Untuk Pangeranku

UNTUK PANGERANKU

karya Ardani Persada

Setelah beberapa jam yang terasa begitu lama, langit kini berhenti menurunkan hujannya. Udara dingin yang melintasi daun jendela kini digantikan oleh bau lembap tanah dan rerumputan. Beberapa pedagang dan pengelana juga menghela napas lega, langit tidak lagi menghalangi pekerjaan mereka.

Dari beranda di kamar penginapan, seorang pria menatap pemandangan kota yang basah setelah hujan. Tangan terlipat di dada. Berbeda dengan pengelana lain, ia tidak terlihat gembira dengan cuaca yang telah reda.

Ketokan di pintu, seorang pria setengah baya melangkah masuk. “Tuan muda,” katanya. “Cuaca telah berubah. Apakah Anda ingin melanjutkan perburuan?”

Yang dipanggil tidak segera menjawab. Ia mengetuk-ngetukkan telunjuk kanan pada baju baja. “Rencanaku seperti itu, tapi wyvern menjadi buas setelah hujan. Walau kita sudah cukup melukainya kemarin, menyerang begitu saja tetap berbahaya.”

“Itu bukan masalah bagi kami,” jawab sang pria. “Kami semua tidak mengkhawatirkan bahaya yang akan terjadi selama menemani Anda.”

“Aku tahu,” katanya. “Karena itu, aku harus memastikan kemenangan sebelum berangkat. Aku tidak ingin membawa kesatria kita menuju moncong wyvern sia-sia.”

“Keputusan yang bijaksana,” kata pria setengah baya. “Tapi saat ini, kami semua menanti keputusan Anda.”

Untuk sesaat, sunyi yang berat mengitari mereka. Waktu terasa berjalan lambat sementara sang tuan muda berpikir. Akhirnya, setelah beberapa lama, sang tuan muda berkata. “Kita berangkat hari ini juga. Kirim Lorenz dan beberapa orang sebagai pasukan pendahulu. Cari lokasi wyvern. Kita berkemah di hutan malam ini. Besok, kembali berburu.”

Sang pria segera memberi hormat ala kesatria. “Sesuai keinginan Anda, tuan muda.” katanya. Saat ia hendak meninggalkan kamar, suara tuan mudanya menghentikannya.

“Alfred, di sini panggil aku Alexandra. “

Pria itu mengangguk mengerti lalu segera melangkah pergi.

Alexandra memusatkan perhatian pada jalanan kota yang ramai kembali. Suara hujan digantikan dengus kuda yang tak sabar meninggalkan kota, disertai pedagang yang mencuri kesempatan menjual barang. Alexandra menggeleng heran melihat para penduduk kota bisa hidup tenang seakan dunia tidak sedang berperang.
Perang adalah sesuatu yang selalu memenuhi kepalanya. Semenjak kecil ia telah melihat bagaimana pamannya menunggang kuda dalam balutan baju baja. Karena itulah ia terbiasa dengan strategi militer, politik, dan ilmu kesatria. Ia selalu berharap akan menjadi pahlawan yang nantinya mengukir nama.

Alexandra lalu membawa dirinya keluar penginapan, langkah kakinya yang gusar terdengar hingga seluruh kamar. Segera ia menginjak tanah berlumpur yang rusak oleh jejak manusia, kuda, dan kereta. Banyak orang bergegas pergi setelah hujan tiada. Tidak heran, mengingat kebanyakan penghuni kota hanyalah pedagang dan pengelana.

Di luar penginapan, bau udara lembap masih lekat memeluk udara. Di dalam penginapan, Alfred mengurus biaya sewa kamar serta mempersiapkan keberangkatan para kesatria. Dalam istal-istal, para kuda mendengus tidak sabar akan pertempuran. Sementara di sisi lain penginapan, Alexandra mendengar suara seorang wanita berdebat keras dengan pedagang.

Ia menatap langit. Matahari masih tinggi di balik awan, dan sudah ada pedagang yang berniat menipu orang? Sepertinya keamanan di kota ini memburuk sejak terakhir ia singgah. Kemarahan sang wanita semakin menjadi-jadi, sebuah kalimat bentakan kini menjadi serangkaian sumpah serapah. Dan tentu saja, keributan seperti itu menarik perhatian para prajurit penjaga.

Alexandra hanya memerhatikan dari jauh ketika para prajurit itu berusaha menenangkan wanita dan pedagang yang sepertinya sudah siap berperang. Pandangan Alexandra sedikit terhalang oleh orang-orang yang berkerumun, tapi sepertinya wanita itu bukan penduduk kota ini. Ia mengenakan baju baja tipis dengan tunik merah dan pedang panjang yang terlihat rapuh. Pakaian prajurit bayaran yang tidak menghasilkan banyak uang.

Di balik wanita itu, tampak seorang wanita berambut merah yang sama kesal kepada si pedagang. Mungkin teman si prajurit bayaran, hanya saja wanita ini tidak terlihat seperti prajurit bayaran. Ia mengenakan pakaian biasa dan rok panjang, layaknya gadis desa biasa. Bukan tipe orang yang akan diajak seorang prajurit bayaran berkelana bersama.

Para prajurit kota kembali berusaha menenangkan si pedagang, tapi pedagang itu tetap bersikukuh akan tetap membayar para wanita itu dengan sekantung uang perak dan tembaga, walau separuh dari kantung itu hanya berisi udara.

Alexandra memerhatikan lebih dekat, dan wajah si pedagang berubah familiar. Mungkin hanya berbeda pada rambut dan perhiasan, tapi itu wajar bagi seseorang yang menyamar. Dengan senyum seperti singa hendak menangkap mangsa, Alexandra berjalan menghampiri mereka.

“… hanya itu,” teriak si pedagang. “Para wanita ini mungkin memiliki bayangan sendiri tentang bayaran mereka, tapi hanya itu aku bersedia membayar.”

“Lama tidak bertemu, Rhymbad,” Alexandra memotong argumentasi. “Aku tidak senang melihat usahamu berjalan seperti biasa.”

Mendadak wajah sang pedagang berubah pucat. “A-apa yang Tuan katakan? Saya tidak mengerti…”

“Mengubah penampilan dan berpura-pura bodoh tidak akan menolongmu,” potong Alexandra. “Kami bisa dengan mudah mencari seorang korban penipuanmu di utara. Sekarang, kau punya tiga pilihan,” ia mengacungkan jari telunjuk. “Membayar para wanita ini apa yang kaujanjikan, lalu kami akan membawamu ke penjara,” ia mengangkat satu jari lagi. “Tidak membayar mereka, kami membawamu ke penjara, lalu memaksamu membayar para wanita ini ditambah denda,” ia mengangkat jari yang ketiga. “Mencoba melarikan diri, kami mengejarmu dan mungkin membunuhmu, setelah itu menyerahkan semua yang kaumiliki kepada para wanita ini.”

Wajah para wanita itu jelas berharap ia memilih yang ketiga. Rhymbad melirik jijik menyadari bagaimana para wanita itu menatap barang dagangannya.

Akhirnya, ia menyerah. “Baiklah,” katanya sembari melemparkan sekantung penuh uang kepada wanita prajurit bayaran. “Setidaknya kalau aku menyerah baik-baik, barang daganganku akan disita dan tidak ada yang bisa mendapatkannya.”

“Pilihan bijak.” Alexandra lalu memberi tanda kepada prajurit kota yang segera meringkus sang pedagang. Ia lalu menghampiri kedua wanita yang menunduk hormat melihat Alexandra mendekat. Mungkin karena lambang keluarga pada baju baja Alexandra yang menandakan dengan jelas bahwa ia seorang kesatria.

“Terima kasih sudah menolong kami, Tuan,” kata wanita berpedang. Bahasa tubuhnya terlihat kaku.

“Santai saja. Aku tidak suka sikap yang terlalu formal,” Alexandra melanjutkan. “Sebenarnya, aku yang seharusnya berterimakasih. Pedagang itu buronan di tiga wilayah, dan kalau kalian tidak membuat keributan seperti tadi, lebih banyak wilayah akan mencari namanya.”

Si rambut merah tersipu malu mendengar pujian itu, sementara temannya sedikit berdehem dan membalas ucapan Alexandra dengan senyum kecil yang membuat wajah tomboinya terlihat manis. Alexandra melangkah mendekat, meraih tangan sang wanita berpedang, dan berkata. “Sebagai seorang kesatria, akan melukai nama keluarga jika aku tidak mengetahui nama…” Belum selesai ia berkata, sebuah suara memotongnya.

“Tuan Alexandra,” Alfred menegur. “Apa yang Anda lakukan?”
Alexandra merengut. “Seperti apa yang telah kau ajarkan,” katanya. “Bersikap sopan kepada wanita.”

“Saya anggap Anda telah tidak sengaja mengganggu mereka, atau mereka telah membantu Anda dalam suatu cara?”

“Kenapa pilihan mengganggu keluar pertama kali?” Alexandra memprotes. “Berkat mereka berdua aku berhasil mengirim seorang penipu ke dalam penjara.”

Alfred terlihat terkejut, lalu menoleh kepada kedua wanita mencari kepastian. “Benarkah itu?” Kedua wanita mengangguk. Alexandra masih memegang tangan salah satunya.

“Kalau begitu,” Alfred berjalan menghampiri si rambut merah. “Izinkan saya untuk berterimakasih karena Anda berdua sudah menolong tuan muda saya yang tidak berguna, tapi kami harus segera pergi. Tugas memanggil,” ia melirik ke arah Alexandra. “Anda bisa melepaskan tangannya, Alexandra.”

Sang tuan muda, tidak menyadari wanita yang tersipu di hadapannya, membuat wajah tidak suka diperintah kepada kesatrianya. Ia lalu kembali menatap si wanita. “Jangan pedulikan dia. Jika kau atau temanmu membutuhkan bantuan, teriak saja seperti tadi dan kami akan datang menolong.”

“Alexandra.”Alfred berbicara dengan nada datar yang sama, tapi penuh ketegasan yang meminta Alexandra bergegas. Alexandra, bersikap seakan tidak mendengar kalimat Alfred, tiba-tiba mencium tangan sang wanita.

“Sayang sekali saya harus menuruti kalimat kesatria saya,” ia berbicara seolah tidak menyadari wajah sang wanita yang seakan terbakar dari dalam. “Tapi, sebelum kita berpisah, maukah Anda berdua memberitahu nama Anda?”

Sembari tergagap, seakan paru-parunya kehabisan udara, wanita itu menjawab. “Germaine.”

Alexandra mengangkat kepala dan berpisah darinya dengan senyum setipis embun. Ia menghampiri si rambut merah, lalu melakukan hal yang sama. Menanyakan nama kepada sang wanita yang kelabakan mencari kata-kata.

Dengan wajah semerah matahari sore, wanita itu menjawab. “Me-Meil. Meiluka.”

Alexandra kembali berdiri tegak dengan senyum tipis menggores pipi. Sebagai jawaban sopan, ia pun memperkenalkan namanya. “Warren Alexandra Ewalom II. Tapi tolong, panggil aku Alexandra.”

Germaine mendadak tercekat mendengar nama itu. “Pangeran Wa..”

“Tolong panggil aku Alexandra. Aku tidak ingin menarik perhatian di tempat ini.”

Kedua wanita itu langsung mengangguk mengerti dan tidak mengucapkan sepatah kata lagi. Merasa sudah cukup berbasa-basi, Alfred mengambil alih suasana. “Kita harus segera berangkat, Tuan Alexandra,” suaranya halus, tapi ketegasan masih tersisa di dalamnya. “Sekali lagi terima kasih atas bantuan Anda, nona-nona.”

Alfred segera melangkah pergi, diikuti Alexandra yang terlihat sedikit kesal.

“Sudah kubilang panggil aku Alexandra saja, kan?”

“Tuan muda,” Alfred tidak terlihat mendengarkan sama sekali. “Ingatkan saya untuk mengajari Anda lebih banyak tentang sopan santun kepada wanita.”

“Tidak mau.”

“Kalau begitu, setidaknya cobalah untuk mengendalikan diri Anda.”

“Kenapa? Aku tadi tidak melakukan hal yang memalukan, kan?”

“Memang tidak, tapi ada perbedaan antara memerlakukan wanita bangsawan dengan rakyat biasa.”

“Aku kira hari ini aku tidak perlu berlaku seperti pangeran.”
“Seluruh keluarga mengharapkan hal itu dari Anda.”

“Baik, baik, aku mengerti,” mereka berdua berhenti di hadapan satu peleton pasukan berkuda. “Jadi, mereka sudah siap?”

“Siap untuk apapun perintah Anda.”

“Baiklah kalau begitu,” Alexandra terlihat puas. “Ayo kita berburu wyvern.”

Alexandra segera berada di atas sadel kudanya, menatap Alfred yang mempersiapkan pasukan dengan sigap. Dalam hati Alexandra sangat bangga akan kesatria keluarganya; semuanya siap bertempur melawan mangsa yang lebih kuat dari manusia. Menempa diri untuk peperangan di masa depan. Peperangan yang pasti akan datang.

Kuda-kuda hitam membuat jejak yang dalam, sementara tatapan terpana dan decak kagum mengiringi keberangkatan. Walau mereka tidak mengetahui bahwa yang memimpin para kesatria adalah pangeran mereka, para penduduk tetap menghormat dan menyanjung seakan yang melintas adalah seorang Raja.

Meninggalkan tembok kota di belakang, kuda-kuda kesatria Ewalom mencetak jejak di atas rumput basah padang lebar. Gema puluhan pasang ladam mengisi udara kosong menuju hutan. Suara mereka saling menimpa layaknya hujan yang baru saja reda.

Ketika Alexandra memerintahkan beberapa kesatrianya menjadi pasukan pendahulu, ia tahu mereka akan memberikan jejak yang mudah diikuti. Kulit pohon yang tergores, semak yang robek, dan jejak-jejak kuda menjadi penanda. Semakin lama hutan semakin lebat, pepohonan pun tumbuh semakin rapat. Hingga sinar pucat matahari senja berkata pengejaran harus ditunda.

Di dalam hutan, di puncak sebuah bukit, Alexandra dan para kesatrianya mendirikan perkemahan sementara. Ketika pagi akhirnya tiba, Alexandra tidak perlu mendengar kabar dari pasukan pendahulu untuk tahu di mana wyvern itu berada.

Bersama matahari yang mengintip dari sudut cakrawala, wyvern itu membelah angkasa dengan kepak sayap lebar dan raungan sekencang seratus serigala. Membangunkan para kesatria dan beberapa lainnya bersiaga di atas kuda. Di salah satu sudut hutan, Alexandra bisa mendengar derap kuda pasukan pendahulunya.

“Sial!” umpat sang pangeran muda. “Hilang sudah kesempatan menyergapnya diam-diam.”

Ketika Alexandra menghela kuda meninggalkan perkemahan, kesatria berambut pirang, Lorenz, muncul dari balik pepohonan. “Tuan muda! Wyvern itu terbang kembali menuju kota.”

“Aku bisa lihat itu.” ia menoleh balik kepada kesatria keluarganya. “Alfred! Aku akan maju lebih dulu. Kaubawa para kesatria Ewalom, setelah itu bergabunglah denganku!”

“Baik, Tuan muda!” perkemahan itu pun menjadi riuh oleh suara pasukan yang mempersiapkan senjata. Meninggalkan semua keributan itu, Alexandra dan Lorenz berderap menuju padang yang menghubungkan hutan dengan dinding kota.

Semakin dekat dengan ujung hutan, semakin mereka mendengar nada ketakutan. Burung-burung menjauhi sisi padang seakan mereka melarikan diri dari beruang. Decit ketakutan mereka menutupi jerit panik di sisi lain hutan. Alexandra dan Lorenz mencabut pedang, menyongsong suara ketakutan di tengah padang. Bersama desis api yang membakar udara, kedua kesatria itu melompat masuk dalam medan laga.

Padang hijau memantulkan lidah api merah ke segala arah. Beberapa kesatria Ewalom, berbajubaja tipis ala pasukan pendahulu, menarik perhatian sang wyvern, sementara beberapa lainnya menyelamatkan orang-orang sebanyak yang mereka bisa. Api yang berkobar mempersulit tugas mereka.

Alexandra langsung memeriksa medan pertempuran, mencari celah atau titik lengah yang tidak wyvern sadari. Tanpa sengaja, matanya menangkap sebuah kereta pedagang yang terguling pada rodanya. Kuda telah tewas terpanggang, sementara beberapa orang terperangkap dalam api dan pertempuran.

Di antara beberapa orang itu, ia melihat sosok Germaine dan Meiluka. Germaine membuat jalan dengan pedangnya, sementara Meiluka mengacungkan sebuah kristal di depan dada. Kristal yang menyelubungi semua orang dalam kubah magis. Aman dari terjangan wyvern, walau sementara.

Lorenz sepertinya menyadari apa yang dilihat Alexandra, karena saat berikutnya ia berkata. “Wyvern lebih dulu lalu para wanita, Tuan muda.”

Alexandra mau-tidak-mau menyetujui kalimat itu. Bersama raungan wyvern yang kembali menggetarkan udara, Alexandra menjejakkan kaki ke tubuh kuda, tenggelam dalam pertempuran.

Alexandra, Lorenz, dan beberapa kesatria Ewalom bekerjasama merobek sayap wyvern, mencegahnya melarikan diri seperti pada perburuan sebelumnya. Pertarungan mereka memantik api keberanian dari para pengelana dan prajurit bayaran, pedang mereka beradu dengan cakar sekeras berlian.

Tak lama kemudian, sisa pasukan Ewalom menerjang dari dalam hutan. Membantu Alexandra dan prajurit lainnya yang kehabisan tenaga. Alfred memberi komando kepada seluruh pasukan, menerjang wyvern dari sisi kiri dan kanan. Beberapa kesatria terbakar oleh napas api, tapi tidak mengendurkan semangat yang seratus lagi. Sebelum pagi berubah siang, wyvern itu telah terkalahkan.

Alexandra lalu memerintahkan kesatrianya untuk menguburkan para prajurit dan kesatria yang gugur. Ia juga menggunakan penginapan sebagai balai pengobatan. Berkat itu, mereka yang tadinya bertempur setengah mati bisa berkumpul dan berpesta di sekitar api unggun malam hari.

Alfred dan beberapa kesatria lain berkumpul bersama walikota dan komandan pasukan kota; mereka yang sangat membantu mengungsikan penduduk. Sebagian kesatria yang lain memilih berbagi cerita bersama prajurit bayaran. Sementara Alexandra menghabiskan minuman bersama Germaine dan Meiluka.

Suara riuh tawa, denting gelas dan minuman keras, serta belasan orang yang menyombongkan diri saling tindih satu sama lain. Mengaburkan kata dari bibir orang lain. Alexandra tidak menghabiskan waktu untuk berkata-kata, ia sibuk menghabiskan gelasnya yang kedua puluh dan membantingnya tepat di hadapan Germaine.

“Itu!” katanya. “Adalah jawabanku!” Dan ia tertawa kencang seperti kesurupan. Germaine di sebelahnya berusaha menghabiskan apa yang tersisa dalam gelasnya.

” Kau hebat juga untuk seorang pangeran,” kata Germaine dengan wajah memerah karena alkohol.

“Heh, jangan kira aku ini seperti pangeran yang biasa kaudengar dalam dongeng.”

Germaine tertawa. “Akan kuingat itu.”

Meiluka segera menawarkan gelas baru kepada Alexandra. “Ini, pangeran.”

“Taruh saja dulu,” jawab Alexandra. Wajahnya sendiri lebih merah dari Germaine. “Aku perlu sesuatu untuk menghilangkan mabuk.”

Tiba-tiba Germaine menyahut. “Kalau begitu bagaimana kalau kau bernyanyi?” sewaktu Alexandra menatapnya seakan ia melihat wyvern membelah diri menjadi dua, Germaine menjelaskan. “Maksudku Meil. Biar dia bernyanyi, aku yakin kau akan suka.”

Walau tidak minum sama sekali, wajah Meil berubah lebih merah dari mereka berdua. “A-apa? Aku tidak.. maksudku… pangeran mungkin tidak suka…”

“Kenapa tidak?” komentar Alexandra. “Pasti akan menarik. Lagipula, perayaan seperti ini tidak akan lengkap tanpa nyanyian.”

Germaine dan Alexandra seakan tidak menyadari wajah Meiluka yang kian memerah dengan tiap kata. Walau enggan, namun dorongan Germaine dan Alexandra akhirnya memaksanya berdiri di tengah kerumunan orang, langsung menjadi pusat perhatian.

Riuh rendah yang sejak berjam-jam lalu mengitari api unggun perlahan meredup padam seiring semua mata menyadari keberadaan Meiluka. Wajah wanita itu kini tampak lebih merah dari rambutnya.

“Anu.. anu…” Meiluka tampak kebingungan menyusun kata-kata. “Aku… mungkin apa yang akan kunyanyikan ini tidak begitu bagus. Tapi, aku ingin semua yang telah menolong kami dari serangan wyvern mendengarkannya. Terutama, untuk pangeranku.”

Semua orang kini menjadi bisu, dengan satu-satunya alunan lagu adalah suara kayu yang menjadi abu. Meiluka menarik napas. Membiarkan diri dan jiwanya berubah menjadi sehelai kosong kertas. Ia mengisinya dengan perasaan yang pertama melintas dalam dada. Lagu ini, benar-benar untuk pangerannya.

Oh, oh, dengarkanlah suaraku. Suara yang hanya untuk pangeranku. Oh, oh, apakah kau tahu? Ia jauh berbeda dengan semua pangeran yang kau tahu.

“Jauh dan gelap, kami tidak mendengar namanya terucap. Kami hanya tahu, ketika pangeran, ingin pergi ke negeri yang jauh. Jauh menuju peperangan, yang seakan tak berujung.

“Pangeran itu, kami kira, hanya pangeran yang tinggi hati, saja. Pangeran itu, kami kira, hanya ingin mencari gelar, dan nama yang jaya.

“Tapi kami yang hanya berbisik, tak pernah tau seperti apa, hati pangeran terusik. Sungguh inginnya dia, menghentikan perang, yang membakar Tanah Utama.

“Bukalah telinga, wahai kawan. Kepada semangat, yang dalam hati pangeran, jauh tertawan. Bukalah mata, wahai saudara. Kepada api membara, yang bersamanya, pangeran membawa masa jaya.

“Bukan hanya, nama keluarga. Bukan hanya, kejayaan semata. Lama kita tertindas, hingga hanya ujung dunia, tempat kita bisa bebas.

“Tinggalkan penindasan, pangeran kita berharap. Hancurkan penjajahan, pangeran kita berdoa. Demi jiwa yang tak gentar lawan dunia, ia berdiri dan tantang yang maha kuasa.

“Demi jiwa yang dahulu kala, lewati semua, yang semua orang, anggap tak mungkin bisa. Demi satu nama, yang hari ini, bakar api serupa. Menjadi api yang menyala, satu irama, dengan hati pangeran kita.

“Demi tantang sang Ratu, yang selalu, inginkan dunia tetap satu. Demi tantang dunia, yang menolak akui, dia yang sulut, api jiwa pangeran kita.Demi tantang yang mustahil, lewati batas takdir, hingga di akhir masa, nama pangeran kita ‘kan berjaya.

“Demi lagu ini, demi jiwa ini, aku berdoa, pangeran kita ‘kan berjaya. Hati ini, dan jiwa ini, ‘kan mendukungnya, sepenuhnya.”

Meiluka menarik satu napas terakhir, mengakhiri nyanyian yang hanya ditemani bisikan api. Udara di sekitarnya masih terasa tidak sabar. Seakan ia berdiri di tengah kepulan api yang sewaktu-waktu bisa meledak. Mengharapkannya terus bernyanyi. Mengharapkannya terus memuji. Tapi kertas dalam jiwanya sudah penuh terisi. Tidak ada lagi yang bisa ia ubah menjadi irama penuh rasa.

Di tengah penonton yang siap meledak, Alexandra perlahan bangkit. Membagi perhatian yang tadi hanya tertuju kepada satu wanita. Ia merentangkan tangan selebar bahu, wajah seakan ia bertemu seorang putri, lalu suara tepukan tangannya mendadak menaungi sunyi.

Segera Germaine mengikuti tindakannya, lalu Alfred, Lorenz, para Ewalom, hingga akhirnya seluruh kota bergema dalam tepukan tangan penuh suka cita.

“Luar biasa,” kata Alexandra. “Lagu yang benar-benar indah.”

Mendengar kalimat sang pangeran, wajah Meiluka kembali memerah. Alexandra mengacuhkan ekspresi itu, menghampiri Meiluka yang berdiri terpaku seakan ia terikat pasak kayu.

Kalimat Alexandra berikutnya hanyalah sebuah bisikan, tapi terdengar jelas oleh semua orang. “Meiluka,” katanya. “Ikutlah denganku.”

“I-i-ikut? Apa maksud…?”

“Ketika aku menjadi Raja, aku akan membawa kerajaan ini dalam peperangan yang tidak pernah ada sebelumnya. Aku akan mengumpulkan para bangsawan dan memimpin kesatria mereka dalam pertempuran yang menggentarkan jiwa. Untuk itu, aku membutuhkan seseorang yang mampu membuat seluruh kerajaan mengenang raja mereka. Aku perlu seseorang yang akan menggelorakan semangat juang dari setiap mereka yang menyandang nama kerajaan. Aku perlu seseorang yang akan membuatku berjuang melewati batas yang aku miliki.

“Aku membutuhkanmu. Karena itu, ikutlah denganku dalam setiap langkah kejayaan yang akan datang.”

Suara meledak gaduh begitu Alexandra menyelesaikan kalimatnya. Mengacuhkan wajah sang wanita yang berubah merah, mengacuhkan teriakan Germaine dan komentar dari berbagai arah, Alexandra kian mendekat, setengah memeluk Meiluka.

“Jadi? Apa jawabanmu?”

***

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

36 Responses to Untuk Pangeranku

  1. Noirciel says:

    *ngakak baca nama-namanya*
    Ini toohhh ternyata b(^o^)d b(^o^)d
    Otsukare-san!

  2. phantabib says:

    *lirik komen Oyabun*

    Meiluka.. UhukMegurinLukauhuk.
    Nama tokoh pangerannya Alexandra,.., kek nama cewek. (pliz. Jangan bilang ternyata dia cewek… x_x)

    Mengenai cerita, aku ga nangkep fokusnya. Berburu wyvern? Atau kenalan sama Luka? o_o

    Segitu dulu. Semangat!

    #maaf bila komentar ini tak berkenan

    • Ardani si nomer 191 says:

      Tenang aja. Aku ga suka bikin karakter trap kok. Hehehe.

      Fokusnya benernya di ketemuan sama Luka itu. Berburu wyvern itu alasan supaya mereka bisa ketemu.

  3. Cecilia_Li says:

    Alo Ardani :D aku mampir~

    Umm.. apa ya. Di awal gregetnya kurang! Sayang…. Mungkin kurang deskripsi atau entah apa. Nah mulai di tengah ke terakhir ceritanya mulai enak. Sayangnya sampai di akhir aku merasa biasa2 aja. Apa ini potongan dari sebuah cerita yang harusnya puanjang ya? Ohh ngomong2, lagunya kepanjangan, mungkin menurutku aja. Jujurnya pas sampe di tengah lagu dan kira2 udah tau isinya tentang apa, langsung aku lompatin.. >.< *kabur sebelum dilempar pedang*

    • Ardani si nomer 191 says:

      Alo juga, Cecil. *ngomong sambil lempar pedang* XD

      hmm… orang pertama yang bilang gregetnya kurang di awal. Mungkin tempoku terlalu pelan di situ. Kalo soal lagu, itu benernya juga aku masih eksperimen sih, dan tadinya aku kira malah kurang panjang. XD
      Mungkin lain kali aku mesti ati2 sama lagu/puisi.

  4. Iris Aegis says:

    Ternyata bukan saya sendiri yg memikirkan ‘Meiluka’ itu Megurine Luka, lol XD

    Halo-halo 8D /melambai/

    Ini cerpen romansa kah?
    Saya suka awal cerpen ini, deskrip hujan dan sehabis hujannya itu bagus. Trus karakter Alexandra yg playboy gentleman gimanaa gitu, tersampaikan dengan baik. Tapi setelah awalan yg bagus itu, dan setelah kelar bacanya, agak gimana. Ngerasa ‘oh udahan?’ gitu.

    Agak mempertanyakan soal apa yg dikatakan phantabib di atas, fokusnya berburu apa mempersunting Meiluka? ‘ ‘

    Alexandra itu cowok kan? Tulen kan? /apa/

    Kyknya segitu dulu komennya. Kalau kurang bisa menyampaikannya dengan baik, mohon dimaafkan.

    • Ardani si nomer 191 says:

      Hai2, thank you kamu udah suka ceritanya.

      Dibilang cerpen romansa, bisa juga sih. Soalnya fokusku di cerita ini emang soal hubungan Alexandra sama Meiluka.

      Dan iya, biar namanya mirip cewek, tapi Alexandra itu cowok tulen. :)

      Gapapa, dikasih komentar juga aku udah seneng kok. :D

  5. FA Purawan says:

    —Terus?

  6. Ihsan Abdul Aziz says:

    Hm. Menggantung, ambigu sekali.

    Tapi saya suka karena enak dibaca keseluruhannya. :)

  7. Voxa / El-Lydr says:

    Sudah baca.. :D
    Kayak yang sudah-sudah komentar ceritanya terasa datar. ^^v
    Kalau emang mau di buat Romansa, kesan ketemu lukanya juga kurang kayaknya.
    Hehehehe, ceritanya cuma enak dibaca tapi gak lebih.
    ^^
    #siap-siap di hujat makek katana sama penulis

    Kalau kurang berkesan, yah apa boleh dibuat.
    Hehehehe.

    • Ardani si nomer 191 says:

      Hehehe, gapapa. Katana-ku aku simpen kok buat kamu. :)

      Hmm… datar ya? Habis aku pikir2 lagi, mungkin emang ada sedikit terlalu banyak fokus di cerita ini, akhirnya tiap fokus jadi kerasa datar.

      Thanks buat masukannya, kalo sempet aku bakal ke lapakmu. :) (Eh, lapakmu nomer berapa ya?)

      • Voxa / El-Lydr says:

        Ceritanya kayak terbagi dua fokus, pertamanya perburuan terus langsung meloncat ke cewek..
        pissss.. ^^v

        Wah, sankyu katana-nya udah disempenin.. XD

        Lapakku no.16, tapi kayaknya jangan dikunjungin deh.
        -.-d

  8. kukira Alexandra ini kesatria cewek
    trus nanti dia menyelamatkan pangeran

    cerpennya nanggung, jadi cerpen aksi-petualangan kurang (rame), jadi cerpen romansa juga kurang (gula) ^^; dipaduin malah nanggung di sana-sini

    bagian awal agak bertele-tele untuk ukuran cerpen

    seandainya ada hubungan antara wyvern dan kedua cewek itu,
    bisa lebih seru :D

    tapi aku yakinlah, Sang Penantang Takdir yg terbit 9 Juli nanti lebih seru daripada cerpen ini (promosi terang2an)
    d(^.^)b

  9. Truly Rudiono says:

    Komen tetap sama seperti saat membaca draf

    SPT pasti lebih seru khan??????? *Ikutan promosi *

  10. frenco says:

    ceritanya nanggung nih… atau memang sengaja agak pembaca yang menyelesaikan ceritanya sendiri?

    kupikir Alexandra akan memilih Germaine…

    numpang promo ya, artikel 218 boleh juga disimak :)

  11. katherin says:

    Awalan ceritanya bagus walaupun pace terasa lambat.
    Namun makin ke tengah berasa ceritanya makin gak fokus.
    Yg mau diceritakan itu tentang perburuan Wyvern atau merekrut Meiluka?

    Mungkin karena bingung antara dua fokus itu, ceritanya jd datar tanpa klimaks.
    Tokoh Germaine juga terasa seperti tempelan, tanpa guna.

    Anyway, good luck…

  12. Alfian Daniear says:

    Ngerasa tempo di awal agak lambat, tapi nggak masalah sebagai pengantar cerita :)

    Di bagian lagunya, mungkin bisa terasa dramatis dan feel-nya lebih dapet kalau tiap beberapa part lagu digambarkan ekspresi Meiluka saat menyanyikannya, bagaimana tarikan suaranya, atau cara dia melantunkan lagunya. (Soalnya nggak tahu kayak gimana lagu itu dinyanyiin).

    Itu saja dari saya. Good Luck :)

    *Kalau berkenan mampir ke Kedai Mimpi saya di nomor 159
    Thanks :)

    • Thank you2 komentarnya.

      Tadinya aku takut lagunya jadi lebih pendek sih kalo pake adegan kaya gitu, jadinya aku akalin pake penempatan tanda koma. Tapi, gapapa kok. Toh aku naruh lagu di sini juga masih coba2.

  13. thy says:

    emmm iya sih inti masalahnya agak kabur, maaf :(
    trus menurut aku lebih bagus kalo ada pembatas dari perpindahan adegannya. jadi ga dari awal sampe akhir ga ada jeda..
    kaya misalnya :

    lalalalala

    ***

    lalallala

    gitu maksudnya hehe..

    mampir ke punyaku jg yaa no 154.
    mkasihhh..
    maaf kalo menyinggungnyaa :(

  14. Zehel says:

    Setelah membaca ulang dua kali, saya menarik kesimpulan ini cerita sama sekali enggak penting perburuan Wyvern-nya.
    Kalau memang cuma ingin cari cewek, kenapa bukan bikin kontes saja sekalian?
    Dan kalau saya menduga…pengarangnya pasti suka Vocaloid.

  15. Halow salam kenal ya :D

    Ceritamu alurnya enak dan rapih banget ya, tapi cuman sayang di konfliknya ^^ I mean, memang ga semua cerita harus punya konflik yang super wah, tapi di cerita ini kayanya jadi berasa terlalu datar. Padahal ada banyak potensi sih di pertarungan melawan wyvern itu. Endingnya pun jadi terasa agak datar.

    Di luar itu sih ga ada masalah ya buatku. Gw suka kok ada lagu yang diselipkan :D memberiku inspirasi untuk cerita yang lain. Hehe.

    Kalau sempat silakan mampir ya ke lapak 244. :D

  16. Jovyanca says:

    Hey, I like the wyvern! :D

    Tapi tapi tapi kenapa munculnya sebentar sajah? T.T
    Baroe sempat menikmati kekerenan kepakan sayap lebar n raungan sekencang seratus serigala-nya bentar. E uda mati. Huhu..

    “Kenapa dunia sangat kejam padamoe, wyvern?” T.T *merajok bareng wyvern di pojok kamar*

    *plak* (dihajar ama Ardani gara2 nyampah) wkwkwk.. Maap.can’t help it~ :P

    Yak, salam kenal, Ardani. :D

    Saia suka deskripsi di awal. Manis. Kata-kata yang kamu gunakan sangat beragam ya. Enak dibaca. Dan itu berlanjut sampe akhir. Nice, very nice. b^^

    Sepertinya ini romance fantasy ya (sama ni kek punya saia. Kekekeke.. #sKalianPromoLapak129#). Tapi saia kurang nangkep feeling antara Alexandra n Meiluka. Mungkin kalo ada beberapa adegan bareng lage, bisa lebi dapet kale ya.

    Maap kalo comment saia kurang berguna. ^^a

    Semangat n sukses! :D

  17. Halo Mas Dani………
    Iyaaaa, aku juga sama kayak yang di atas2, denger Meiluka langsung kepikiran Megurine Luka. Lol.
    Cerpennya sebenernya rapih, cuman seperti yang sudah dikomentari di atas, fokusnya kabur. Kalau ingin menceritakan tentang pertemuan Luka dan Alexandra, saya malah awalnya kira si pangeran bakal jadi sama Germaine (dari bahasa tubuh dan cara menceritakannya, Germaine selalu diceritakan duluan abisnya). Ternyata, eeeh?
    Sifat dari Alexandra sendiri mbingungin saya, pas awal dia berdiri di balkon saya kira dia tipe cool-penuh perhitungan-pendiam gitu, eh setelah ketemu Germaine dan Meiluka kok berubah jadi pangeran penggoda~~
    Yang lain yang pingin saya protes adalah gaya narasinya. Gimana ya? Rasanya kalau gaya narasinya lebih simpel, bakal lebih ngalir dibacanya. Pilihan katanya nggak usah terlalu berbunga, malah lebih bagus.
    Contohnya, waktu ditulis “berusaha menenangkan wanita dan pedagang yang sepertinya sudah siap berperang.” Kata berperang di sana kok kayak nggak cocok, gitu, padahal mereka hanya hampir berkelahi.
    Atau di bagian sini,
    “…yang akan menggelorakan semangat juang dari setiap mereka yang menyandang nama kerajaan…”
    ‘Dari setiap mereka’? :s Remeh-remeh, tapi karena konstan diulang saya sejujurnya ngerasa terganggu…..
    Segitu aja komentar jujur dari saya, semoga tidak dianggap tidak berkenan. :)

  18. *pura-pura jadi orang yang jarang baca fantasi*
    Dani, wyvern itu apa sih? *baca terus ke bawah* Ooh, sejenis naga ya. Ic, ic.
    Tarung lawan wyvern-nya sangat menarik, saya jadi dapat gambaran jelas tentang bagaimana perbedaan kekuatan naga dibanding orang-orang yang bukan spesialis dragon-slayer.

    *pura-pura jadi orang yang lumayan banyak baca fikfan lokal*
    Halo, Warren! Aku senang sekali bisa membaca ceritamu sebelum jadi Warren The Great! Ternyata kamu ini bener2 pribadi yang menarik, sudah punya “jiwa” untuk jadi salah satu “hero of your time”. Kebanggaan ras manusia.

    *pura-pura jadi orang yang terlalu banyak baca kisah fantasi*
    Kisah ini adalah pemanasan yang unik, prelude to the main event ahead.
    Tapi kalau fokusnya ke urusan konflik dengan Wyvern saja, bukan Warren, kisahnya tuntas kok di sini.
    *getok kepala sendiri* Ini mau nyabe atau promosi, heh?

  19. negeri tak pernah-48 says:

    Hola!
    Salam dari lapak 48 :D

    Secara penulisan udah enak. Lancar buat dibaca.
    Mungkin memang berasa datar, tapi buatku sih ga masalah. Langsung kebayang jalan cerita RPG anime semacam thousand arms hahaha :D

    Cheers for the prince and Megurine Luka~
    Mampir ke nomer 48 juga ya :D

  20. fr3d says:

    cerita ini sepertinya memang intinya tentang Meiluka dan lagu yang dinyanyikannya itu yah… xD

    gak bisa berkomentar banyak karena gak ngikutin vocaloid
    sekedar mampir dan ninggalin jejak aja ya, dan
    :D

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>