pariah. Mereka juga dibantu oleh orang-orang yang selamat di kedai itu. Tapi karena Sniblin menemukan jalan rahasia yang dibuka oleh Serra, jumlah mereka banyak sekali!

“Bantu kami, kawan! Jumlah mereka berlipat ganda!” teriak Si Pedagang. Serra sebenarnya merasa bersalah, tapi ia tidak ada waktu. Iapun mengeluarkan ramuan lain, tapi yang ini buatannya sendiri.

“Tutup mata dan telinga kalian! Setelah mendengar letupan keras, berhamburlah keluar dari kedai ini! Kebanyakan bangunan di lantai kedua bisa menahan para Sniblin. Jika ragu keluar sana, maka ikutlah aku keluar dari kota ini!” teriak wanita itu. Ia tidak mengulang perintahnya dan melemparkan ramuan berwarna kuning dengan serpihan-serpihan logam di dalamnya itu. Saat pecah, ramuan itu meledak dengan suara yang memekakkan telinga. Serpihan-serpihan logamnya berhambur ke segala arah dan langsung terbakar dengan bunga api yang silau saat kontak dengan udara. Para Sniblin terbutakan, begitu juga mereka yang tidak mendengar perintah Serra dengan jelas.

Wanita itu menyelinap keluar melalui lorong rahasianya. Sniblin-sniblin di situ tidak terbutakan tapi mereka juga bingung karena kekacauan di atas sana. Si Petualang yang memilih untuk mengikut Serra membuka jalan menggunakan pedang dua tangannya. Satu tebasannya bisa mengenai dua Sniblin sekaligus, kadang lebih. Dengan susah payah Serra, Si Petualang, Si Pariah, dan beberapa orang dari kedai berhasil keluar dari Batu Besar lima belas menit kemudian. Mereka berpencar ke segala arah mencari perlindungan di kegelapan malam.

 

Satu minggu setelah kejadian di Lembah Sabit Kembar, Serra berada di rumah kayunya di Fahadil. Ia bahagia melihat suami dan anaknya bermain, keduanya sudah pulih dari penyakit mereka.

Pengutusnya tidak berbohong. Saat Serra menyerahkan buku merah yang sempat dirampas para bandit Tudung Biru dari sebuah konvoi Kuil Sang Pelindung, pendeta yang mengutusnya langsung menyerahkan obat untuk penyakit Demam Hantu yang diidap suami dan anaknya. Penyakit aneh itu hanya menyerang laki-laki dan tanpa obat dari kuil mungkin keduanya sudah tiada. Serra tadinya membenci Kuil Sang Pelindung karena memanfaatkannya seperti itu. Dari mana mereka tahu ia seorang pencuri, ia tidak pernah tahu. Tapi sekarang saat melihat buah hatinya kembali sehat, ia bersyukur mereka mengenalinya. Ia hanya berharap Kuil Sang Pelindung mulai sekarang tidak lebih hati-hati dalam menjaga barang-barang mereka. Mengetahui ia masih mempunyai kemampuannya, ia mungkin akan mengincar gelas emas yang mereka gunakan untuk ritual mereka. Atau mungkin alat-alat makan dari perak milik pendeta kepala.

Dari kedai minum sebelah rumahnya Serra dapat mendengar rumor baru: Kota Batu Besar sekarang dipimpin seorang pedagang tua dari Yuropa dan anaknya. Serra tersenyum mengetahui ke mana ia bisa membawa barang-barang curiannya…

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Kisah Dari Buana: Serra di Lembah Sabit Kembar

  1. Rea_sekar says:

    Cuplikan novel, nih :D

    Katanya anaknya ada di kota itu… tapi kenapa si Pedagang mau buang-buang waktu buat ngejelasin isi ensiklopedi? Hehe.

    Ah saia males ngasih cabe…

    • dachna says:

      Bukan cuplikan novel kok. Tapi sebelum kukirim kemari ceritanya jauh lebih panjang.

      Anak Si Pedagang kan bandit. Kekuatiran dia itu lebih mirip dengan kekuatiran kita kalo ngeliat anggota keluarga kita melakukan sesuatu yang biasa dia lakukan sehari-hari tapi tetap tergolong bahaya.

  2. laurentia says:

    Yuropa. Penamaan yang ini menarik. :D

    Saia suka pemilihan kata2nya. Saia baru tau ‘pakta’ itu eksis di KBBI (bener2 ngecek tadi). Salut :D
    Beberapa bagian masi terasa sedikit berbelit tapi.. alurnya terhambat sedikit – sedikit. Tapi saia suka pengembangan dunianya yang luas. :)

    • dachna says:

      thanks for the praises. aku sempet ngunduh Software KBBI buat memastikan kata-kata yang kupake memang betul bahasa indonesia dan karena aku kurang pede sama kosakataku.

      nama ‘Yuropa’ kubuat dengan sistem KISS – keep it simple-stupid. aku cinta banget sama sistem ini. :D

      ada saran untuk memperbaiki alurnya ga?

      • laurentia says:

        Sama, saia juga selalu siap KBBI di desktop tapi ga dipakai sering2 :)

        Buat alur ya.. mungkin narasi dan penceritaannya bisa dibuat lebih fokus? Meskipun stok imaginasi luas, tapi tulis yang memang diperlukan cerita saja. Tambahan2 sdikit boleh untuk menambah kesan/suasana/nada, tapi jangan sampai mengorbankan fokus. :) Mungkin loh ya.. saia juga masih amatir ini haha..

  3. Adham117 says:

    Bwahahha… gurun Mati Pucat. It cracks me up :D

    Setuju ama Rea. Ini kayak cuplikan novel. 2,5/5

    • dachna says:

      ‘cuplikan novel’ itu bukan sesuatu yang bagus ya? apa itu artinya cerita ini kurang jelas atau gimana?

  4. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Ih, kadal >.<

    Humm…cerita ini..gimana ya..bertele-tele? Kebanyakan penjelasan yang gak perlu menurut saya. Kalo dibilang penggalan novel, yah, cocok lah.

    Saya sampe baca dua kali supaya saya ngerti ceritanya gimana. Beberapa dialog juga bikin bingung, siapa ngobrol sama siapa, siapa ngomong apa…

    2,5 out of 5. Nice try :)

    • dachna says:

      aku cenderung pake penjelasan panjang dengan harapan mempermudah orang yang ga terbiasa baca fantasi. tapi setelah retrospeksi, juga mempertimbangkan komentar-komentar di atas, kayanya itu bukan ide yang bagus. thanks for pointing it out.

  5. Ardani si nomer 191 says:

    Ya, terlalu banyak penjelasan yang sebenarnya ga perlu. Sayang sih, karena mereka makan kuota kata. Selain itu, narasinya lancar walau sewaktu mereka udah masuk dalam kota terasa kaya diburu-buru. Dialognya juga mungkin perlu diperbaiki supaya lebih jelas siapa ngomong apa.

    Dan, tokoh utamanya kayanya serba bisa banget. Semuanya jadi kelihatan gampang buat dia.

    • dachna says:

      Great! Thanks a lot. Kayanya harus belajar buat dialog yang bagus ni, uda disemprit dua kali soalnya. :p

      Mungkin seharusnya aku jelasin background Serra aja kali ya. Anyways, aku bakal kunjungi punyamu di 4th of july. :D

  6. Xamdiz says:

    Secara pribadi lebih suka kalau motif Serra menyelamatkan keluarga ditaruh di awal, soalnya ditaruh di akhir pun tidak terlalu memberikan twist hanya penutup saja.

    Tapi aku suka ceritanya, deskripsinya pakaiannya terutama, serasa memang pernah liat pakaian seperti itu padahal nggak.

  7. Alfare says:

    …Salah satu alasan kenapa ini kerasa kayak cukilan novel sebenernya lebih pada fokus yang kamu kasih pada narasinya sih. Di sini ada bahasan soal geografi tempat, soal bentuk pakaian, soal struktur masyarakat, dsb. sementara informasi yang diperlukan dalam sebuah cerpen pada dasarnya cuma apa yang terjadi, pernah terjadi, dan akan terjadi aja. Detil-detil lebih menyangkut latar sebenarnya enggak perlu diceritakan (misal, soal Pariah).

    Tapi sebagai cerita yang ngasih itu semua, dan tetap berakhir baik dengan jumlah kata segini, kupikir cerpen ini udah lumayan bagus. Mungkin kurang memuaskan sih. Tapi hasil editannya tetap enggak akan kupandang sebelah mata.

  8. Fapurawan says:

    Bagiku yang terbaik dari cerpen ini adalah naming conventions nya. Nggak perlu dbikin nama-nama aneh fantasiyah, tapi sudah langsung membawa karakter yang kuat. Maksudku tentu nama-nama tempatnya.

    Padang Pasir Mati Pucat… Langsung terasa ‘penilaian’ para penduduk yang menamai tempat itu. Juga Kota Batu Besar, dll. Namingnya jadi natural dan make sense. Dan pembaca nggak perlu ribut meminta nama ‘asing’ tempat itu apa.

  9. katherin says:

    Plot cerita agak off focus sehingga sedikit sulit diikuti.
    Beberapa adegan dan penjelasan yg IMHO tidak perlu, malah dimasukkan.

    Setuju dengan Oom Pur. Penamaannya tempat2nya sederhana tapi menjelaskan banyak hal.

  10. No.3 ~ 8lackz says:

    apa yang orang cari dari cerpen?

    Cerita.

    maaf dachna, saya ngaku saya gak baca sampai abis… bukan soal Teknik tulisan kamu
    -yang bagus, namun lupa bahwa dialog 1 orang harap dipisah-.

    tapi soal Ketiadaan cerita saat saya sudah membaca sekitar 1000 kata.
    kamu membahas tentang padang pasir. kamu membahas tentang pakaian gerombolan orang.

    dan saat saya udah mempersiapkan diri… karena Kereta kadal akhirnya nyampe di tujuan dan siap bertualang…

    kamu mengulangi lagi deskripsi berlebih kamu. dan itu buatku sudah sangat downer…

    maaf sekali lagi saya gak sampai habis. walaupun mungkin ceritanya bagus… saya berhenti sebelum saya dapat apa “cerita”nya

    • dachna says:

      waktu baca komentar-komentar yang sudah baca ceritanya sampai habis aku tau bahwa penjelasan yang kutulis kepanjangan. mengecewakan sekali karena tadinya kuharap detil tentang dunianya menjadi daya tarik sendiri.

      kalau soal kamu ga baca sampai habis aku rasa itu bukan masalahku. aku tahu ada banyak masalah dengan ceritaku tapi kalau yang baca menghargai ya pasti diikutin sampe kelar. aku harap kamu juga bisa gitu, toh yang lain bisa. atau setidaknya kalau memang ga baca sampai habis ya ga usah diomongin. semacam ‘saling menghormati’ gitu lah.

      mungkin kamu uda baca cerita yang keren-keren dulu sepanjang pagi kali ya, jadi pas nyicip buatanku rasanya hambar… karena ceritanya ada kok, di tengah sampai akhirnya.

  11. red_rackham says:

    Infodump or overdescription……terlalu banyak deskripsi situasi yang dituangkan dalam cerpen ini, sehingga membuat pembaca jengah (termasuk saia). Gaya seperti ini adalah gaya yang biasa digunakan untuk membuat sebuah novel, bukan cerpen. Cerpen itu biasanya straight to the story, tanpa perlu banyak2 info mengenai dunia dan karakter2 yg ada di cerita. Yang diinginkan oleh pembaca cerpen biasanya adalah ‘apa ceritanya?’ ‘seru/menarik ga?’

    CMIIW~!

    Anyway, good luck and keep on writing (o___<)b

    • dachna says:

      ini pertama kalinya cerpenku di-’nilai’ banyak orang, tapi kurasa itu bukan alasan untuk kualitasnya. aku yakin seiring waktu tulisan-tulisanku bisa tambah bagus. terima kasih untuk semangatnya.

      kok kalian semua nulis ‘saya’ pake ‘i’ sih? stop it! it’s creepy! :|

      cheers.

      dan ceritamu keren lo, Red… jadi inget maen SPORES-ku yang bajakan. hihihihi

  12. Hmm… saia pengen nambah creepy factor: SAIA~ SAIA~ SAIA~ SAIA~

    Maaf sengaja. :3

    Buat saia sih ini menarik. Soal naming keren + infodump udah dibilangin di komen2 sebelumnya, jadi gak ngulang.

    Kalau dibilang kayak cuplikan novel… saia nggak merasa gitu. Soalnya ini tuntas dan tuntasnya pun cukup memuaskan. Masalahnya, deskripsi ‘ndut macam yang dipakai di sini lebih lazim ada di novel. Mungkin itu sebabnya pada banyak yang merasa cerpen ini kayak potongan novel.

    Saia juga mendukung usulan agar motivasi Serra bisa ditaruh di awal. Saia pribadi bisa ngeraba motivasinya; Mustahil Serra pergi ke Lembah yang Namanya Demikian Sangar itu kalau nggak ada urusan gawat. Tapi kalau sejak awal udah dikasih tahu dia cari obat buat **** dan ****, mungkin pembaca nggak terlalu hilang fokus waktu baca deskripsi. Soalnya inti ceritanya udah kepegang.

    • dachna says:

      hiii… :mrinding
      kayanya aku harus bikin semacam plugin supaya di browserku semua saia menjadi saya.

      thanks for dropping by luz. usulnya sangat dihargai. ;)

  13. My dear Ryan Dachna, ini aku, dari kios 260.
    Pada dasarnya sebuah deskripsi yang panjang bukan masalah, selama diperkuat juga dengan dialog yang gemilang. Latih atuh bagaimana para tokohmu bertutur. :D

    KBBI ada softwarenya? Mau dong. Aku baru tahu. (Abaikan ini).
    Hm. Ada orang yang lebih prefer baca kitab segede gaban, ada juga yang lebih suka tercenung sendiri depan laptopnya. Kalau kamu edit cerita ini, mestinya akan sukses jadi Novel lho… Coba pelan-pelan dulu, novelet/novella yang cuma 60 halaman gitu.

    Tentang i jadi y, ini typo yang bukan masalah. Bahasa alay kadang justru bisa mengakrabkan penulis dengan pembaca. Om Andry Chang pasti ngerti karena keripik Bu Prinya juga seperti itu. Kraus kraus, ringan, tapi pas sekali kadar minyaknya.

    Jangan pernah merasa terlambat untuk sebuah keajaiban. Ingatlah latar cerpenmu, hargai setiap tokoh dengan baik, maka cakrawala berpikirmu akan jadi lebih luas. Misalnya saja buku Estarath Villam, bisa bagus meski tipis (bahkan ukurannya saku), padahal hanya mengambil dari legenda Viking kuno. Atau, sambangi tab Safarimu, liat dengan jelas dan teliti Youtube, mainan Bottle Shooter, dan bagaimana anak-anak sekarang mainannya canggih-canggih. Save the answer for yourself. Sekarang media internet, yang maya ini, lagi marak dengan plagiarisme, fitnah, penolakan, juga berbagai konflik politik. Ini barangkali karena Jokowi bikin kaos seratus ribu, dijual sama tukang bawang pula. :)
    Aku jujur kok… Sepupuku baru aja cerita semalam.

    Teliti sebelum membeli ya. Aku kira dari namamu kamu perempuan, tapi klo ada ryan-nya… Berarti lelaki? *kok jadi mikirin Meg Ryan dan Brad Pitt di Troy yah? Atau City of Angels.* Hmh. :v, :S, :|

    Yasu gitu doang. ;)

    :D Kalau ada orang yang nanya di FB, hati hati ya! Sebuah kebodohan dalam membuat akun jejaring untuk tokohmu juga bisa bikin hal simpel yang ajaib koq… Kan kosa maupun kata itu nggak terbatas? Hehehehehehe. Kakak Dian. K alias Klaudiani, aku mau berbagi profpic. Kagaya, seniman jepang yang ilustrasinya dipake sama peri itu, aku sangat suka! Jangan kebanyakan nge-tweet ya? Nanti ketiban hashtag lho!

    Salam tempel uang jutaan ala Mr. Linderman,
    Dini yang cantik dan lagi pilek.

    • dachna says:

      Novela… layak dicoba tu. Latihan dialog… okay. Terus yang dibawahnya… syntax error! Hahahahahah… Reading whatever you write is fun. Thanks for stopping by, DPL.

  14. DPL :) says:

    Sama sama! GBU. :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>