Tarian Putri Aurinko

TARIAN PUTRI AURINKO

karya Fauzi Atma

Mobil melambat ketika memasuki pekarangan rumah berlantai dua milik keluarga Abigail. Udara lembap membuat dinding temboknya penuh bercak kuning. Banyak pohon jati meranggas di sekitarnya, seperti tangan yang mencuat dari tanah dengan cabang mirip jari. Dedaunan kering yang berserakan di pekarangan bergemerisik remuk ketika mobil melindasnya. Mereka sampai. Aroma rerumputan basah dan dedaunan kering santer terendus. Suasana begitu sepi sampai suara pintu mobil tertutup saja mengejutkan.

“Padahal cuma kita tinggal liburan dua minggu,” kata ibu. “Tapi berantakannya seperti ditinggal lima tahun. Kita harus menyapu halaman sama cat ulang rumah, Yah.”

Abigail berlari ke ayunan sambil berseru-seru. Ibu menyuruhnya berhati-hati. Bocah tujuh tahun itu melambat sembari memerhatikan pohon-pohon yang terlihat semakin mirip tangan. Dia mulai berayun, rantai bergemerincing dan poros berderit, dan beralih ke balkon lantai dua. Lonceng di sana berdenting, padahal tak satu pun daun kering tersapu angin. Abigail mengabaikannya dan terpusat hanya pada ayunan, tetapi lonceng terus berbunyi. Kemudian daun jendela berderak buka tutup, membuat celah yang cukup lebar untuk mengintip. Dia perhatikan celah tersebut. Alisnya mengerut, matanya menyipit waspada. Ayunannya memelan, sedangkan lonceng terus berdenting, membuat jantungnya berdegup kencang dan kakinya kaku terpancang rasa penasaran. Kemudian di sana muncul bayangan hitam dengan mata merah menyala yang menatapnya sembar tersenyum. Sosok itu menjelas dan membentuk rupa seorang badut. Abigail berjongkok di tanah, menutup mata, menjambak-jambaki rambut, menjerit.

Setelah Abigail menghabiskan makanannya, ibu mengantarnya ke kamar. Anak itu masih ketakutan sehingga ibu meyakinkan bahwa kamarnya kosong. Ibu mengajaknya berberes-beres, membongkar isi tas, dan merapikan pakaian ke lemari lalu menanyakan dekorasi impian anak itu. Abigial pun lupa akan rasa takutnya. Dia sibuk menceritakan dekorasi kemauannya, mengarahkan letak yang tepat di dinding untuk makhluk-makhluk khayalannya. Dia memeragakan posisinya, misalnya beruang emas bertelinga kelinci yang mengintip dari balik pintu. Ibu memberikan masukan yang semakin meliarkan khayalan Abigail.

Abigail membuka lemari untuk memasukkan semua baju. Dari pintu merayap dua ekor laba-laba dan hinggap di tangan anak itu. Abigail sontak berteriak takut sambil mengibaskan tangannya. Laba-laba tersebut terlempar dan diam sebentar sehingga Abigail merasa bersalah lantas meminta ibu menghampiri makhluk kecil itu, hanya untuk memeriksa mereka mati atau tidak. Laba-laba itu sudah tak ada.

Kamar Abigail menjadi rapi dan nyaman karena tak ada lagi laba-laba atau serangga yang bertamu. Abigail menguap. Matanya sayu. Dia beranjak ke tempat tidur dan ibu bantu menyelimutinya, kemudian menutup pintu dan anak itu pun mulai memejamkan mata. Dia seperti malaikat kecil saat tertidur.

Abigail kembali tersadar ketika mendengar denting lonceng di balkon lantas merasa ada sosok di belakangnya, di pojok ruangan dekat jendela. Dia ingin mengintip, tetapi kepalanya berat digerakkan. Dengan mata terpejam, dia memberanikan diri berbalik. Dia perlahan mengintip,  ragu-ragu lalu memejamkan mata erat-erat. Dia membuka paksa matanya lebar. Tak ada sosok yang kehadirannya dia rasakan tadi. Dia kembali memeluk guling. Pintu lemari berayun menutup, tanda ada yang baru masuk lemari. Abigail berlari keluar. Berteriak.

***

 

Abigail merebah di tempat tidur berselimut, ditemani ibu yang duduk di tepi. Remi berdiri di pintu, mengamati Ayah yang mengayun-ayunkan pintu lemari. Setelah yakin selesai, ayah merapikan perkakasnya.

“Tadi bautnya longgar,” kata ayah.

Sehabis makan sore, Abigail ke kamar kemudian mengenakan pakaian baletnya. Dia mulai dengan gerakan ringan seperti barre sebagai pemanasan, berpegangan pada besi tempat tidur dan mengangkat satu kakinya lurus sejajar pinggang bergantian. Dilanjutkan dengan piqué, berjinjit dengan bertumpu pada jempol kaki. Setelah cukup, dia melakukan gerakan kesukaannya, fouettés en tournant, berputar-putar ditopang satu kaki dan kaki lainnya bergerak seirama dengan kedua tangan. Kaki terulur tangan terentang. Kaki tertekuk tangan melingkar di depan dada. Putarannya begitu cepat hingga dia sulit mengendalikannya. Dia pun terjatuh dan menatap tepat ke kolong tempat tidur yang gelap. Dia memejamkan mata, tak mau berkhayal aneh-aneh. Lalu lonceng di luar berdenting lagi sehingga dia melompat ke tempat tidur dan bersembuyi di balik selimut tanpa melepaskan baju baletnya. Besok dia akan meminta ayah mencopot lonceng itu.

Denting lonceng menyaring, membuat jantungnya berdegup lebih cepat dan napasnya terdengar semakin jelas dalam selimut. Abigail menjambaki rambutnya, kebiasaannya saat takut, lalu mengintip dan melihat bayangan pohon mendekat. Angin bertiup kencang ke kamarnya, mengetuk-ngetuk jendela. Kemudian jendela berderit dan terbuka. Sesosok tangan kering dengan jari-jari panjang berkuku tajam menghampirinya. Abigail berteriak dan kabur dari tempat tidur. Ketika menoleh, dia menyadari tangan tersebut dengan cepat mengejarnya. Ternyata itu bukanlah tangan, melainkan ranting pohon. Abigail berusaha meraih kenop pintu, tetapi malang. Ketika pintu terbuka, ranting itu berhasil menggenggam pergelangan kaki Abigail dan menariknya. Abigail terjatuh dan diseret. Ranting lain membuka pintu lemari kemudian Abigail dilempar ke dalamnya. Sebelum dia terhantam, dasar lemari terbuka lalu dia jatuh bebas ke dalam kegelapan.

Di bawahnya ada bola cahaya pelangi yang warnanya berputar-putar yang merupakan gelembung sabun raksasa. Dia jatuh ke permukaannya dan terpantul lembut ke gelembung di bawah dan seterusnya. Barisan gelembung membentuk anak tangga dan meletus setelah Abigail terpental. Ketika sampai di bawah, dia terjerembap tanpa kesakitan.

“Selamat datang di dunia Menel,” kata sesosok bayangan yang mendekatinya. Perlahan sosok itu menjelas dan terlihatlah wujud aslinya, seorang badut, tepat seperti yang mengintip dari jendela siang tadi. Wujudnya terlihat jelas meskipun sekeliling mereka gulita. Abigail memejamkan mata dan buang muka. Abigail takut sekali pada badut.

Badut itu menjentikkan jari dan tertawa. “Lihatlah aku.”

Abigail menoleh perlahan. Wajahnya yang merengut beringsut manis, tersenyum. Dia bangkit seraya merapikan pakaian baletnya.

Badut tersebut tampak biasa, kecuali pakaiannya. Dia mengenakan pakaian balet merah muda yang ketat. Lengkap dengan rok dan sepatu tutunya. Dia membentuk lingkaran di atas kepala dengan tangannya dan mengangkat satu kaki lurus ke belakang. Abigail tertawa. Rasa takutnya tertepiskan.

“Namaku Pipigi,” kata badut. “Ikut aku ya.”

Badut itu melangkah jauh-jauh, tangannya terus melingkar di atas kepala. Setiap kali kaki badut itu menyentuh tanah, sepercik cahaya muncul dan beriak sekan dia menginjak genangan air. Cahaya itu meluas dan suasana di sekeliling menerang dan samar-samar mulai terlihat rumah abu-abu, seragam, dan bulat-bulat seperti roti. Tak ada warna lain. Jalan setapak diapit barisan rumput kering dan bunga-bunga layu. Abigail merengut melihatnya.

“Kau harus tetap ceria sepertiku,” kata Pipigi. “Tersenyum dan teruslah melompat!”

Abigail menurut dan terkejut melihat dampaknya. Setiap kali dia lewat, rumput-rumput kering menegak dan menghijau segar. Bunga-bunga tumbuh indah, seperti mawar-mawar tujuh warna pelangi, bunga matahari, krisan, dan juga tulip. Tangkai semua bunga tersebut berayun, mengikuti irama Abigail menari. Serbuk sari berterbangan. Beragam kupu-kupu berkejaran. Abigail tertawa dan semakin bersemangat menari. Dia merentangkan kaki di udara beberapa kali.

Cat rumah-rumah roti jadi berwarna cerah seperti ungu, jingga, kuning, dan hijau muda. Ada juga yang bercampur seperti roti kaya rasa yang menggiurkan. Makhluk-makhluk mungil keluar dan semringah melihat rumahnya cerah.

Pipigi mengajaknya mengunjungi rumah ibu laba-laba. Abigail menolak, hanya bisa bersembunyi di belakang Pipigi ketika laba-laba besar yang sedang merajut keluar. Benang-benang merah muda ditarik dari ujung perutnya untuk dirajut. Ibu laba-laba itu memberikan syal rajutannya kepada Abigail. Pipigi mengambil dan melingkarkannya ke leher anak itu. Ibu laba-laba menyuruhnya mencubit syal pemberiannya, yang ternyata permen kapas dan ketika Abigail memakannya, syal itu meleleh di mulutnya, menebarkan rasa stroberi.

“Sering kali yang kamu pikir menakutkan itu ternyata menyenangkan,” kata Pipigi. “Di sini semua begitu. Semua hal yang kau anggap menyeramkan ternyata baik.”

Mereka melompat-lompat lagi. Abigail agak jauh di belakang Pipigi. Anak itu berhenti sejenak ketika menyadari ada sesuatu yang bergemerincing di jalan berbata. Dia memungutnya. Itu sebuah kunci yang jatuh dari kantung Pipigi. Abigail berteriak-teriak memanggil sambil berlari, tetapi badut itu tak menyadarinya. Karena takut tertinggal jauh juga, dia memasukkannya ke baju. Gawatnya, banyak hal hebat di sana yang berhasil membuatnya lupa. Pipigi saat itu mengajaknya memasuki taman. Di sekelilingnya banyak lebah-lebah berseragam yang berjaga. Ada panggung dikelilingi hamparan rumput ungu. Ada juga sebuah akuarium bulat yang merupakan sebuah penjara.

“Sebaliknya, sesuatu yang menurutmu menyenangkan ternyata berbahaya di sini,” kata Pipigi. “Penjara ini diperlihatkan agar semua orang tak macam-macam.”

Abigail berjalan pelan di sisi Pipigi, memandangi akuarium tersebut. Di dalamnya ada empat makhluk kesukaannya. Boneka beruang merah muda, dia tenggelam dan semua rambutnya lepek. Jelek sekali. Balon beragam warna lelah terapung di permukaan air. Kue ulang tahun diam saja karena krimnya akan beleberan kalau dia bergerak sedikit. Lolipop pelangi perlahan melarut dalam air. Semua makhluk itu memandanginya, meminta pertolongan.

“Boneka beruang itu sarang debu yang menularkan penyakit padamu,” kata Pipigi. “Balon-balon akan mengejutkanmu sampai jantungmu berhenti kalau meletus tiba-tiba. Kue bisa membuat wajahmu belepotan dan susah dibersihkan minyaknya. Wajahmu terus terasa lengket. Lolipop bikin semua gigimu ompong. Mereka berbahaya jadi harus ditahan.”

Abigail memeluk Pipigi karena empat makhluk tersebut terus memandanginya. Sebenarnya mereka memelas, tetapi karena penjelasan Pipigi, di mata Abigail mereka jadi terlihat hendak memangsanya. Badut itu mengajaknya ke sisi lain taman tersebut. Rumput-rumput ungu bergoyang terembus angin. Hewan-hewan yang berdiri dengan kedua kaki dan dapat berbicara berdatangan satu per satu membawa barang rusak. Mereka menimbun barang itu di tanah tempat rumput ungu tumbuh kemudian menyiramnya. Tak lama kemudian sebuah tunas tumbuh, berdaun, dan menghasilkan kuncup bunga. Dari dalam mahkota ketika bunganya mekar jatuh benda yang sama dengan yang ditimbun ke tanah.

“Namanya rumput pengutuh,” kata Pipigi. “Kau menanamkan sebagian dari sebuah benda, misalnya patahan barang atau barang yang rusak itu sendiri, kemudian muncullah benda yang sama seperti baru.”

Kemudian mereka beralih ke panggung bundar yang hanya ditempati kotak musik berengkol di bagian tepi panggung. Di belakangnya terdapat dinding berukiran pelangi dan pemandangan makhluk-makhluk yang tersenyum. Bagian atasnya tertutupi tanaman menjalar jingga.

“Buat apa ada kotak musik di sana kalau tak dibunyikan?” kata Abigail.

“Bagus sekali pertanyaanmu, Nak,” kata Pipigi. “Dulu kami punya seorang putri. Namanya Aurinko. Dia suka menari dengan tarian dan pakaian yang sama seperti milikmu. Tariannya menghidupkan dunia Menel ini. Kemudian dia sakit dan meninggal karena sudah tua, tak ada lagi tariannya. Akhirnya dunia Menel jadi gelap dan dingin. Kami seperti terkubur.”

Pipigi menutup mata dengan telapak tangan sebesar sarung tangan kastinya. Badut itu tersengguk. Bahunya berguncang. Abigail memeluk dan mengusap perut badut itu.

“Gimana kalau aku menari di situ buat kamu, Pipigi?” kata Abigail.

Pipigi mengintip dari celah jarinya. “Kamu mau?”

Abigail mengangguk mantap kemudian memanjat taman rumput pengutuh tersebut. Dia memutar engkol kotak musiknya dan mulai menari. Merentang-rentangkan tangan seperti sebuah angsa yang mengembangkan sayap indahnya. Kemudian keadaan menjadi lebih menakjubkan. Langit yang tadinya hanya putih perlahan membiru cerah. Tadinya polos kemudian bermunculan kawanan awan bentol-bentol. Abigail terus menari dan berputar lebih cepat. Langit menjadi jingga seperti sore hari dan kemudian jadi malam. Bulan purnama muncul ditemani jutaan bintang. Pagi menjelang, membuat para ayam jantan berkokok dan langit kembali seperti awal. Awan-awan putih turun dan menghitam, kemudian hujan.

“Sudah lama kami tak lihat awan, bulan, bintang, dan hujan!” kata Pipigi. “Sampai para ayam pun membisu!”

Badut itu berjingkrakan di bawah hujan. Makhluk-makhluk lain juga berhamburan ke luar rumah dan menikmatinya. Ada yang menganga, menampung air di mulut. Para katak berorkestra.

Abigail tertawa-tawa melihat Pipigi bersorak. Dia terus menari mengikuti alunan musik dari kotak. Setelah hujan berhenti muncul pelangi yang membuat semua menganga kagum. Ketika musiknya berhenti, Abigail pun terdiam sesak napas keletihan. Pelanginya menghilang, awannya kabur, langit jadi putih polos kembali. Hewan-hewan berseru kecewa dan masuk rumah. Pipigi menatap Abigail tajam. Suasana yang hangat kembali mendingin.

“Kau tak boleh berhenti menari,” kata Pipigi. Dia memanjat panggung dan memutar engkol. Musik berputar kembali, tetapi Abigail tak kunjung menari.

“Aku capek!” kata anak itu. “Aku mau pulang. Sudah ngantuk.”

“Aku tak mau tahu,” kata Pipigi. “Kau harus menari untuk kami. Menggantikan Putri Aurinko. Kau harus berada di sini dan terus menari. Seumur hidupmu.”

Abigail terbelalak. Pipigi yang tadinya murah senyum menyeringai dengan wajah ungu gelap. Anak itu menghindari tatapan Pipigi. Dia menunduk, memandangi rumput sambil menjambaki rambut. Ketika dia menurunkan tangan, dua helai rambutnya rontok ke lantai panggung. Sebuah ide muncul di pikirannya. Dia memungut rambut rontoknya.

“Aku bisa kasih kalian tiruanku,” kata Abigail.

Pipigi mempersilakan. Abigail menggali tanah di rumput pengutuh dan menanam dua helai rambutnya. Karena baru saja hujan dia tak perlu lagi menyiram. Sebuah tunas tumbuh dengan cepat, muncul satu, dua, kemudian tiga daun, lalu sebuah kuncup berkembang sebesar kulkas. Tangkai kuncup terus merunduk seiring perubahan warnanya dari hijau ke merah. Ketika mekar, seorang anak perempuan berguling di tanah. Segala hal dirinya begitu persis dengan Abigail. Anak itu memutar engkol kotak musik dan meminta tiruannya menari. Abigail turun dari panggung untuk menyaksikan tiruannya menari. Tak seperti dirinya meskipun gerakannya sempurna, tiruan tersebut tak tersenyum selama menari. Pipigi mendongak. Awalnya langit berubah menjadi biru, tetapi lama-lama balik memutih, biru lagi, lalu putih kembali. Kekuatan tarian tiruannya tak sehebat tarian Abigail.

Pipigi memutar kepalanya penuh ke belakang, melirik Abigail yang mulai merinding. “Yang asli selalu lebih baik,” kata badut itu.

Abigail berbalik, menuruni taman, dan berlari menjauh. Pipigi menunjuk-nunjuk Abigail dan menyuruh para lebah berseragam mengejarnya. Polisi lebah kesulitan berlari karena kakinya pendek dan pantatnya besar dan berat. Mereka menjatuhkan diri setiap kali Abigail lewat, tetapi selalu gagal. Mereka seperti berusaha menangkap belalang yang pandai berloncatan. Abigail melompati polisi lebah yang tengkurap di tanah lalu merunduk dan merangkak di kolong kaki polisi yang menyergap di depannya ketika dia dihadang dari tiga arah. Abigail terus berlari mendekati akuarium penjara.

“Pakai senjata kalian!” Pipigi berteriak.

Para polisi lebah meletuskan pistol mereka. Peluru-peluru busa melesat. Abigail jatuh tersandung. Semua peluru meleset dan memecahkan kaca akuarium. Peluru busa itu menyerap habis semua air dan membengkak jadi boneka bulat berwujud babi dan sapi.

Semua yang terbebaskan mengap-mengap. Mereka memandangi Abigail yang kesakitan dan tak sanggup berlari lagi. Ketika mereka melihat sekeliling, para polisi lebah juga mengincar mereka. Mereka memilih berlari dan meninggalkan Abigail. Anak itu tertangkap kemudian dipaksa menari terus. Para polisi lebah berjaga di sekeliling anak itu. Paduan tarian tiruan dan tariannya berdampak lebih hebat. Siang tetap cerah dengan langit biru dan arakan awan. Malam begitu indah dengan pancaran sinar bulan yang selalu purnama dan kerlap-kerlip bintang. Dia menari dengan senyuman paksa dan lama-lama capai. Akhirnya dia berhenti dan menangis, membuat semua keseimbangan alam kacau.

Pipigi datang membentaknya. “Bertahun-tahun kami hidup dalam kegelapan,” katanya. “Aku memindahkan pintu dunia Menel itu ke sana kemari, mencari rumah-rumah kosong yang ditinggali selama liburan. Belum tentu juga anaknya bisa menari seperti Putri Aurinko. Kami takkan membiarkanmu berhenti dan membuat kami menderita lagi!”

Abigail menahan air mata dan lanjut menari. Selalu ada polisi lebah yang memutar kembali engkol kalau musiknya terdengar mau berhenti. Malam jadi larut. Abigail telah menari dua hari tanpa berhenti apalagi tidur dan makan. Meskipun demikian, di dunia nyata dia baru menari dua puluh menit. Polisi lebah saja letih menjaganya.

Abigail sudah hampir berhenti ketika mendengar suara gemerisik di balik semak-semak taman tersebut. Dia tak curiga, tetapi lama-lama sumber gemerisik itu mendekat. Dari sana berlari si Boneka, salah satu tawanan yang berhasil kabur. Si Boneka gemuk dan kotor, seperti habis berguling-guling di pasir, mengumpulkan semua debu di tubuhnya. Para polisi terkejut dan bersigap. Si Boneka melompat setinggi dinding taman dan menjatuhkan diri, mengepulkan debu yang menghalangi pemandangan. Para polisi terbatuk-batuk. Mata mereka perih sampai mengeluarkan air mata. Kemudian seseorang menggamit tangan Abigail dan mengajaknya kabur. Saat mereka keluar dari kepulan debu tersebut, barulah terlihat si Balon yang menariknya. Mereka berlima berlari.

“Maaf kami meninggalkanmu kemarin,” kata si Kue. “Kami begitu takut, tapi merasa bersalah dan kembali ke sini. Kami akan mengeluarkanmu dari dunia Menel ini. Kami tahu jalan keluarnya.”

Para polisi meletuskan pistol, tetapi tak satu pun peluru melesat. Mereka lupa mengisinya ulang. Mereka jadi mengejar saja. Sampai kecepatannya cukup, mereka terbang rendah. Sayang, badan mereka terlalu berat untuk terbang tinggi. Lama-lama jarak para polisi dengan para tawanan kabur menyempit. Si Lolipop berhenti untuk menghadang. Dia memutarkan lempengannya, menimbulkan ilusi hipnotis yang membuat sebagian polisi terbang terhuyung-huyung dan terjatuh. Dia juga menebarkan permen-permen kecil. Itu membuat sebagian yang lain sibuk mengemutnya tanpa berhenti dan sakit gigi. Dia tak sanggup menangani semuanya sehingga berlari menyusul yang lain.

Ketika jarak kejar-kejaran mereka menjadi sempit lagi, si Kue menciprat-cipratkan krimnya ke jalan. Jalan menjadi licin dan sebagian polisi terpeleset jatuh. Ada krim yang begitu lengket sehingga memerangkap yang menginjaknya, tetapi ada saja yang berhasil menghindarinya.

Si Boneka mendongak dan menunjuk persegi bercahaya di langit. “Pintu dunia menel sudah dekat!” Laju mereka memelan karena capai dan dada yang sesak kehabisan napas.

“Bagaimana cara kita naik?” kata Abigail terengah-engah.

“Semuanya berpegangan erat padaku,” kata si Balon. Dia memasukkan jempol ke mulut dan meniup dirinya sendiri. Semua balonnya membesar. Mereka melayang. Dia terus meniup-niup sampai pipinya memerah.

Pipigi berlari di bola besar sambil melempar-lemparkan lima pin bowling. Tanpa memberhentikan putaran pin, Pipigi melontarkan satu ke arah si balon, meledakkan salah satu balon. Mereka merendah. Abigail menjerit takut jatuh. Pipigi melemparkan pin lagi. Kena juga. Pin seterusnya pun tepat sasaran sehingga si Balon terbang makin rendah. Pipigi tertawa puas. Si Balon membesarkan kepalanya. Mereka terbang lagi. Pipigi merengut, tak bisa membayangkan kalau mereka berhasil kabur. Kemudian dia sadar akan sesuatu.

“Kau tak punya kuncinya, Anak Manis!” teriak Pipigi sambil merogoh kantongnya. Dia menepak-nepak semua kantungnya. Senyumnya redup ketika dia menyadari kuncinya hilang.

Abigail memegang perutnya dan berseru girang ketika mendapati kuncinya ada di situ. Dia segera merogohnya ketika mereka sudah dekat dengan pintu dunia Menel. Abigail menjulurkan lidahnya dan berteriak dengan suara mengejek. “Kuncinya jatuh terus aku pungut. Untung lupa aku kembalikan.”

Abigail menjulurkan tangannya, memasukkan kunci ke lubang. Si Balon tak bisa diam karena angin. Mereka bergoyang-goyang di udara. Pipigi turun dan mengangkat lantas melemparkan bolanya ke Abigail. Bola itu melesat cepat seperti sebuah bom meriam. Abigail semakin kebelingsatan memasukkan kuncinya sampai membuat kuncinya jatuh.

Si Kue berhasil menangkap kunci itu dengan kaki lilinnya yang dijulurkan. Bola itu semakin dekat. Si Balon bisa meledak dan mereka terjatuh kalau bola itu berhasil mengenai mereka. Abigail memutar kuncinya. Pintu terbuka, semuanya masuk. Bola itu menghantam Abigail sebelum anak itu masuk, menjatuhkannya.

Yang lain terjebak di lemari jadi benda mati. Mereka tak tahu mereka hanya bisa hidup di dunia Menel. Si Balon perlahan mengempis. Si Boneka menyerap debu dan mengundang tungau. Semut dan kecoak menggerogoti si Lolipop dan si Kue. Di dunia Menel, Abigail terus menari di panggung dalam tabung kaca. Hanya bisa berharap akan ada yang menyelamatkannya. Percuma.

 

 

Fauzi Atma

@fauziatma

Penulis dari Serial Muslihat Hitam. Buku pertama, Kristal Aracruz, terbit tahun lalu secara mandiri melalui @nulisbuku. Buku kedua akan terbit akhir tahun ini secara mandiri pula. Sekarang penulis tengah menulis buku ketiga.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Tarian Putri Aurinko

  1. R.S.B. says:

    This is colorful Dark Story… Kau berhasil membuat cerita yang seperti fantasi bocah yang seharusnya warna-warni menjadi gelap dan mencekam. Ah ini endingnya terlalu gelap btw… Tokoh utamanya bener-bener sial kedapetan lemarinya jadi portal pintu menuju Dunia Menel dan akhirnya terlalu kejam, entahlah, apa salah tokoh utamanya dan tokoh-tokoh pembantunya sampai dia berakhir tragis seperti itu. Btw this story is nice. Kau berhasil membuat segala hal yang imut-imut jadi kejam, ini seperti menampilkan boneka beruang lucu menjadi tokoh sekejam Lotso di TS3… Btw walaupun begitu, saya masih gatau. Karena ini endingnya begini, saya jadi gak ngerti apa yang mau disampaikan dalam cerita ini. What’s the point telling this? What’s the message? Apakah pesannya, hati-hati jangan masuk lemari, LOL :^D Aah… Tapi karena nampaknya cerita ini nampaknya memang murni ditujukan untuk menghibur, saya jadi tidak terlalu memikirkan itu… Dan ada hal-hal lain yang mengganggu saya, terutama di awal-awal tentang teror-teror… Itu ada bayangan badut, gimana caranya bisa muncul? Katanya makhluk Menel gak bisa berada di Dunia Manusia, dan siapa yang membuka tutup pintu apa itu memang keparanoidan Abigail atau emang kenyataan, kalau kenyataan aneh dong. Terus itu saya masih bertanya-tanya kenapa ranting-ranting pohon itu jadi hidup =__=)”’ Btw. Sejujurnya saya lebih suka endingnya diganti jadi Abigail mengajarkan makhluk Dunia Menel menari jadi dia gak perlu menculik anak lagi buat menari… =_= #Gitu aja kok repot hahahah… But ceritanya jadi gak gelap…

    I give (8.25/10) for this colorful dark tale

    • R.S.B. says:

      Kalau berkenan mampir ke No. 96. ^_^

    • Fauzi Atma says:

      Sudah tersirat bahwa Pipigi, si badut, adalah juru kunci dunia Menel dan satu-satunya yang bisa keluar masuk dunia Menel untuk mencari pengganti Aurinko.

      Ada dua alternatif untuk akhirnya memang, tetapi saya lagi pengin buat cerita dengan akhir yang mengenaskan. Terima kasih untuk nilainya, dengan senang hati saya mampir di no. 96. :D

  2. katherin says:

    …Dunia yang seperti mimpi buruk dgn random plot and action.

    Walaupun plot cerita ini sangat dark dan sulit dipahami, apabila penulisannya rapi dan ramah pada pembaca, aku rasa cerpen ini akan sangat menarik.

  3. Aku suka caramu bercerita, unik sekali, membuatku mudah untuk larut dalam imajinasinya. Tapi kisah ini udah sangat familiar, sudah sering diceritakan, aku jadi kurang terpikat.

  4. hai Fauzi salam kenal :D

    Wah udah terbitin buku sampe dua berarti udah cukup senior nih di dunia tulis menulis. Mohon bimbingannya yah buat gw yang masih sangat newbie ini ^_^

    Gw suka dengan aura dark fantasy yang dipancarkan cerpen ini, apalagi tokoh utamanya anak-anak yang notabene lebih sulit untuk dibuatkan dark fantasy (untung ga gore. Haha). Alurnya udah enak, dan bikin gw betah buat baca sampe akhir untuk tau akhirnya bakal gimana. Sempet mikir kalau endingnya bakal happy, tapi sayangnya enggak. Hehe.

    Kalau dari segi teknis, paling ada beberapa typo salah nulis tapi yang lainnya udah ok sih. Oh ya, gw juga ngerasa sih kalau cerita ini lebih cocok kalau panjang (ga sampai jadi novel sih), tapi imajinasinya sudah tersampaikan semua kok. Hehe.

    Kalau sempat, silakan mampir ke lapak 244 ya ;) makasih.

    • Fauzi Atma says:

      Iya, ini terinspirasi film pendek pixar yang claustrophobia, kalau nggak salah sih itu. Bener-bener dark, padahal tokoh utamanya anak kecil.
      Langsung melesat ke 244. :D

      • Heh? Bukan yang Coraline ya? *Database Error*

        Soal pemilihan kata, contoh:
        Abigail semakin kebelingsatan memasukkan kuncinya sampai membuat kuncinya jatuh.
        Di puncak kepanikan, Abigail memasukkan kuncinya terburu-buru. Malang, kunci itu meluncur dari jari-jari mungilnya dan jatuh berkelontang di lantai.

        Hm, ini seperti “Alice in Wonderland” tapi so hopeless.
        Oi, Alay Silebay! Gunakan kesaktian superlebaymu, kau tolonglah si Abigail! Kasihan banget dia, dijebak seperti itu karena gak ada solusi. Soalnya kalau pakai solusi ini-itu, takutnya klise-kah?
        Alay: Nyang bener aje Mbak! Mentang-mentang namanye sama2 “A”! Tapi boljug sih…
        Btw Fauzi, saya rekomendasikan kamu baca “Euthanasia”-nya Fachrul (No.28). Bandingkan solusi yang kamu pilih dan yang dia pilih.

        Alice: “Itu hanya mimpi! Cepat bangun!”
        Wizard of Oz: “Seharusnya kau cari pendukung lain yg sakti… Dasar si Pipigi.”
        Iron King: “Hm, sebenarnya aku suka si Pipigi. Dia itu lebih ‘dark’ daripada Puck.” (Referensi: http://en.wikipedia.org/wiki/A_Midsummer_Night%27s_Dream)

  5. gurugumawar gurugumawaru says:

    Saya tahu badut memang jahat. Ga bisa dipercaya. Makanya saya phobia sama badut. Mau badutnya pake tutu ato joget gangnam style, badut ya badut. Serem. *merinding*

    Oke. Pertama, judulnya seriusan menarik. Tadinya saya pikir ini cerita dongeng Jepang lho :D

    Kedua, endingnya bikin saya: DAFUQ?? Saya seriusan nyangka endingnya bakal hepi, karena walo punya aroma-aroma gelap, cerita ini punya banyak warna. Ternyata ceritanya manis-manis pahit, macem Ib (game indie gratisan yang ceritanya seru ^^).

    Saya ga punya komplen soal penulisannya, menurut saya udah cukup enak.

    3,5 out of 5 (ga 4 karena ada badutnya :P)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>