Shaman Queen

SHAMAN QUEEN

karya  Dini Afiandri

Seorang Shaman Queen mesti menguasai 8 arah mata angin, 99 jenis umpan dan cara memancing, 108 rupa tanaman obat, serta tentu saja: Bagaimana mengobati luka sendiri.

 

Layaknya beraneka jenis satwa yang ada di Bumi Pertiwi, sang Ratu juga harus berani menghadapi kemungkinan dari berbagai sisi. Tak pelak, ia yang bertanggung jawab bila koleganya terluka oleh kebuasan hutan, atau apabila panen jagung musiman diserang hama belalang. Untunglah, ikan cakalang masihlah melimpah ruah, sebagaimana pangkuan lautan menyerpih dan menyambut siapa saja di dunia; selayak tanah lelah digali mineralnya, dan ketakjuban seorang anak menyaksikan hujan turun saat senja.

Di desa Chattaya, yang kerap kali dilanda badai serta terjangan Tsunami, semua orang telah terbiasa berjuang menghidupi hidup dengan gigih. Syukurlah, mereka tidak sendiri. Ada Hwoarang, panglima terhebat di desa mereka sebagai pelindung. Juga ada Khanvazo, seniman yang mahir meniup seruling daun bambu, sekaligus ulet menggunakan pinset dan kuasnya bak Shuriken. Terakhir, adalah Shaman Queen: Terakhir dari rasnya: Bottaniela Arumanh.

Ada yang memanggilnya Bottany, Tannia, hingga Ella. Khusus yang terakhir, hanya dua sahabatnya yang memanggilnya demikian. Dan seperti biasa, diapit Hwoarang dan Khan yang notabene keduanya lelaki, Bottaniela berterimakasih sudah dikagumi. Untuk urusan kisah romansa, gadis itu sungguhlah dibebani tanggung jawab yang sedemikian beratnya. Sebab, ia pemimpin di antara mereka bertiga. Belumlah selesai urusan pangan sedesa, salah-salah lumbung panen mereka disulut api oleh Wiccan iseng. Oh my goddess, batin Ella.

Maka, alkisah pada suatu hari yang melenakan di desa mereka, bukit kecil di tenggara disatroni makhluk aneh. Makhluk yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Bottania melihat makhluk itu secara sembunyi- sembunyi meraup daun kebanggaan desa Chaittanya. Mengintip dengan waspada, dari balik semak, Bottany meraba dagger di balik rompinya. Belum pernah ia melihat hewan seperti itu. Bundar, setengah gelap dan setengah terang, dan menyerupai salah satu Totem, tapi baunya sama sekali berbeda. “Apa sih itu?” batin sang Shaman heran.

Makhluk itu melenguh, dari lubang hidupnya keluar embun. Sesekali ia mencakari daun-daun dan mengunyahnya, diiringi geraman pendek. Mendadak semak di seberang Bottany tersibak, satu sosok berpakaian kulit rusa menyeruak.

“Stop! Siapa kau? Daun itu bukan milikmu!”

Ternyata Khanvazo. Di tangan kanannya yang terkepal, sudah siap 5 pinset. Khan menunduk dalam kuda-kuda siap perang. Gadis itu melepaskan tangannya dari balik rompi, lalu keluar dan melerai. “Tahan, Khanvazo. Ariverdecci.”

Khanvazo mendelik, lalu memberi salam hormat. “Daulat, Ratu,” ujarnya, tanpa melepas pinset-pinset itu. Sang Shaman Queen maju ke tengah, dan menatap hewan hitam putih itu pada matanya. Hewan itu balas menatapnya, lalu bersendawa. Bottany tertawa.

“Ini Panda, Khanvazo. Bersuka-rialah, kita kedatangan tamu dari jauh.”

Tak perlu waktu lama, Bottaniella bersahabat dengan Panda itu dan menggiringnya memasuki desa Chaittanya. Terdengar seruan “Ooooh!” dan “Aaah!” dari para penduduk yang tak mempercayai mata mereka. Hari itu, makhluk itu jadi pujaan penduduk semua. Malamnya, sesuai tradisi, mereka membuat api unggun dan berpesta pora dengan daging Dinodane bakar. Kebetulan sekali sedang musim buah mangga madu dan lotus lokam. Semua merasa bahagia dan sukacita. Bahkan seniman utama mereka, penyanyi Shah Safir dan pemetik harpanya juga menyanyikan tembang penyelaras alam. Hanya sedikit yang menyadari, ada banyak ras Rhakshasha yang melihat dengan penuh iri dan kecemburuan. Roh hutan yang kecil-lah yang berpendar, tapi mereka semua geram karena kedatangan Kali Brewsheehan. Firasat buruk menggelantung di udara.

Paginya, awan gelap menyertai kedatangan angin dingin dari Utara. Mendadak, seisi desa Chaittanya menjadi beku olehnya. Segenap petani langsung cemas. Para tetua berlindung di dalam rumah mereka yang beratapkan rumbia. Hanya Chevond, ayah Ella, yang menyadari bahwa ada konspirasi tersembunyi di baliknya, melalui pengamatannya pada Cermin Galaksi miliknya. Dan seperti biasa, Fortuna Hellstrone, sang permaisuri, menyadari keganjilan suaminya yang mengerutkan kening dan bertopang siku ketika mereka sarapan pada pagi yang menggigilkan jemari itu. “Kau resah, rajaku. Apa karena penglihatan?”

Chevond berdecak, dan gelas berisi karamel susu di tangannya melayang, menuangkan isinya ke dedaunan di luar. Isi gelas itu langsung berubah menjadi stalagtit dan stalagmit unik di antara rumpun bunga Pappilaya. Seperti biasa, tak ada manusia yang percaya, kalau alam bisa marah sama halnya dengan Godiva Enchantressima, dewi utama mereka.

Pagi itu, putri mereka, satu-satunya yang bermarga Arumanh, sewajarnya bosan setengah mati. Akhirnya dia menabahkan diri dan terjun dari atas menara kamar tidurnya. Begitu menapak tanah dengan keanggunan yang sulit diungkapkan, Ella melompat dan berlari kecil menuju bukit Nimue di arah timur. Berniat menengok makhluk luar biasa ternama itu.

Di sana, bukan panda itu yang ia temukan, melainkan sesuatu yang naas. Daun-daun bambu penuh dengan cipratan darah. Ada yang mengacak-acak sarang si panda dengan kebrutalan yang amat sadis. Pagi itu, Bottaniela sang Shaman menangis tak ubahnya perawan suci. Ternyata sedemikian cepat roda karma berputar. Padahal pertemuan mereka begitu singkat. Dalam isaknya, sang calon ratu itu berdoa dengan segenap hati, sambil berlutut dan menangkupkan tangannya di wajah. Gua kecil di ceruk itu penuh lumut kebiruan. Serentak, turunlah blizzard paling parah dalam 508 tahun belakangan. Ada gempa kecil di bagian tengah sentral desa mereka. Gadis itu tak menyadarinya karena insting serta nalurinya punah.

Hwoarang & Khanvazo berembuk cepat. Kalimat pertama dalam benak liar mereka adalah: Selamatkan Shaman Queen mereka! Kedua pria itu mengerahkan seluruh daya agar ada tunggangan yang bisa mereka gunakan. “Rang, semua pegasus di istal habis. Kita harus mengandalkan kaki.” “Kau saja! Dan pastikan Yang Mulia serta Permaisuri juga tak memberikan mandat yang aneh. Aku harus ke hutan Kamelea! Ini mencurigakan.” Sontak Khan membebatkan bulu rubah di leher, kaki, dan pinggangnya, kemudian membanting pintu pondok Mustang Voldo. Hwoarang menghela napas panjang, lalu menghembuskan arak di mulutnya ke pedangnya yang membara. Dengan cakram serta torpedo buatannya sendiri, dia memulai misinya sendiri, yang hanya diketahui oleh dirinya.

Khan menabahkan dirinya dan berharap bulu di tubuhnya cukup kuat agar jari kakinya tak membeku. Dalam hatinya hanya ada satu tekad: menemukan ratunya utuh, dan barangkali saja hewan yang mereka temukan itu juga masih aman, nyaman, dan penuh kehangatan. Jarak bermega-bilyun dia tempuh secepat sebuah roket menembus kehampaan malam. Khan tidak peduli meski perutnya kosong, atau apakah kertas papirus di pinggangnya meleleh. Kadang, dalam siluet salju yang membutakan itu, dia melihat ilusi. Sebuah fatamorgana palsu ilmiah. Dia memang ksatria yang mendahulukan hati ketimbang jimat, seperti penyihir yang konon hanya bisa dikalahkan bila hatinya telah menjadi semerah batu Rubi. Hanya kesia-siaan yang menjadi gratis alias percuma. Begitulah dia berpikir sembari memacakkan tongkat sabitnya ke tanah. Kapak di pinggangnya siaga demam pasca berburu kameleon, semerah bara matanya yang memang suka berdarah di tengah pupil. Tepat di tengah.

Sementara itu, Hwoarang, Panglima termegah yang pernah ada, sudah selesai mengenakan rompi baja dan helm warisan leluhurnya. Tampang dia saat itu amat menyerupai Zeus, karena godam milik Smithsonian dia pinjam. Pilihan yang paling tepat adalah monster, sebenarnya, tapi Rang memilih mengoleskan moster dan mayones ke atas rotinya, diselipkan sehelai daging rusa Prongsmeneade. Yang menjadi ornamen gubuknya hanya Tanduk berulir ular, yang akan meledak bila ada sepercik saja panas cabe. Dia menghela napas panjang. Dia kenal betul Ella. Mencintainya sedari dia bayi karena usia tak terkira sedangkan ketika belia, 7 tahun jangka roh, dia sudah melihat Miss Arumanh dalam kereta bayi dari pohon beringin. Rang merasa ingin menangis, tapi disapunya air yang nyaris jatuh itu hingga pelupuk matanya tak sempat membasah.

 

Barangkali saja, masih ada harapan.

Rang! Haram tahu untuk menjadi cengeng. Kau panglima kenamaan. Mengapa takut pada tikus belang? Ayo kita perang Muaythai!

Hihihihi.

Hahahahahahaha! Pengecut kelas kapak!

Darah. Api. Tanah. Abu. Arang. Dan menjelmalah ingatan masa lalunya jadi sebuah serpihan sesal yang mengendap dalam kalbunya seperti sabetan bayonet. Penyiksaan di masa kanak-kanak itu akhirnya mengurungkan niat pria itu untuk keluar… Menangis sejadi-jadinya teringat gadis pujaan, Hwoarang membanting pintu, menerabas salju, batu, dan kayu. Hari itu 4 Janiversade 150sM. Sungguh tersial, ternaas, dan terbakarlah bara cinta, gilang gemilang, hingga doa-doa segenap kampung itu tak terdengar. Dalam kekacauan itu, hanya Nancy, seorang bocah, yang berdoa kepada taring gajah di dalam museum gua es: “Dewi, aku mau ketemu panda itu lagi. Dewa Goliathaxx, lindungilah desa kami. Sekian. Syukur tak terkira atasMu. Ini persembahan dariku, setangkai dupa Aishwarya.”

Sialan! Aku sudah berusaha menebas dia dengan kapak ini tapi kepalanya tumbuh lagi! Kenapa mendadak ada kalajengking sebesar lapangan sepak bola di sini! Aku benci semuanya! Aku kejam pada dunia ini. Lebih baik aku mati saja!

“Apa ini yang aku tabrak! Celaka! Siluman berkepala Sembilan Belas! Aku harus membinasakannya. Rasakan ini! Rasakan petir ini! Oh tidak, aku salah langkah, dia menghantam lututku tepat di syaraf. Bagaimana ini? Seisi desa Chaittanya terbakar!”

Kedua sosok itu bergumulan di atas tanah tak ubahnya pesumo dari cokelat. Mereka orang Eskimo yang tak mengerti apa itu seruit. Selulit seperti kulit jeruk saja tak punya. Jangankan senjata apalagi tongkat sihir! Menahunlah pertarungan itu. Khan terpaksa ambil sikap tanpa pandang bulu. Dalam sekejap saja, tubuhnya menjelma jadi Serigala Perak. Musuhnya, yang dia tabrak barusan, entah mengapa mewujud jadi Naga dengan penyamaran cangcorang pada betis dan kedua lengan atasnya. Yang kurang hanya satu mungkin: Kupu-kupu, seperti Papillon yang asal katanya sama seperti rumpun bunga Pappilaya… Karena kendati sakti mandraguna, kedua jejadian itu seganas apapun, sudah jelas siapa pemenangnya.

Bibir Naga itu menyentuh Lidah Serigala Perak. Alih-alih api, hanya dingin dan manis terasai. “HAH??!”

Sontak mereka berhenti. Ternyata itu Khan dan Hwoarang! Mereka baru saja saling mencederai! Kaget itu berubah jadi tawa membahana. Mereka sampai sakit perut dan guling-guling di tanah bersalju yang bercampur dengan Kobekombu, ilalang ungu penyembuh anjing balapan.
Tak lama berselang, keduanya berpelukan erat.

“Maafkan aku karena pernah mengancammu dengan ilmuku. Aku ga sengaja waktu itu, kawan.”

“Aku juga minta maaf sudah meremehkanmu, Khan. Aku baru tahu jiwa ke tigamu sekeren itu. Lain kali, beritahu aku ya kalau mau pergi sendirian.”

Khan mendengus. “Sebentar… Bau apa itu?”

“Hm?”

Tiba-tiba saja satu kaki setinggi 40 kilometer menjejak dan menindih mereka berdua, efeknya jauh lebih seru daripada baku hantam sebelumnya. “Demi Dewa Goliath—–!” “Aduuuh!”

“Yuhuuu, aku menemukan kalian berdua! Tahu tidak apa yang kulihat tadi pagi? Sarangnya sudah diacak-acak dan berdarah, saudara-saudara. Mau tumpangan tercepat abad ini?”

Kaki itu mengangkat, dan melompatlah sang ratu Shaman yang rupawan itu dari bahu raksasa terluas, terlebar, dan tertinggi yang pernah dilihat oleh mereka bertiga. Ella langsung mengoleskan salep yang dimilikinya ke lutut Khan, dan membantunya menepis abu serta salju dari kulit rubah keemasan yang dipakainya. Khan menjerit dan memeluknya, lalu mencium Ella tepat pada bibirnya. Rang terperangah. Untuk pertama kalinya, dia tidak cemburu.

“My dear Lady Arumanh! Aku lega sekali kau baik-baik saja. Syukurlah kau selamat!” Ratu Shaman itu mendapati bibir Khan begitu ranum… Lembut meski sejuk. Rang berteriak kesal dan mengeluarkan aumannya yang terkenal bisa melumpuhkan Golem (raksasa batu) manapun. “Kurang ajar kau! Kembalikan calon ratuku!” Dengan paksa, Rang meraung dan menarik Ella dalam dekapnya. Mata tajam Khan berubah merah darah, pertanda sebentar lagi mata ketiganya akan menembakkan laser swastika. Ella, mengendusi setelah terbuai, tentu saja diam seribu bahasa. Feromon Hwoarang ternyata begitu memabukkan.

Geraman kasar dan membahana yang superduper jauh lebih lebay dari mereka terdengar di atas langit lapisan ke-9. Itu suara pemilik kaki.

“SIT STILL BARZUL-RRR-RAXX!”

“Iya aku tahu.” Ella berbisik dalam hati pada monster itu, sambil menikmati kehangatan yang dirasakannya, wajar saja, jauh lebih menghangatkan dan melenakan dibanding menyusuri seisi bunda bumi ataupun samudera manapun.

Sebuah tangan mahadaya menggamit Bottaniella Arumanh, Khanvazo Arbitrer serta Hwoarang Sung Lee. “Iya, ada apa?” Shaman Queen itu bertanya lembut pada Art, sang raksasa teman baru mereka sedesa.

“Pandaren Brewmaster; Kali Brewsheehan—saya– pemilik gelar Ode Merlin 3, master ilmu mantera 753, dan jurus 1.011.204.666 tata bahasa Runic melapor. Salam perdamaian serta persahabatan sejati kepada Khan, penerus nabi Daud, dan Rang, pewaris tahta Chaittannya berikutnya. Teriring salam kepada Bottaniela Arumanh, daulat, baginda!”

Raksasa itu mengecil, terus, terus, mengecil, hingga mencapai ukuran manusia normal. Tampaklah panda kesayangan mereka, mengenakan caping, menggotong satu pundi arak ekstra keras di tempayan serba guna, dan menyandang nunchaku alias tongkat berantai 5 berwarna hitam bergaris ungu. Yang ternganga ternyata dua orang pertama. Ella bahagia sekali. Doanya terkabul.

Mereka kembali ke desa. Tanpa bekal apapun selain seorang dewa baru bernama Kali. Salju meleleh jadi abu. Kastil, dihiasi semerbak pelangi. Baru kali ini ada pesta pernikahan ganda: Ella, yang menikahi kedua kekasih hatinya sekaligus dalam satu waktu. Permaisuri, Raja, dan rakyat meresmikannya di tengah musim semi yang mencerahkan.

Indahnya dunia. Kujamin semesta bersorak riang gembira. Boleh jadi sebuah bulan madu dicukupkan dengan pesta pora susu kuda liar. Hanya saja, malam itu juga, ketiganya berdekapan di kamar di atas ranjang dinasti Ming di kamar pengantin mereka. Nyaman sekali, meskipun bantalnya hanya kayu berlapis selimut. Si pengantin wanita merangkul Khan juga Rang pada bahu mereka. Ketiganya sudah mengerti satu sama lain, merasa mengerti arti kehidupan, bahkan untuk pertama kalinya mereka menikah. Khan menggeser posisinya ke kanan, megecup pipi Ella lembut. Hwoarang tampak amat mengantuk dan lelah, tapi tak urung melingkarkan lengan kekarnya di pinggang istrinya. Ella baru menyadari betapa kemayunya dirinya selama ini, ditabahkan oleh kedua suaminya.

“Sayang, mau minum apa?” Khan berbisik mesra di telinga Ella yang cuping atasnya seperti peri hutan yang mulia. “Tidak usah.” Jawab gadis itu.

Rang menguap. “Aku juga mau tidur sajalah.” Akhirnya, menyerah, Ella mengecup dan memagut bibir suami keduanya itu dengan jauh lebih bijaksana. Kemudian mengakhirnya dengan sapuan jemarinya yang menyejukkan ke dahi yang berpasir itu. Khan bangkit dan beralih ke poci teh di meja kecil berpendarkan api lilin wangi. Tanpa sadar, gadis itu tertidur karena aroma memikat kamar mereka yang indah dan sederhana. Ketika menyeduh teh sereh beraroma legit itu, Khan menyadari gula batu habis. Pelan tapi pasti, langkahnya keluar dan ia menaungi wajahnya dengan sebelah tangan. Istrinya cantik sekali ketika tidur. Dengan senyum terulas di bibirnya, ditiupnya lentera, lalu pergi ke dapur istana.

Ketika melewati istal, pria halus itu menyadari satu keanehan. Kuda kesayangan mereka sedari kecil, Santosh, tidak ada di kandang. Cuek bebek, dia melenggang dan memeriksa stoples di atas rak dapur. Habis total rupanya.

“Mau kubelikan?”

Terperanjat, stoples itu jatuh dan pecah berantakan. Ternyata Kali, dia sedang bersemu merah karena sake. “Kau buat aku terkejut saja! Jangan mabuk terus dong! Sudah tahu musim semi, kok ga merokok klobot jagung saja?” Damprat raja Arbitrer kesal. Kali terkikik, lalu menyapu hidungnya. Ternyata begitulah dia dalam wujud manusia, hanya seorang pria gembel dengan rambut keriting berantakan tak ubahnya Sirius Black atau Madam Lestrange.

“Sudah ngapain saja sama ratu?” Kali mengakak, lalu menyulap stoples itu jadi utuh kembali hanya dengan telunjuknya. “Itu privasiku! Kau kurang ajar, bung! Awas kalau ada mata-mata yang menyadap ini!” “Hei, tenang. Aku kan tidak bertanya kama sutra padamu…”

“Buku apa pula itu?”

Panda itu terbahak, lalu menyambar sesuatu yang usang dari jubahnya yang ternyata penuh dengan saku. Ada permen karet bekas, pisau cukur janggut, dan sekaleng karatan. Dari aromanya, apalagi isinya kalau bukan bir basi.

“Nih! Baca! Kitab dari jaman India saja kau tak tahu. Aku lihai dalam urusan itu, tahu!” Dan ting! Master Sheehan menghilang.

Khan menggerutu, lalu kembali ke kamarnya. Subuh baru saja tiba dan bunga dandelion bermekaran. Pastilah semua peri juga tertidur kelelahan.

 

* * * * *

Setahun tak lama berselang…….

Ada tawa dan canda baru dalam Istana Arumanh. Barangkali hanya sekelumit rakyat yang tahu, karena pagar mawar di dinding belakang kastil telah merambat hingga menghiasi benteng mereka dengan keteduhan, kedamaian, juga perlindungan. Siapa sumbernya? Tentu saja bocah kecil rupawan bernama Tajouq Al-Farid Mustafan. Ada juga satu sumber keriangan lain, yaitu kereta bayi yang bersandar di bawah pohon apel emas tepat di sebelah rumpun cengpo-persilangan cengkeh dan paprika.

Isinya adalah tuan putri Vania Liones Angela. Hanya famili yang menayangkan berita itu pada poster-poster serta surat terbang paling rahasia yang disegel dengan rune paling rumit. Makanya, justru sang permaisuri yang berduka cita karena sang Raja wafat tepat 6 bulan sebelumnya. Kendati demikian, Ella, Khan, dan Rang sehat wal’afiat. Orang kedua sedang diutus mendamaikan sesuatu di daerah terkejam di nusa dua, sedangkan Rang, yah, tentu saja ada di gubuk kecil Mustang miliknya dulu. Dia tipe orang yang mencintai buah hati dan kekasihnya dari jauh, sih.

Bayi mungil itu bermata indah sekali, pendarnya hijau seperti ibunya, dan bulu matanya kecoklatan seperti ayahnya. Sedangkan Farid, berambut biru, bermata kuning dengan pupil seperti kucing. Telinganya yang lancip mampu menangkap bunyi sekecil apapun, bahkan langkah Desperaux Tilling di perpustakaan (tikus peliharaannya yang kini sudah beranak pinak jadi marmut dan babi jerman). Yang dipertuan agung Brewsheehan juga masih suka ditemui di bukit itu.

Kini dia sudah punya istri, Elf malam penunggang macan putih bernama Tyrande. Meski istrinya suka memukul kepala Brew dengan panci karena kesal, mereka melewatinya dengan penuh kesyukuran. Meski belum dikaruniai anak.

Betapa terkejutnya keluarga Arumanh ketika menemukan golok berukir kesayangan Khan tertinggal… Rang mencoba membuka portal, tapi alih-alih paket itu terlempar, malah lubang hitam yang terbuka, menampakkan galaksi andromeda yang nyaris bertabrakan dengan bimasakti. Untung Ella tertawa dan menyaksikan. Tawanya yang bergemerincing seperti lili putih itu menyetop bencana yang nyaris terjadi, dan bulan serta tata surya itu seakan membeku dalam kebisuan.

“Sayang?”

“Apa, dindaku?”

“Sudah keren apa adanya kok. Tinggalkan saja. Si wujud naga itu pasti menang. Aku yakin.” Si mantan panglima tersenyum, begitu juga dengan istrinya, dan permaisuri yang sedang menyuapi Angela dengan ranumnya biskuit gandum perak pun merasa tak perlu bersedih lagi. Bayi itu berceloteh riang. Farid menghentikan gerakannya dengan pedang bambu di tangan, lalu terkikik-kikik. Nyaris saja menggelantung di dahan, lalu dalam hitungan 1 nanosekon dia sudah berada dalam gendongan ibunya.

“Papa keren! Papa keren!” “Ini hadiahnya! Kaca mata hitam yang kau dambakan!” Papanya sukaria, lalu memasangkan itu untuk melindungi putranya dari sengatan matahari yang silau.

Shaman Queen, Elfish King, atau pun apapun yang dinamakan gelar, tentu menohok jantung serta liver manapun juga detik itu. Tasbih semesta menggoyangkan setiap jengkal serta depa kampung mereka, kemudian turunlah hujan berkabut. Siang itu, sempurna. Memikat. Indah. Dan bahagia, tentu saja. Kadang-kadang yang perlu kita lakukan hanyalah memberi sedikit saja keberanian pada penerus kita untuk bersalaman dengan orang yang tidak kita kenal… J

Bruggh! Ella membanting Khanvazo di atas ranjang mereka yang kini bertatahkan rubi merah merona, dan seprainya seputih salju ketika mereka berseteru dengan dewa panda. “Aku merindukanmu… Aduh…. Iya iya sabarlah sedikit…. Ga malu apa dilihat anak-anak?”

“Biarkan saja. Paling mereka kira mainan baru.”

“KONYOL BETUL KALIAN.”

Itu teriakan sekaligus sindiran Hwoarang saja. Dia menyulut cangklongnya, lalu berlalu ke ruang tamu. Kitab dari panda ngeres itu sudah lama mereka buang ke keranjang sampah. Hasilnya, tenunan adegan itu sudah tersulam dan terpampang di ruang tengah. Apa gambarnya? Kau pasti sudah mengira sejak sebelumnya. Yang jelas, mereka hidup bahagia selamanya di kastil Gigantus Maxverian. Letaknya, di Atlantis. Berdampingan dengan benua Lemuria. Kelak, seluruh daratan itu menjelma menjadi sebuah negara bernama Indonesia.

Selamat menjalani harimu dengan penuh ketulusan. Semoga seluruh makhluk di lokasimu aman tampan nyaman senyaman anyaman daun Pandan.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

46 Responses to Shaman Queen

  1. fr3d says:

    ini pasti troll tingkat tinggi! lol xD

    dini, setelah membaca di bagian-bagian awal, tadinya kupikir ceritamu ternyata bisa juga lho jadi lebih “sederhana” daripada komentar-komentarmu selama ini…

    tapi pas sampai di bagian ini:
    “Pagi itu, Bottaniela sang Shaman menangis tak ubahnya perawan suci.”

    lalu lanjut terus ke bawahnya, tiba-tiba…

    all hell breaks loose!

    ahahahaaa

    ini cerita absurd yang berakhir dengan adegan ranjang (apa memang inti ceritanya itu? xD) –> ini compliment, karena aku beneran ketawa, wkwkwk

    oya, sepertinya ada bagian yang kepotong (dipotong?) di babak terakhir setelah bintang2 itu? iya kah?

    eniwei, kalau bisa jangan sering2 ya, takutnya nanti beneran ada yg sakit mata, fufufuw~ :P

  2. Sivuaster As says:

    hai, ini kunjungan balik dari 108 hehe :)

    Langsung aja ya..

    Saat mulai membaca cerita kamu, terus terang lama kelamaan saia mulai bingung dengan istilah-istilah yang kamu gunakan. Mungkin ini karena saia yang kurang wawasan dan pengetahuian tentang istilah yang kamu pakai (abaikan :P). Juga mulai masuknya beberapa karakter yang menurut saya cukup banyak seperti kurang fokus pada inti cerita. But, saia akui kosakatamu sangat kaya dan cara penceritaanmu sudah rapi. Menandakan kamu sudah memiliki jam terbang tinggi dalam menulis.

    Hmm,
    maaf ya kalau komenku seperti ini, mungkin saya yang terlalu bodoh karena kurang bisa memahami cerita kamu :)

    *piss

  3. Halo Dini, aku Ivon, dari lapak nomor 233 says:

    Cerita-cerita dan komentar-komentarmu membuatku bertanya-tanya:

    Apa yang sebenarnya ingin kamu perlihatkan?

    Apa kau putus asa, tak mampu mengalasani dinding yang tuli;

    atau tidak ada;

    dan semua demi ratapan kicau belaka?

    NB; aku lumayan suka ceritamu yang di sini:
    http://fiksi.kompasiana.com/cermin/2012/06/18/“sendu-semu-dan-mahligai-purnama”/

  4. Hallo Ivon, yang sudah berbaik hati mengirimiku sebait puisi yang penuh tanya. :)
    Pertama, apa itu mengalasani?
    Aku sudah terlampau biasa ngrasani kolegaku, hingga kadang aku lupa memijak ke Bumi. Kepalaku mudah mengembang dan hidungku mudah panjang oleh pujian yang lurus dan tulus. Pada intinya, saya ini cuma penyair kesepian. (Yah.. malah curcol. Hehehe.)

    Jadi,
    *gimana ya ngomongnya… uhm uhm…*
    Firstly, I’m not trying to show off or anything. Ada beragam “rasa” yang aku dapat dari 200-an cerita di kasfan, sama seperti, ada jutaan rasa juga ketika membaca komen-komennya. Beberapa di antaranya, membuat saya kalap dan mengeluarkan kebrutalan serta kesadisan saya, namun masih pada tahap romantisme (Susah neranginnya pokoke. Kalau ditekan lebih jauh, bisa-bisa saya jadi multilingual lagi, dan komen ini akan terlalu berbusa tanpa inti).

    “Komentar yang jujur dan apresiasi yang jujur akan menarik keingintahuan pembacamu untuk menggali tulisanmu lebih dalam. Terapkan ini, dan perkayalah cakrawalamu, perhalus plotmu hingga lebih subtil.” :|

    Terimakasih banyak sudah mengapresiasi Sendu Semu saya. Itu saya daftarkan untuk sebuah kontes kecil yang berakhir tanpa pemenang. Semoga ke depannya saya akan lebih sering posting di kompasiana. Ivon, teruslah menulis. Kau jenius, kurasa. Kalau aku boleh memberi rekomendasi, cobalah baca Alien Oounyu-unyu-nya Cloverwitch. Dia lebih blunt, tapi ada kesamaan dia antara kalian. Temukanlah. ;)

    Segitu dulu. Pertanyaanmu menohok. Rasanya menggiring mood saya untuk meneteskan air mata ketika saya main seruling di tepian selokan kastil. Kafe saya akan saya liburkan lagi hari ini. Silahkan berkomentar lebih jauh. Sungguh, saya tak punya hidangan apapun. Minta keripik bu Pri saja ya sama Andri Chang. :P
    *ngeles seribu satu bahasa*

  5. Olla Fred! Welcome to the jungle! (Hey, cute parkit! :D)

    Makasih untuk komentarmu. Senang rasanya akhirnya ada yang ngakak juga.
    Babak terakhirnya nggak ada yang dipotong, kok. Mungkin jadi terkesan seperti itu karena narasiku lompat-lompat, atau karena banyak sekali plot hole. Hiks.. :(

    Iya deh, nggak akan sering-sering. Sepertinya yang harus kulakukan dengan Shaman Queenku adalah melabelinya dengan embel embel “Dewasa” alias 17plus. Wakakakaka.

    Buat Sivuaster As, ehh, jangan minta maaf! Nggak apa-apa kok… Kuterima pujianmu dengan senang hati. Lega rasanya ada yang bilang jam terbang saya tinggi, padahal tidak demikian. Masih berjuang soalnya dengan novel saya. Deadline-nya juga sudah dekat. Doakan saya ya! (^_^)

    Lapak 108 ya… Aku suka salah sebut nama kalau kelamaan ngider di antara cerita-cerita pendek di kontes ini. So, mulai sekarang, kalau ada yang udah saya mampiri lapaknya terus balas komen di sini, dan saya bilang saya blom pernah komen balik, maaph sangat, bukan maksudku tapi apalah daya lupa itu manusiawi. :D

    Tolong kunyah-kunyah cerpen saya lagi! Opsir Panda kok nggak pernah mampir ya? Hmmm… Sabar menanti deh.

  6. red_rackham says:

    Dafuq i just read….

    Saia bingung menentukan ini epic fail atau epic win. Kesannya kacau sekali, tapi ditengah kekacauan itu saia mendapat adanya keteraturan. Kayak lukisan abstrak yang ga abstrak.

    Btw…tokoh favorit saia disini adalah si Panda…Raawrrr~!

    Good luck and keep on writing~! (o__<)b

    PS:
    Sudahkah anda (dan panda anda) mampir ke Plantearium saia di no.18?

  7. WTF? ROFLMFAO.
    Bagus deh. Akhirnya tuh panda ngeres aneh jablay tapi keren itu ada juga yang muji.
    Tweeeewww… *toink*. :)

    red_rackham, aku belum baca Planetarium. Yang terbayang sejauh ini sih Boscha ya, tempat Sherina dan Derby Romero :3

    Boleh saja klo mau mampir-mampiran. Sebutin masakan kesukaanmu dong gan,
    Si Opsir Magdalena suka bambu pake pita, tapi duluuu banget dia bingung aku sodorin nasi goreng asparagus. Padahal kan kandungan spirulina-nya bagus banget. Nyam nyam nyam… Hehehe. Yasudah sebelum OOT dan Tsuu Ka apalagi sugoiii, aku mau nyelesaiin gambar siluman terhebatku ah… Susah ya gambar Thorn. Pokoke begitulah. :(

    Telanjang? Piyuuuuu! >.< Haram lah!~! (Apa pula ini? Aku kecanduan Oyabun nih!)

    Xie Xie!

  8. dachna says:

    ini cocok untuk mereka yang merasa sudah pernah membaca segala macam cerita… hahahahahah.

    aku ada pertanyaan ni! gimana caranya kamu nulis itu?? trus berapa lama? 20 menit? 20 hari?

  9. Aku mau tulis resep Butterbeer:
    1. Susu
    2. Jahe
    3. Mentega karamel,
    Masukkan ke microwave sampai berbusa. Selesai!
    Terus dachna, kamu nggak akan percaya kalau aku bikin itu cepat sekali. Aku share segalanya deh di sini. Jangan keberatan baca ya, panjang banget loh. Aku dulu emang murid Deddy Corbuzier, Romy Rafael, Om Jack, dkk. Pentagram School of Magic. Kolegaku itu Damian, Bowo, dll. Mereka itu orang-orang dengan ego yg gede bgt. Liat aja Joe Sandy yg main teleportasi batu, marah-marah terus. Umar, murid Damian, main bagus. Semua yang berkaitan sama Sihir, Hipnosis, dkk aku udah tamat lah, nggak level itu! Aku sangat kesal dengan semua orang yang bisanya nyampah, gembar-gembor ini itu di notes facebook padahal pencapaiannya? Nihil! Aku juga kesal sama orang yang menggambar sketsa tapi pewarnaannya jd jelek. Discan pula. Aku lg berusaha ngegambar manis-manis, eh, ujug-ujug keponakanku main laptopku. Ujug-ujug lagi, semua yang berkaitan dengan listrik mati lampu pemadaman bergilir.

    Aku sudah melewati kesialan itu. Bahkan jauuuh lebih parah ketika aku disidang di Tobucil. Mereka nggak punya etika! Boleh saja Tobucil jadi RLWC. Tapi kalau sudah bawa-bawa nama Tuhan, jurnal ga beres, itu bencana namanya! Itu sebabnya aku nggak pernah banyak-banyak masukkin google map, status, apapun yang berkaitan dengan SMS palsu penipuan! Liat aja, jauh lebih oke kalau kamu bahas secara rahasia via inbox. Bahkan aku pun nggak akan suka kalau hape Kibia dan Noboruku dicopet. :)

    Oke, cukup sudah gombalersnya. Kepada para juri, sadarilah bahwa menganalisa sebuah komen, sekecil apapun itu, akan percuma kalau ini bukan kompetisi. Lihat saja para hackers tolol yang bisanya cuma ngegadget, bergulat dengan pasar saham seperti di film Disney apapun. Saya angkat suara sajalah buat Kastil Fantasi ini. Cepat kalian semua yang lagi online, buka kaskus, buka google, buka segala sesuatu yang terkait riset. Kenapa saya bilang gitu? Karena Karma Negatif sekarang sudah merambah ke segalanya. Ingat, aku ini siapa. Kalau aku sedang amat peka, jaringan alam dan langit pun bisa kusadap dengan mudah hanya dengan telinga dan cakra mahkota.

    Udah ah…. Capek nulis 150 halaman. Desire Purify Loki mau spoil myself with DVD Perancis yang berjudul Fur. Ingat Ingat Ingat! *ting!* Ala Bang Napi yang pake topeng P.o.t.O! Cacau ya! Duty calls! Send my regards to all the beloved members! Sippirilio.

    Terakhir, ini list mantera HarPot: Engorgio, Lumos Solem, Alohomora, Petrificus Totalus, Incendio, Expecto Patronum, Avada Kedavra, dan khusus buat semua gamers, ayo kita henshin jadi ras terkuat abad ini. Percaya sama ALLAH SWT sahaja.

    Amin. :D

    Greyback: I solemnly swear that I’m being up to no good.
    Albus Severus Potter: My Dad had passed away.
    Ronald Weasley: Blimey! Bloody Hell! It’s brilliant. :P

    Saya?
    *lari nyamber Despire*
    (Main OST Putih Abu-Abu)

  10. Luck says:

    Maaf beribu maaf, ilmu saya kurang tinggi untuk memahami kitab ini …

  11. Jovyanca says:

    yUhuu~ ^______________^

    Ini saia baca tengah malem tadi. #infokagakpenting#
    Berhasil bikin melek n ngakak mpe ber-aermata. ^^
    Ceritanya gaje abiez~ tapi saia suka sangat. wkwkwkwk..
    Bacaan yang menghibur. *terharu bisa nemu yang ginian*
    Narasinya baguz~ Variatip kata2nya.
    He’eh tu. Bagian tengah agak bikin mata pengen nge-skip.
    Tapi secara keseluruhan okay bangetz deng~

    Salam kenal, Dini. :D Good to know u~ b^^ LanjOEtkan!

  12. YESSSS!!!!! makasih Jovyanca. Add aku di jejaring sosial ya! Topozku rusak euy…. Kudu dibenerin tapi bisa besok. Hehehehehehehehehehehehehehe. Ntar bawa Ballista ya, bantu aku nembakin undead. :) Sampai ketemu, kamu manis sekali, semanis namamu

    Silahkan juragan tempe tahu untuk memborong Estarath, soale aku udh SMS Villam kemarin karena harganya merepotkan. Xie Xie! :)

  13. Saia cuma kepikiran satu cara untuk membalas komentar Mbak Dini ini dengan baik dan berimbang…

    Orang Sulawesi makanannya seram, kalong rica-rica krekes krekes. Orang batak makan anjing. Orang korea makan kimchi terus bladder-nya merah semua. Orang Jawa punya nasi goreng mawut, magelangan, wedang jahe, dan tentu saja getuk lindri. Orang Sunda punya camilan bubur sum-sum, pastel, kue sus Braga tanpa rum, dan terutama.. Kopi luwak membuat pipis anda wangi kopi krim. Apa bedanya sih sama budaya ras manapun? Orang Eropa punya Nessie, Scottish accent, dan tentu saja Arthur serta kroco-kroconya. Orang Arab punya Saladin. Orang Mars punya John Carter. Christopher Paolini punya Glaedr, Thorn, Saphira Bjartskular tapi jelek banget naga ijonya. Roran Stronghammer punya istri dengan kecelakaan zinah. Orang Afrika main Voodoo pake Shaman dan dukun-dukun yang kalau diliat-liat paling kaya orang Papua lagi punya mumi asli dan koteka dan tombak dan panah dan Belda dikerjain di acara Pulau Terbuang. Makanya Indonesia nggak aman, makanya kita semua dilahirkan di sini. Terlebih, kitalah satu-satunya yang ngerti apa itu Lingga Yoni, Borobudur, Green Canyon, Taman Safari, Ragunan, dan Jl. Ganesha yang ada palang Pintu Surga. Makanya jangan jajan sembarangan. Sekarang semua orang kena stroke, darah tinggi, mati seketika ketika wisuda kelulusan. Yang salah bukan Tuhan, tapi manusianya. Kalau mau menyalahkan dia, mestinya kita introspeksi duluan. Bukan mencela dengan analisa kaya Mahadibya Nurcahyo Chakrasana. Jangan menyerah meskipun kau kurang 1 kalimat. Spasi krusial. Sama seperti abjad, logo, simbol, apapaun, bahkan link YouTube yang dijadikan anagram seperti Headline Prediction. Makanya Inner Circle saia cuma 5. Makanya teman saya hanya anda semua. Intinya sih, sudahlah, lepaskan saja semua perangkat basi dan mulailah menulis. Jangan mau kalah meski kamu miskin, alasan, keluhan, bantaian jitakan sabetan dan goresan pena yang lebih tajam dari pedang itu biasa. Aku? Ini udah enakan. Tapi nyaris saja kena DBD. Obatnya paling jus jambu biji campur tomat, tidur, dan tentu saja air putih dibanyakin. Tolong re-consider sajalah. Aku hari ini ga ada guna men-summon siapapun, selain bicara bias sama perangkat elektronik saya. Bersyukurlah, aku tidak pernah sendirian. :)

    There. Hope that will do! ^^

  14. Desire Purify Loki says:

    It will do. Dan memang baik dan berimbang. ;)
    Terimakasih banyak mbak Luz Balthasaar. Selamat sudah jadi jawara wahid di ajang ini.
    Adore your stories, admire your talent, dan mohon maaf kalau ada salah-salah kata selama ini (pasti ada). Sampai ketemu suatu saat di pesta lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>