Suatu Malam di Kota Tua

SUATU MALAM DI KOTA TUA

karya 145

Lebih dari tiga ratus tahun yang lalu kota ini tak lebih dari sebuah hutan kecil di lereng bukit sebelum akhirnya sekelompok pengungsi melarikan diri dari daerah asal mereka, membuka lahan, menebangi pepohonan, lalu menetap di sana.

Kemudian, perlahan namun pasti desa kecil itu terus tumbuh dan berubah, mula-mula menjadi sebuah kota kecil, sebelum akhirnya, revolusi industri dan melonjaknya permintaan akan batu bara dan bahan tambang lainnya, mengubah wajah kota itu selamanya menjadi apa yang terlihat saat ini, sebuah kota industri tua yang muram, suram, hitam legam, dengan asap tebal yang terus saja mengepul dari cerobong-cerobong angkuh yang tinggi menjulang.

Tapi tentu saja perubahan itu nyaris sama sekali tak dirasakan oleh manusia yang tinggal di sana. Dalam usia mereka yang singkat, lahir, tumbuh, menjadi tua, sebelum akhirnya mati, kebanyakan penduduk menerima kota itu apa adanya, tanpa satu pun yang benar-benar peduli tentang bagaimana wajah kota itu sebelum mereka lahir, atau apa yang mungkin terjadi padanya setelah mereka mati, seringkali melupakan fakta kecil bahwa mereka bukan satu-satunya makhluk yang tinggal di sana.

Sementara itu, malam ini, di salah satu sudut gang, tempat para penduduk di sekitarnya biasa menimbun barang-barang yang sudah tak mereka pakai sambil berharap suatu saat tumpukan itu akan cukup mengganggu sehingga para petugas kebersihan kota mau tak mau akan membereskannya untuk mereka, dua sosok kecil kelabu yang bukan kecoa atau pun tikus sedang sibuk mencari apa-apa yang mungkin dapat mereka gunakan, atau setidaknya cukup berharga untuk ditukar dengan benda lain yang lebih mereka butuhkan.

Sejauh ini, Pip lebih beruntung, selain beberapa kancing dan sekeping uang logam tembaga, yang pastinya akan disukai oleh para kurcaci, ia juga menemukan sebotol minyak wangi yang masih tersisa sedikit isinya yang rencananya akan ia hadiahkan pada El, gadis yang berhasil menarik perhatiannya.

Di saat yang sama, Bud sudah cukup puas menemukan sekotak korak api yang baru setengah terpakai. Berbeda dengan kawan baiknya itu, Bud lebih suka berburu untuk memenuhi kebutuhannya, dan dengan peralatan yang tepat, alih-alih tikus dan kadal, ia mungkin bisa membuat sebuah perangkap untuk menjebak ular tanah yang semakin hari semakin sulit ditemukan yang tentunya akan melambungkan namanya sebagai pemburu yang handal.

Mereka berdua, tentu saja bukan manusia. Juga bukan kurcaci yang sejak pertambangan dibuka memilih tinggal di gorong-gorong dan saluran pembuangan yang bersamaan dengan berkembangnya wilayah kota, ikut tumbuh menjadi jalinan labirin yang rumit dan menyesatkan. Mereka berdua peri yang secara keseluruhan penampilannya bisa dibilang sangat mirip manusia, andaikan manusia tingginya hanya sedikit lebih pendek daripada sendok makan, memiliki semacam antena di kepala, dan sepasang sayap di  punggung mereka.

Namun berbeda dengan leluhur mereka dahulu, juga saudara-saudara mereka di hutan atau pun pedesaan, sayap Pip dan peri-peri kota lainnya tidak lagi dapat digunakan untuk terbang. Kaku, keras, kelabu, sayap-sayap itu kini lebih berfungsi sebagai perlindungan, juga kamuflase, dan sesekali penyeimbang saat yang bersangkutan terpaksa melompat dari ketinggian.

Pip lebih tua beberapa tahun dari Bud dan juga lebih tinggi. Sebaliknya Bud jauh lebih gesit daripada Pip dan dapat dengan mudah mengalahkan kawannya itu dalam sebuah perkelahian bahkan tanpa harus menggunakan senjata. Sementara itu, dari lambang mirip mata berwarna putih yang tertera pada sayap kanan mereka, jelas terlihat bahwa mereka berdua sama-sama berasal klan Shire di utara kota dekat wilayah pertambangan.

Dan itu artinya, mereka tak seharusnya berada di tempat mereka berada saat ini.

“Kau sudah selesai, Pip?” bisik Bud perlahan.

“Sebentar lagi,” kata sang kawan masih sibuk dengan perburuan hartanya.

“Sebaiknya kau bergegas kalau begitu,” kembali Bud berbisik, kali ini sambil dengan penuh kewaspadaan mengawasi keadaan.

“Jangan khawatir sobat,” kata Pip menenangkan, “Aku mendapat kabar kalau malam ini mereka akan menyerang Archet di selatan.”

“Tetap saja, mereka tak akan meninggalkan wilayah mereka dalam keadaan kosong kan?”

“Tentu saja tidak. Tapi mereka tak akan punya cukup peri untuk melakukan patroli seperti biasanya.”

“Lalu mereka itu siapa kalau begitu?”

Pip menoleh dan melihat empat peri yang tampak beringas sedang menghampiri mereka bersenjatakan jarum, paku, pecahan kaca yang dengan terampil diubah menjadi pedang dan tombak.

“Oh sial, lari Bud!”

Satu hal tentang peri kota adalah mereka, sama seperti kecoa, memiliki kemampuan yang luar biasa dalam seni bertahan hidup dan melarikan diri, dari para kucing dengan insting mereka, burung-burung gagak yang sok bijak, goblin yang dingin dan licin, juga dari para peri lainnya, yang seringkali justru merupakan ancaman paling membahayakan yang mungkin dihadapi para peri, selain manusia tentu saja.

“Lewat sini Pip,” seru Bud melompat memanjat pipa tua dan tepian jendela, “Dan sebaiknya kau tinggalkan saja harta karun kecilmu itu.”

“Enak saja,” jawab Pip terengah-engah, “Tidak, jangan lewat situ. Belok! Belok kiri! Lewat celah jendela.”

“Kau sudah gila!? Masih ada orang yang tinggal di sana!” kembali Bud berseru meski tetap saja pada akhirnya ia memilih mengikuti saran sang kawan yang mau tidak mau diakuinya sering kali punya ide cemerlang justru di saat sedang terdesak.

 

Pip mengangguk, “Mudah-mudahan saja peri-peri sial itu punya pikiran yang sama denganmu.”

Bud berpaling kebelakang, “Tidak. Masih mengejar kita. Kurasa mereka sama gilanya denganmu.”

“Kemari,” Pip melompat dari tepi jendela, ke atas sofa lalu meluncur ke atas lantai, memandang ke sekeliling, tak salah lagi, mereka kini berada di semacam ruang tamu. Untung saja tampaknya si pemilik rumah tidak sedang berada di sana yang entah mengapa justru membuat Pip sedikit kecewa.

“Sekarang bagaimana?”

“Sssttt…” Pip meletakkan telunjuknya di bibir lalu memejamkan matanya. Sayup-sayup ia bisa mendengar suara langkah kaki berat di sepanjang lorong. Juga gumaman tak jelas seseorang yang tampaknya berusaha menyanyikan sesuatu tapi cukup tahu diri untuk tak menyurakannya.

“Apapun yang kau pikirkan, cepatlah,” desak Bud yang kini sudah bersiap dengan senjatanya, sebuah kunci tua yang bagian giginya sudah diruncingkan sehingga kini menyerupai sesuatu yang tampak seperti gabungan pedang dan kapak.

Pip mengangguk. “Pergilah ke sudut,” katanya, “dan jangan bergerak sedikitpun.”

“Kau mau kemana?”

Dengan sigap Pip memanjat ke atas meja di samping pintu, “Hmm menarik perhatian seseorang,” jawabnya sambil menyeringai.

Meski demikian, jujur saja, kali ini Pip benar-benar merasa gugup. Rencana kali ini… sedikit banyak penuh resiko dan perlu timing yang benar-benar tepat agar berhasil.

Mudah-mudahan saja…

Sekuat tenaga, Pip mendorong Vas bunga yang ada di atas meja, perlahan, perlahan sampai ke tepi. Lalu tepat saat para pengejarnya muncul di jendela dan dengan beringas mulai melaju ke arahnya…

PRAAANGGG…

Bud menganga. Para pengejar terpana.

Di saat yang sama, terdengar derap langkah cepat di sepanjang lorong.

Lalu sesaat kemudian, pintu ruangan itu pun terbukalah.

Para pengejar terkesiap. Tapi sudah terlambat. Belum sempat mereka bergerak mencari tempat persembunyian, mereka sudah berada dalam jangkauan pengelihatan sang pemilik ruangan.

Buru-buru bersembunyi di antara botol dan gelas yang ada di atas meja, skejap, Pip sempat melihat ekspresi horror di wajah para pengejarnya.

Waktu sesaat seolah dihentikan.

Dari tubuh para pengejar, muncul cahaya puith menyilaukan, membutakan, menelan realitas ke dalam ketiadaan.

Dan saat cahaya itu menghilang, tak ada sama sekali, bekas-bekas keberadaan empat peri Bree yang tadinya mengejar Pip dan Bud, bukan hanya di ruangan itu, tapi juga di benak sang pemilik ruangan, yang kini, sambil menggerutu mulai mengumpulkan pecahan vas yang berserakan di lantai.

Bahkan tanpa isyarat dari Pip sekalipun, Bud yang beberapa saat sebelumnya sempat kaget setengah mati ketika mengira ia akan mati tergencet daun pintu, dengan sigap menyelinap dari celah di bawah engsel menuju lorong di mana Pip sudah menunggunya dengan tidak sabar.

“Sialan,” umpat Bud tanpa suara, saat keduanya berlari di sepanjang lorong, “Lewat sini sekarang,” pimpinnya, “lebih aman jika kita keluar lewat dapur, lewat halaman belakang. Terlalu banyak orang di depan.”

“Darimana kau tahu kalau ini jalan ke dapur?” tanya Pip takjub.

Bud menyeringai. “Insting,” katanya.

“Sungguh? Kalian para pemburu bisa melakukan itu?”

“Sebenarnya,” Bud tertawa, “aku hanya sudah pernah ke rumah dengan tipe yang hampir mirip dengan ini.”

Benar saja. Tak lama kemudian, mereka sudah berada di dapur, dan dengan beruntung menemukan semacam pintu kucing yang bisa mereka gunakan untuk keluar dari rumah susun itu ke halaman belakang tempat para penghuni menjemur pakaian dan menempatkan sebagian besar tong sampah yang mereka miliki.

Hanya saja…

 

“Itu tadi benar-benar tidak lucu,” kata Bud, sambil memandang ke sekeliling, mencari tanda-tanda yang tak jua ia temukan.

“Tapi berhasil kan?” Pip tertawa, “Sayang kau tak bisa melihat wajah mereka.”

“Dan lumayan kejam juga.”

“Terimalah sobat,” lanjut Pip masih dengan nada ceria, “mereka atau kita. Dan tentu saja aku lebih memilih kita daripada mereka.”

Bud mengangkat bahu, masih sambil memicingkan matanya, mencari, memperhatikan, “Apa kau pernah bertanya-tanya mengapa kita, well, sesama peri, harus saling bunuh satu sama lain hanya karena kita berasal dari klan yang berbeda?”

“Tidak juga,” jawab Pip jujur, “Aku khawatir itulah hukum yang berlaku, saat ini, di kota ini. Siapa yang cerdik dialah yang akan bertahan. Menurutmu untuk apa kita, para peri di kota ini, kehilangan hmm sayap indah kita?”

Bud tidak menjawab. Ia sibuk memikirkan sesuatu yang lain.

“Kau kenapa sih?” protes Pip, “Apa masih ada pengejar lain?”

“Bukan begitu,” gumam Bud, “aku sudah pernah berpergian ke banyak tempat di seluruh penjuru kota, tapi baru kali ini aku melihat tempat yang…”

“Yang?”

“Yang tidak ada bau tikusnya,” Bud menggerutu, “padahal mereka ada di mana-mana.”

“Dan itu artinya?” Pip masih belum paham.

“Ada sesuatu yang sudah lama membuat mereka enggan berkeliaran di sini,” jawab sebuah suara, berat, dalam, sedingin es.

Bud dan Pip melengos mendengar suara itu dan langsung lemas begitu melihat sang pemilik suara yang dengan anggun melompat turun dari atas dinding, mendarat tanpa suara, tepat dihadapan keduanya.

“Wah wah wah,” kata sang kucing, “lihat apa yang kutemukan di sini. Dua orang peri, dari Shire kalau melihat penampilannya, jauh dari rumah mereka, dan kuduga besar kemungkinan akan segera mati.”

“M-mundur,” cicit Bud, “A-aku punya korek api dan aku tak akan segan menggunakannya.”

“Dan aku punya umm parfum,” bantu Pip putus asa, “meski aku lebih berharap aku tak perlu menggunakannya untukmu.”

Si kucing menyeringai dan jujur saja, itu pemandangan paling mengerikan yang pernah dilihat Bud dan Pip sepanjang hidup mereka.

“Sebaiknya jangan,” kata si kucing begitu melihat gelagat bahwa kedua peri itu akan mencoba melarikan diri ke arah yang berbeda, mungkin berpikir itu bisa memecah konsentrasinya, “jangan melakukan gerakan tiba-tiba,” ia mendesah, “Kami, para kucing, seringkali punya masalah dengan insting kami, kalian tahu?”

“Kau toh tetap akan membunuh kami kan?” tantang Bud sambil mengacungkan pedang-kunci nya.

“Mencincang, mengunyah, memakan kami berdua,” kembali Pip membantu.

Si kucing tertawa. “Mencabik,” katanya, “bukan mengunyah. Kami tak punya gigi geraham untuk itu. Tapi mungkin juga tidak. Sejujurnya aku masih kenyang saat ini, dan baru saja akan tidur saat mendengar keributan yang kalian buat tadi.”

“Untung saja kalian peri,” lanjutnya, “Akan menghancurkan reputasiku, seandainya kucing-kucing yang lain mengtahui bahwa masih ada tikus yang berani macam-macam di wilayah kekuasaanku.”

“Kami minta maaf kalau begitu,” kata Bud, “tapi kami terpaksa melakukannya. Kami sedang dikejar tadi.”

“Aku tahu,” kata sang kucing, “bayang-bayang yang tinggal di sini sudah memberitahuku apa yang baru saja terjadi. Cukup… cerdik, harus kuakui.”

“Dan itu artinya kau akan membiarkan kami pergi?” tanya Pip penuh harap.

“Tidak juga,” kembali si kucing menyeringai.

Bud menggelengkan kepalanya, kesal, lalu dengan nekat berlari menerjang si kucing yang berkali-kali lipat jauh lebih besar darinya.

Juga lebih lincah.

Juga lebih cerdik.

Juga lebih mematikan.

Tak berapa lama kemudian, Bud sudah menggeliat-geliat di atas tanah, di bawah telapak kaki sang kucing, kesakitan, tapi masih hidup, dan tampaknya tak mengalami luka sedikitpun. Sementara Pip yang tadinya sempat berlari dengan enggan kembali lalu dengan berani dan sama nekatnya ganti menerjang si kucing.

Sia-sia.

Sang kucing tampak gembira melihat Bud dan Pip yang masing-masing kini tergeletak tak berdaya di bawah kedua telapak kaki depannya. Lalu seperti yang biasa dilakukan para kucing pada umumnya, dengan santai, namun tetap waspada, ia pun melepaskan kedua mangsanya itu, berharap, menunggu, apa yang selanjutnya akan dilakukan keduanya.

Ia bahkan terlihat sedikit kecewa, saat Bud dan Pip memilih berpura-pura mati, trik lama yang selalu diajarkan nenek peri pada cucu-cucunya sebagai bagian dari warisan leluhur, kebijaksanaan kuno dan cerita pengantar tidur.

“Dengar Nak,” katanya geli, “itu mungkin berhasil untuk kebanyakan kucing. Tapi tidak untukku.”

“Baiklah, baiklah,” dengan kesal Bud berdiri lalu membersihkan debu pada tubuhnya, “tak ada salahnya mencoba kan? Nenekku bilang itu selalu berhasil.”

“Nenekku juga,” kata Pip, “kecuali kalau kucingnya berhasil membunuhmu pada serangan yang pertama.”

“Jadi pak kucing,” kata Bud, “apa yang sebenarnya kau inginkan dari kami?”

“Mempermainkan kita?” usul Pip, “Membuat kita gila karena rasa panik dan takut sebelum kemudian, apa katanya tadi, ah mencabik kita menjadi serpihan-serpihan kecil yang mudah ditelan.”

Bud langsung melotot memandangi sang kawan. Meski sering memiliki ide cemerlang, tak jarang juga tindakan Pip membuat Bud mempertanyakan kewarasan kawannya itu.

“Itu,” kata si kucing, “ide yang bagus. Tapi aku punya ide yang lebih menarik. Sebuah permainan katamu? Bagaimana kalau teka-teki? Jika kalian berhasil menjawab pertanyaanku dengan benar, salah satu dari kalian akan kubiarkan pergi. Dan jika aku tidak menjawab pertanyaan kalian, salah satu yang lain juga akan kubiarkan pergi.”

“Ba-ik-lah,” kata Bud, “tapi bagaimana kami bisa mempercayai perkataanmu?”

Pip menambahkan, “Nenekku selalu bilang kalau para kucing dan jebakan tikus adalah sama-sama pembohong.”

“Nenekmu benar,” sang kucing tertawa, “aku memang pembohong. Pembohong yang ulung lebih tepatnya. Dan berbeda dengan pembohong-pembohong biasa, pembohong yang ulung tak pernah berdusta.”

“O-ke, kau dulu atau kami dulu?” tanya Bud tahu pasti, berbohong atau tidak, mereka tak punya pilihan lain selain mengikuti permainan sang kucing.

“Silakan kalian lebih dulu,” jawab sang kucing penuh percaya diri.

“Nah Pip,” bisik Bud, “sekarang saat yang tepat untuk menggunakan kepalamu.”

Pip mengangguk lalu mulai bersyair:

Tiga mata yang kupunya

Berdiri tegak tak kenal jemu

Berkaki empat atau pun dua

Semua tunduk pada kedipku

Bud menepuk jidatnya. Tamat. Sekarang mereka benar-benar tamat. Dari sekian banyaknya teka-teki, mengapa si bodoh Pip justru memilih yang itu. Lihat saja bagaimana sang kucing tersenyum mendengarnya… tidak ia bahkan tertawa. Sekarang mereka benar-benar tamat.

“Apa jawabannya?” tanya si kucing disela dera tawanya, sekali lagi membuat Bud kaget setengah mati.

“Meeh begitu saja kau tidak tahu,” cemooh Pip yang tampaknya masih belum sadar dengan kebodohannya, “bahkan anak-anak peri pun tahu kalau jawabannya adalah Lampu Lalu Lintas.”

Bukan hanya anak-anak peri sebenarnya, tapi juga anak-anak kurcaci, anak-anak goblin, dan makhluk berakal manapun di atas tanah atau pun di bawah tanah yang tinggal di kota itu.

Bud tak tahu apa rencana si kucing, tapi yah setidaknya mereka sudah menang satu ronde.

“Siapa di antara kalian yang harus kubiarkan pergi?” kembali si kucing bertanya.

“Dia,” jawab Bud dan Pip bebarengan.

“Mungkin… kita bisa membicarakannya lagi setelah giliranku,” lalu sang kucing pun mulai mendendangkan syairnya.

Bagai koin yang trus berputar

Dua wajah yang kumiliki

Tak jadi soal kemana kau menyasar

Hanya satu yang dapat kau lirik

Bud dan Pip berpandangan. Tak salah lagi, keduanya tampak sedang memeras otak mencoba menjawab teka-teki yang baru pertama kali mereka dengar itu.

“Bagaimana?” tanya sang kucing, sambil tersenyum, beberapa saat kemudian.

“Kami menyerah,” jawab Bud dan Pip, jujur, penuh kepasrahan.

“Bagus. Jadi sekarang, siapa di antar kalian yang akan tetap tinggal?”

“Tunggu sebentar,” potong Pip.

“Kau mau tahu jawabannya?” tanya si kucing.

“Ya. Eh bukan, maksudku, kami masih punya satu pertanyaan kan?”

“Maaf?” si kucing menyeringai.

“Kau tadi bilang ‘pertanyaan kalian’ kan? Itu artinya Bud masih punya gilirannya. Atau kau mau bilang kau berbohong tadi?”

“Tentu saja tidak,” si kucing pura-pura tersinggung, “aku hanya tak mengira kalian cukup cerdik untuk menyadari hal itu. Baiklah Bud, sekarang giliranmu. Tapi sebaiknya kali ini kau memilih teka-teki yang lebih baik.”

Bud berpikir keras. Sangat keras malah. Ia tak pernah benar-benar ahli dalam hal-hal semacam ini.

Lalu tiba-tiba saja ia teringat sebuah kisah lama…

“Err apa yang ada di kantongku?”

“Usaha yang bagus,” si kucing tertawa, “tapi itu bukan teka-teki. Coba lagi.”

“Uh baiklah,” keluh Bud, “err ini dia.”

Bagaikan malam nan hitam gelap

Secepat kilat tiada terduga

Tanpanya tak lama kau bisa terjaga

Dengannya tak mungkin kau dapat terlelap

“Lebih baik,” sang kucing tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, “nah apa jawabannya?”

“Sial,” Bud akhirnya lepas kendali, “Tak mungkin kau tak tahu. Jawabannya kedipan mata.”

“Heee benar juga,” Pip menepuk jidatnya.

“Aku tak bilang aku tak tahu,” jawab si kucing.

“Ba-ik-lah,” Bud mengalah, “tetap saja itu berarti kau akan membiarkan kami berdua pergi kan?”

“Tentu saja,” sang kucing menyeringai sambil mengeluarkan cakar-cakarnya, “bagaimana kalau pergi ke dunia lain?”

“PEMBOHONG! PEMBOHONG! PEMBOHONG!!!” seru Bud.

“Aku hanya bercanda,” sang kucing kembali tertawa, “nah pergilah kawan-kawan kecilku, dan camkan baik-baik pesanku: Waspadalah, karena MalamBekuHutanHitam akan segera tiba.”

“MalamBekuHutanHitam huh? baiklah akan kami ingat,” kata Pip. Sementara itu Bud tampak terlalu lelah bahkan untuk bertanya apa itu atau kapan ia akan tiba.

“Dan jawaban teka-tekimu tadi?”

“Cobalah berpikir lebih keras,” sang kucing menguap lebar “jawabannya ada di atas kepala kalian.”

“O-ke. Umm Satu pertanyaan lagi,” Pip memberanikan diri, “Siapakah gerangan dirimu ini wahai kucing yang bijaksana?”

“Tuanku… hmm bukan, pemilik rumah ini, memanggilku Si Putih,” jawab Sang Kucing sambil berlalu, menggoyangkan dua ekornya yang putih bersih, “Tapi kawan-kawanku biasa memanggilku Curunir.”

***

Sudah hampir pagi saat akhirnya Bud dan Pip tiba di kediaman mereka di salah satu gudang tua yang tak terpakai di ujung jalan.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun Bud langsung merebahkan dirinya di atas ranjang dan segera tertidur pulas.

El sendiri tampak gembira, dengan wajah merah merona, menerima hadiah yang diberikan Pip padanya.

Tak lama kemudian, si tua Ham datang menghampiri Pip yang entah mengapa terlihat seolah sedang melamun. “Ada masalah bocah?” tanyanya, “Kau seperti baru saja dikejar kucing.”

“Ngomong-ngomong Pak Tua, apa kau pernah mendengar Malam Beku Hutan Hitam?”

Ham memicingkan matanya, “Dulu kalau tak salah nenekku sering mengatakan hal semacam itu. Malam Beku. Hutan Hitam. Itu mungkin sejenis umpatan, untuk sesuatu yang sial, sangat-sangat buruk. Tapi kau tahu sendiri lah bagaimana orang tua dan dongeng-dongeng konyol mereka.”

“Dongeng ya…”

“Nah sebaiknya kau meniru Bud. Kau kelihatan lelah. Beristirahatlah. Kita tak pernah tahu kapan peri-peri sial dari Fornost akan menyerang kita. Oh ya ngomong-ngomong bagaimana petualangan kalian semalam? Ada kejadian yang menarik?”

Pip mengangkat bahu. “Biasa saja,” katanya sambil menguap lebar.

Lalu, sementara ia tertidur lelap, sementara matahari terbit di cakrawala, sementara manusia kembali tenggelam dalam kesibukan mereka, bayang-bayang di seluruh penjuru kota sama berbisik:

Hentikan detak detik jarum jam

Hentikan riak riak sang waktu

‘Tuk Malam Beku dan Hutan Hitam

Menyambut kembalinya Sang Ratu

 

About Klaudiani

A dreamer who dreams to be a writer and a writer who writes her dreams.
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

22 Responses to Suatu Malam di Kota Tua

  1. IreneFaye says:

    Hua apa jawaban teka-tekinya?! penasaran penasaran penasaran!!!

    seperti biasa klo ngebaca ceritanya om 145 saya suka cengo sendiri, keren dalam, dan kadang menyimpan teka-teki grrrr…

    hehehe mantap om

    mampir: http://kastilfantasi.com/2012/07/jubah-mimpi-reve/

  2. Johan Padmamuka says:

    Bentar, aku belum ngeh mengapa peri-peri Bree bermusuhan dengan Pip dan Bud… Lalu peri-peri Fornost juga… Terus, apa itu Malam Beku dan Hutan Hitam? Aku jadi ngerasa ada lubang-lubang di cerita ini…

    Cerpen ini rasanya seperti sebuah penggalan cerita kehidupan Pip dan Bud. Kisah hidup yang biasa-biasa aja tanpa bagian (yang terlalu) heroik atau berdarah-darah.

    Terakhir, kenapa ada KUCING?

  3. Hoshi - Lapak 162 (mampir, yaaa) says:

    Langsung aja yaa
    Poin plus: Penulisan yang rapi, narasi ngalir dan enak. Terus atmosfer fantasinya juga kerasa banget. Jelas saya setuju ini yang di-submit daripada Codex T yang di kecom waktu itu. O, ya, judulnya juga keren, saya suka.

    Poin minus: Ini berasa kayak prolog dari sebuah cerita yang lebih besar.. Banyak misteri yang belum terungkap sehingga kerasa cerita ini banyak bolongnya. Tapi yang paling parah, bikin kurang puas bacanya. Pengen baca lanjutannyaaa~ >o< (okeh ini nonsense)

    Sembilan koma tiga dari sepuluh.

    O, ya, ini ada hubungannya sama ADA, kah? Bait terakhir yang nyebut 'Sang Ratu' entah kenapa ngingetin sama ADA.. *digampar karena seenaknya ngehubung-hubungin*

    Mampir ke 162 juga, yaaa.. Tuan Kelinci butuh cabe, nih~

  4. shaoan says:

    Hi 145, salam kenal! :D
    Komentar resmi: Petualangan klasik dua sahabat yang sangat seru dan dibumbui komedi segar! Cocok untuk segala usia.

    Komentar tidak resmi: Wogh. Keren. Teka-tekinya asik (tau inspirasinya dari mana, gara2 yg tebakan kantong itu. :D), dan paling lucu waktu Bud dan Pip pura2 mati. Ini adegan epic banget. :D

    Kalo sempet mampir yah ke: http://kastilfantasi.com/2012/07/suatu-hari-ketika-semuanya-berakhir/

  5. Cecilia Li says:

    Wuuuuut!!!??? Kok udah selese? >..< sayang sekali. Kalau menurutku pribadi, waktu Curunir melenggang pergi itu udah keren abis settingnya untuk ending.

    • Cecilia Li says:

      Kok komenku kepotong ya? Hm.. oke.. kira2 begini

      Wuuuuut!!!??? Kok udah selese? ><
      Saking penulisannya keren, rasanya pingin baca terus dan gak kerasa kalau udah abis. Dan kalau ini adalah bagian dari cerita yang puanjang, pemotongannya kurang pas. Sayang banget. Kalau menurutku pribadi, waktu Curunir melenggang pergi itu udah keren abis settingnya untuk ending.

  6. Luna Aegis says:

    Halo, 145!
    Saya sudah ngefans sama tulisan 145 sejak Fiesta 2010 loh /infogakpenting

    Komentar soal ceritanya: ada beberapa typo, tapi itu tak terlalu mengganggu. Teka-tekinya menarik, jadi penasaran apa maksud malam beku hutan hitam. Lalu, jawaban teka-teki si kucing, apakah itu antena Pip dan Bud? Kepikiran waktu menggambar fanart-nya.

    Dan inilah fanart [seadanya] yang kuceritakan itu.
    >> http://s23.photobucket.com/albums/b366/LunaAegis/?action=view&current=suatumalamdikotatua.jpg

    Good luck!

    • 145 says:

      Huwoooo
      (gak tau harus ngomong apa…)
      Err terima kasih banyak T_T (terharu)
      -
      Jawabannya hmm kayaknya lebih seru kalo ditemukan sendiri :D

  7. negeri tak pernah-48 says:

    Waw… keren. Suka fantasinya. Magical banget gitu.

    Narasi dan plot oke. Teka-tekinya bikin penasaran.

    Hmm.. teka-teka Curunir jawabannya… cermin? :D

  8. Cecilia Li says:

    Jawabannya kompas! :D … eh.. iya bukan ya?

  9. AadUncu says:

    ceritanya enak untuk diikuti hingga akhir, teka-teki terakhir bisa menutup konflik yang agak minim…

    coba jawab teka-tekinya ah
    -teka-teki si kucing jawabannya Bulan
    -teka-teki si Bud jawabannya Kopi

    Untuk teka-teki terakhir nyerah deh…kepikiran tinta, tapi kayaknya salah…

  10. elbintang says:

    Sepertinya tidak ada perubahan dari yang dipajang di K.com, kan?

    sukses deh, Yas.
    Cerita ini termasuk biasa tapi kesan setelah membacanya tertanam bagus. Dan itu point paling keren untuk sebuah tulisan menurut gw.

    *masukinkantong*

    • 145 says:

      Lama tak jumpa Nona El >_<
      Terima kasih. Kuharap cerita-cerita ku yang lain juga bisa seperti itu.
      Sukses juga untukmu

  11. Wooot! Keren! Pake ada teka-teki segala!
    3,5/5

    Mampir ya ke 117! :D

    Good luck!

  12. M.Asa says:

    Aku suka cerita ini.
    Aku suka konsep mahluk2nya.
    Dan aku suka teka-tekinya (sempet gak ngelanjutin baca sampai nemu jawaban teka-tekinya sendiri, tapi akhirnya menyerah karena gak nemu jawabannya :D )
    Tapi…tapi…tapi kenapa aku bingung dengan endingnya? Ah..mungkin aku harus menemukan jawaban teka-teki terakhir itu agar paham dengan endingnya :)

    over all 3,8/5

    *pasang iklan*
    Silakan mampir ke nomor 63 (http://kastilfantasi.com/2012/07/amba-titik/) :D

  13. Jovyanca says:

    Okay. Tadinya saia mengira 145 itu adalah nomer lapak. Tapi ternyata pendongengnya ndiri ya. ^^ wkwkwk.. ‘Lam kenal, 145. :D

    What a nice story! GOOd good gOOd~ b^^

    Tadinya sempat bingung, ini cerita mao dibawa ke mana ya. E begitu Curunir muncul, keren abiez dah! “I lOve u, Curunir.” Kyaa~ XD

    Kesan sombongnya dapet bangetz. Hehehe.. Good jOb.Sir! ^^

    Oia, 4 baris terakhir itu artinya apa ya? *penasaran sekali*

    Yak. Itu sajah. Er.. Gak guna2 amat ni comment keknya. Hahaha… Maap. ^^a

    Kalo sempet, mampir2 ke 129 ya. :D tQ~

    Sukses!

  14. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Cerita terakhir 145 yang saya baca adalah cerita soal badminton yang dipajang di kekom entah kapan. Dan cerita ini ngobatin kangen baca cerita-cerita ente ^^

    saya rasa gak perlu komentar soal teknik nulis lagi, dirimu salah satu yang saya suka :D saya cuma ngerasa kalo cerita ini belum selesai (?). apa ini bagian dari satu proyej besar? atau saya yang emang dongdong?

    oh well. 3,75 out of 5. Nice! ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>