Untuk Yang Terakhir

UNTUK YANG TERAKHIR

karya Field Cat

Aku mendengarnya…

Lolongan kesakitan mereka…

Erangan marah namun tak berdaya…

Aku pun melihatnya…

Darah-darah mereka yang berhamburan…

Mereka yang berusaha berlari dengan kaki-kakinya yang masih tersisa…

Pedih sekali…

Aku tak sanggup melihatnya lebih lama… aku tak sanggup…

Ayah… Ibu… Kakak… Semuanya…

Aku takut…

Aku benar-benar takut…

***

Enam tahun sudah berlalu sejak peristiwa pembantaian itu. Kini tak ada lagi kawananku yang tersisa di hutan Grasshoper ini. Aku adalah satu-satunya serigala putih yang selamat dari peristiwa itu. Sampai kini aku masih dapat merasakan ilusi kehadiran mereka di sekitarku. Aku sering melihat bayang-bayang mereka. Bayang-bayang kawanan pejuang yang hendak berangkat menuju tempat perburuan untuk mencari makanan bagi seluruh anggota kawanan.  Sementara ayahku, Sang Alpha, memberikan doa-doa agar mereka semua selamat di dalam perjalanan dan berhasil pulang dengan membawa hasil yang melimpah.

Kadangkala telingaku juga mendengar suara-suara ilusi yang memanggilku. Suara-suara dari kenangan masa kecilku. Lolongan tawa ayahku yang sedang mengawasiku bermain bersama dengan kakakku, suara ibuku yang memanggil-manggil dari kejauhan, menyuruhku untuk segera menyantap hasil buruan bersama-sama, suara kakakku yang begitu menyayangiku, yang selalu mengajakku bergulat di atas hamparan salju. Semua itu sudah lama tak kurasakan lagi. Tentu saja, seringkali aku menangis sendirian di bawah pohon mengenang masa-masa itu. Masa-masa di mana aku masih mempunyai segalanya. Masa-masa yang paling membuatku bahagia telah terlahir di dunia ini.

Tak pernah sekali pun aku membayangkan tragedi semacam itu terjadi di tengah-tengah kehidupanku yang damai. Aku akan menceritakannya kembali kepada kalian, tepat enam tahun yang lalu, beberapa saat menjelang mimpi buruk yang telah kulewati itu.

***

Jika kau mau membayangkannya, hutan Grasshoper  adalah sebuah hutan di pegunungan yang sangat tinggi di Brailostoille Town. Di sini, setiap areal hutan selalu diselimuti salju abadi. Kawananku hidup dengan damai di bagian barat daya dari hutan ini.

Kawananku membentuk suatu sistem kekerabatan yang sangat solid. Beberapa serigala jantan muda dengan karakter kuat akan dipilih oleh Sang Alpha untuk diberikan latihan khusus untuk menjadi pasukan pejuang yang bertugas untuk berburu dan mengumpulkan makanan. Sementara serigala betina yang masih muda akan menjalani pelatihan bersama ibu-ibu mereka agar dapat menjadi serigala pendamping Alpha yang baik setelah mereka dewasa nanti.

Ayahku, adalah satu dari lima Alpha yang ada di dalam kawanan. Selain sebagai Alpha, ayahku juga seekor Witchwolf, karena garis keturunan mistis yang dimiliki oleh mendiang kakek buyutku. Ayahku mampu mengendalikan pikiran mangsanya hanya dengan melalui kontak mata. Mirip seperti hipnotis, tapi berlangsung secara instan tanpa persiapan macam-macam. Hal ini membuatnya dapat dengan mudah memperdaya mangsa agar bergerak mengikuti apa yang dipikirkannya. Secara kebetulan, aku mewarisi kemampuannya tersebut. Walaupun tubuhku tidak sekuat ayah, tapi kemampuanku sebagai Witchwolf jauh melebihi ayahku. Mungkin karena itulah ayah tidak mengusirku yang bertubuh lemah ini dari kawanan. Setidaknya, masih ada bagian dari diriku yang membuatnya merasa bangga memilikiku sebagai calon Alpha penerus ayahku. Ayah selalu melatihku dengan sepenuh hatinya agar aku dapat dengan baik mengendalikan bakat yang aku punya ini dan dapat kugunakan di saat aku membutuhkannya saja.

Sekitar tujuh kilometer ke arah timur dari tempat persembunyian kawananku, terdapat pemukiman penduduk yang terdiri dari manusia biasa yang bekerja sehari-harinya sebagai pemecah batu dan penebang pohon. Mereka masih memanfaatkan salju yang dicairkan sebagai sumber air yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, dikarenakan tak adanya sumber air yang tidak membeku di sekitar sini.

Bertahun-tahun yang lalu, kawananku menyatakan untuk tidak akan pernah mengusik atau pun memasuki wilayah pemukiman penduduk desa di dalam hutan Grasshoper ini. Pernyataan itu pernah diucapkan oleh ayahku sendiri dengan suara lantang dan diikuti oleh setiap anggota kawanan yang lain sambil melakukan perjanjian di atas darah. Sebuah perjanjian dengan nilai tertinggi di mana siapa saja yang melanggarnya harus membayarnya dengan nyawa mereka. Kawananku benar-benar menghormati dan menjunjung tinggi peraturan ini. Oleh karenanya, kehidupanku di dalam kawanan berlangsung damai dan aman. Tak ada gangguan dari penduduk desa. Bahkan, kawananku mempunyai kebiasaan berbagi hasil buruannya kepada penduduk desa. Misalnya, dengan sengaja meninggalkan mayat rusa gunung yang masih segar secara diam-diam tidak jauh dari batas wilayah pemukiman, agar ditemukan dengan mudah oleh penduduk desa dan bisa dikonsumsi bersama-sama oleh mereka. Semuanya sebagai wujud penghargaan dan solidaritas karena tidak sekalipun mereka mencoba untuk mengusik kawananku.

Tapi pada suatu pagi, penduduk desa dilanda oleh sebuah kejadian yang tragis. Aku mendengar berita tersebut dari para burung hutan. Mereka mengatakan bahwa beberapa orang penduduk desa ditemukan tewas dengan keadaan yang sangat parah. Setiap bagian tubuhnya tercabik-cabik dan mengeluarkan seluruh isi perut mereka. Mereka menduga perbuatan keji itu dilakukan oleh kawananku yang kelaparan. Akhirnya, penduduk desa memutuskan untuk memburu dan menghabisi keberadaan kawananku karena dianggap sebagai ancaman yang dapat membahayakan kehidupan mereka.

Lilian, cepat kau bawa Frisk ke tempat yang aman! Entah kenapa penduduk desa berbondong-bondong membawa berbagai senjata menuju ke kawasan kita, tapi para burung hutan mengatakan bahwa kita dianggap bertanggung jawab atas tewasnya beberapa penduduk desa tadi pagi,” perintah ayahku.

Waktu itu, aku masih berumur delapan bulan. Aku melihat anggota kawanan lainnya berlarian dengan cepat karena panik. Mereka berlari menuju ke kedalaman hutan yang lebih tinggi. Mereka melolong-lolong ketakutan. Ibuku berlari sambil menggigit tengkukku dan membawaku ke dalam semak-semak lebat.

Kau tunggu di sini Nak! Jangan mengeluarkan suara apa pun! Tidak peduli apa yang kau dengar, tak peduli apa yang kau lihat, kau harus tetap diam. Hanya dengan begitu kemungkinan besar kau akan selamat,” ibuku berkata dengan cepat. Seraya mencium keningku dengan moncongnya dan kemudian berlari menyusul ayahku dengan air mata yang berlinang.

Tak lama kemudian terdengar suara tembakan. Aku yang kaget mendengarnya otomatis bertiarap di dalam semak-semak sambil memejamkan mataku. Beberapa anggota kawanan melolong kesakitan karena terkena tembakan. Suaranya benar-benar mengiris hati. Beberapa penduduk desa mulai menampakkan dirinya. Mereka berlarian dengan cepat dan menembaki setiap serigala yang dilihatnya.

Lari! Selamatkan diri kalian!

Aku masih mendengar suara ayahku yang berteriak kepada ibu dan kakakku. Kelegaan sejenak menyirami pikiranku. Tapi itu tak berlangsung lama, karena setelahnya, aku mendengar suara tembakan senjata api yang dibarengi dengan lolongan kesakitan ayahku. Tanpa melihatnya pun aku tahu bahwa ayahku telah tertembak.

La-larilah, Lilian! Ja-jangan… hi-hiraukan aku…!,

Tapi, Rigid…

La-larilah!

Selanjutnya, aku mendengar suara bantingan kapak yang mengoyak tubuh ayahku. Ayahku melolong panjang, tapi itu adalah lolongan yang terakhir kalinya.

Tidaaaaaaaaaaaaaakkk!!!

Aku mendengar ibuku berteriak histeris, kemudian disusul lagi dengan suara tembakan. Tak ada lagi suara ibuku. Aku segera tahu bahwa suara letusan senapan yang terakhir kudengar, telah membunuh ibuku seketika.

Aku menangis. Tubuhku gemetar tak karuan. Aku tak sanggup lagi. Aku tak sanggup mendengar suara-suara penuh penderitaan. Ayah dan ibuku sudah tiada. Sebetulnya aku ingin sekali berteriak. Tapi, aku selalu mengingat apa pun yang ibuku katakan. Maka, aku memilih untuk tetap menahan teriakanku. Aku tak mau mengecewakan ibu.

Aku yang sejak awal hanya terpejam, memberanikan diri  untuk membuka mata. Aku berharap apa yang kudengar hanyalah ilusi yang tak benar-benar nyata. Aku berharap ibuku dan ayahku sedang berdiri menantiku di seberang pohon saat ini, tentunya dengan senyuman bahagia yang menghiasi wajah mereka. Namun, aku salah. Yang kutatap di hadapanku hanyalah lautan merah yang membasahi hamparan salju putih. Darah berceceran di mana-mana. Aku melihat semuanya dengan penuh kengerian yang sangat menyayat hati dan pikiranku. Aku menelusuri setiap pemandangan yang ada di hadapanku dari balik semak tempat persembunyianku.

Tak lama kemudian, aku melihat kakakku, Silvia, yang sedang berjalan pelan melewati tempat persembunyianku sambil mengerang. Dia sedang menahan rasa sakit yang dideritanya. Kaki belakangnya telah menghilang dan banyak sekali darah bercucuran, sehingga dia harus menyeret bagian belakang tubuhnya. Belum sempat aku berpikir untuk melompat keluar dari semak-semak dan menolongnya, mendadak sebuah kapak diayunkan ke lehernya hingga tewas. Aku menahan teriakanku hingga terasa amat sesak. Aku meringis pedih. Aku baru saja melihat kakakku dibantai di depan mataku.

Aku memaksakan diriku untuk berguling ke bagian semak yang lebih gelap di belakangku. Aku masih mendengar sayup-sayup lolongan kawananku yang kesakitan, suara hentakkan kapak yang beradu dengan lapisan salju dan bebatuan, suara-suara tembakan. Aku tenggelam di dalam keputusasaan. Aku tak sanggup lagi membayangkannya. Akhirnya, aku hanya berlari menjauhi kawananku. Sejauh apa pun yang aku bisa. Hingga akhirnya aku kelelahan dan terjatuh ke dalam lubang di bawah pohon. Aku menangis sendiri. Aku bernapas dengan sangat cepat. Setiap detak jantung yang kurasakan benar-benar membuatku pedih. Aku telah kehilangan semuanya yang berharga bagiku.

Aku memejamkan mataku lagi, berharap semuanya kembali seperti sediakala saat ku terbangun nanti. Tak lama aku pun tertidur. Tertidur semakin dalam. Hingga aku tak lagi mendengar suara-suara mengerikan itu.

***

Hei, Frisk! Kau tidak apa-apa?

Sayup-sayup kudengar sebuah suara yang sudah lama kukenal memanggil namaku. Aku membuka kedua mataku perlahan-lahan. Kurasakan sebagian dari cahaya matahari yang sejuk merasuk ke dalam rongga mataku. Sementara cairan hangat membasahi kelopak mata hingga ke pipiku. Hei, aku baru saja menangis?

Aku segera bangkit dari posisi tidurku, dan menoleh ke arah sumber suara di atas dahan pohon besar tidak jauh dari tempatku tertidur. Ternyata hari sudah siang dan Owliver sedang bertengger di sana. Dia adalah burung hantu yang beberapa bulan belakangan selalu setia menemaniku.

Bermimpi yang sama lagi? Kejadian enam tahun yang lalu?” Owliver terbang dari dahan pohon dan bertengger di punggungku.

Begitulah… Aku masih saja mengingat kejadian itu, setidaknya di alam bawah sadarku,” jawabku.

Oh, ayolah, Kawan! Kau tidak bisa selamanya seperti ini kan?

Tentu saja, Owl, tentu saja… Aku sudah, er, berusaha.

Aku memandang ke sekeliling hutan dan baru menyadari bahwa diriku sudah betul-betul bangun dari mimpi buruk.

Kadang aku merasa bingung akan tujuanku bertahan hidup sampai sekarang,” kataku pada Owliver. “Percuma saja kan? Di dalam hutan ini, aku hanya sendirian. Tak ada lagi kawananku yang hidup berdampingan dengan diriku, tak ada lagi serigala putih di dalam hutan ini. Hanya aku. Tinggal aku sendiri.

Kau tidak sendirian Frisk, kau punya aku sebagai sahabatmu,” Owliver berkata dengan semangat sambil mengepak-ngepakkan sayapnya.

Tidak, Owl! Bukan itu. Aku bersyukur memilikimu yang baik hati dan bersedia menemaniku setiap hari, tapi tetap saja kenyataan bahwa serigala putih telah punah tak dapat dihindari. Bila aku tidak ada, maka jenisku akan benar-benar habis tanpa sisa. Bertahan hidup pun percuma, aku tak bisa mengembalikan kawananku yang hilang.

Karena itulah kau selalu bermimpi buruk tentang kejadian itu, kau merindukan mereka semua, Frisk…

Ya, aku benar-benar merindukan semuanya. Aku kesepian sekali di sini. Kau tahu kan Owl, seluruh kawananku dibantai karena dituduh melakukan pembunuhan keji terhadap beberapa orang penduduk desa? Padahal tak satu pun dari kawanan yang dapat melakukan itu, kawananku sudah memiliki perjanjian suci di atas darah. Mustahil ada yang berani melanggarnya.

Iya, aku percaya, Frisk… Aku percaya…

Dan aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang membunuh penduduk desa waktu itu, mungkinkah itu hanya plot yang dikarang penduduk desa sebagai alasan ingin membantai begitu saja kawananku demi sebuah kepuasan?

Frisk! Di sana kau rupanya!” teriak Wimbley seekor burung merpati hutan. Dia tampak tergesa-gesa dan ketakutan.

Ada apa, Wimbley?

Penduduk desa, Frisk! Penduduk desa! Mereka kembali menemukan beberapa mayat penduduk di bagian belakang hutan tidak jauh dari areal pemukiman mereka!

Eh? Apa? Kau serius?

Iya! Aku melihatnya! Mayatnya tidak ada yang utuh, semuanya mati tercabik-cabik!

Sial, kejadian yang sama dengan enam tahun lalu kalau begitu?” Aku mengernyitkan dahiku. Kini sudah terbukti bahwa kawananku bukanlah pelaku dari pembunuhan penduduk desa enam tahun lalu. Mendadak kepalaku terasa mendidih. Aku marah bukan hanya karena penduduk desa telah membantai habis kawananku, tapi juga karena menerima kenyataan bahwa penduduk desa sudah melakukan itu hanya karena kesalahpahaman. “Siapa yang melakukannya!?

Wimbley dan Owliver hanya menggelengkan kepalanya.

Tapi, Frisk!” Owliver berbicara cepat. “Apa kau pernah mendengar legenda Yeti?

Yeti? Tidak pernah. Apa itu Owl?

Er, aku juga tidak yakin akan hal ini, tapi ayahku dulu pernah mengatakan bahwa Yeti adalah makhluk mengerikan seperti kera raksasa dengan bulu putih lebat dan panjang…” jelas Owliver padaku.

…dan dari yang kudengar, makhluk besar ini selalu bersembunyi di dalam gua. Dia akan berdiam diri di sana selama bertahun-tahun sebelum akhirnya keluar lagin untuk berburu,” lanjut Wimbley.

Berhibernasi ya? Lantas apa makhluk itu benar-benar ada?” tanyaku.

Wimbley dan Owliver kembali menggelengkan kepalanya bersamaan.

Aku tidak tahu, Frisk! Tapi jika melihat keadaan mayat penduduk desa…” ujar Wimbley.

Kemungkinan memang ada…” aku melanjutkan. “Baiklah, sepertinya aku harus menangkap makhluk itu dan membersihkan nama kawananku. Walaupun aku sudah tidak mungkin lagi bisa mengembalikan mereka, setidaknya mereka bisa lebih bahagia di alam sana.

Tunggu, Frisk! Kau mau ke mana? Kau yakin mau menangkap makhluk yang berukuran jauh lebih besar dari dirimu? Berbahaya Frisk, berbahaya!” teriak Owliver.

Tapi apa lagi yang bisa kulakukan demi kawananku yang telah tiada? Tidak mungkin aku berdiam diri saja di sini kan?

Wimbley menggelengkan kepalanya lagi. “Frisk, kau harus melarikan diri sejauh kau bisa!”

Kenapa?

Penduduk desa telah bergerak ke dalam hutan tadi. Mereka yakin masih ada kawanan serigala putih yang tersisa di dalam hutan, dan kali ini tampaknya mereka benar-benar tak akan kembali ke pemukiman sebelum menghabisi serigala putih dari dalam hutan ini,” Wimbley menghembuskan nafasnya sejenak dan kemudian melanjutkan perkataannya. “Kau dalam bahaya, Frisk…

Aku terdiam beberapa saat. Mencoba mencerna setiap perkataan Wimbley. Menyadarkan diriku bahwa aku sedang dalam bahaya. Sekali lagi ingatan masa lalu menyergapku. Aku gemetar tak karuan, merasakan hawa pembantaian yang sama seperti waktu itu.

***

Aku berlari menuju tempat di mana kawananku tinggal enam tahun yang lalu. Aku tahu pasti penduduk desa akan mencarinya di sekitar area tersebut. Aku harus berani, aku harus menangkap pelaku yang sesungguhnya, semua demi mengembalikan nama baik kawananku dan membuat mereka lebih tenang di sana.

Frisk, kau gila! Apa yang kau lakukan?” Owliver berteriak sambil terbang mengikutiku. Dibelakangnya, Wimbley berjuang keras menyamakan kecepatan terbangnya dengan Owliver.

Aku akan ke sana dan membantu mereka menangkap pelaku sesungguhnya. Aku yakin Yeti itu benar-benar ada,” kataku cepat.

Yeti cuma legenda, Frisk!” teriak Owliver.

Dan hanya ada satu cara untuk membukt—“ belum sempat aku menyelesaikan perkataanku, suara raungan terdengar. Beberapa meter dari tempatku berada saat ini. “Sial, suara apa itu?

Wimbley dan Owliver hinggap pada salah satu batang pohon. Mata mereka membelalak.

Sepertinya itu dia! Yeti benar-benar ada!” ujarku sambil berlari lebih cepat menuju asal suara. Sementara jantungku berdegup lebih kencang daripada sebelumnya. Aku takut? Tentu saja. Tapi, aku tak berniat untuk mundur sama sekali. Aku akan mengalahkan Yeti itu. Demi nama baik kawananku, dan karena aku adalah penerus sang Alpha, aku harus melakukannya.

Langkahku terhenti di balik semak-semak dan kaget melihat sosok yang begitu besar berwarna putih berdiri meraung-raung hanya beberapa meter dari posisiku saat ini. Aku mendengar bunyi letusan senapan berkali-kali yang dilakukan oleh penduduk desa. Namun, semuanya sia-sia. Tak satupun peluru timah mampu melumpuhkan gerakan makhluk raksasa itu.

Yeti? Besar sekali! Bagaimana bisa makhluk sebesar itu tak pernah terlihat di sekitar hutan?

Frisk, jangan nekad!” Owliver berteriak berbarengan dengan lompatan yang kulakukan. Aku menerobos masuk melalui sela-sela kecil di antara penduduk desa yang sedang berlari dengan panik. Aku melompat tinggi dan menerjang tubuh besar Yeti.

“Hei, lihatlah! Itu serigala putih! Ternyata masih ada serigala putih yang tersisa!” teriak salah satu penduduk desa. “Tembak dia! Cepat tembak dia!”

“Bodoh! Jangan dulu! Lihatlah apa yang dia lakukan!”

Aku mendengar teriakan-teriakan penduduk desa. Tapi aku sama sekali tak memperdulikannya. Aku akan mengalahkan makhluk ini! Aku melompat naik dan mencakar perut Yeti tersebut. Mendadak aku merasakan pukulan yang luar biasa kencang menghantam tubuhku hingga terpental jauh ke angkasa.

Sial! Aaaaaaaaaaaaaaaaaaarrrgghhh….!” aku melolong menahan rasa sakit pada tulang rusukku. Kurasakan tubuhku melayang di udara. Lemas sekali rasanya. Sekejap kemudian aku merasakan sensasi aneh ketika akhirnya aku harus jatuh kembali dan menghantam lapisan salju dengan sangat keras. Tubuhku gemetar. Aku mulai melolong rintih. Sakit sekali.

“Habisi dia!” salah seorang penduduk desa mengarahkan senapannya padaku dan memuntahkan pelurunya.

“Jangan lakukan, bodoh!” namun terlambat. Peluru senapan itu mengenai kaki belakangku. Kurasakan panas dan pedih bersamaan di bagian kaki belakangku. Peluru telah menembus kulit kaki belakangku dan membuatnya berlumuran oleh darah. Sementara itu, sang penembak tengah beradu tinju dengan seorang lagi yang tadi mencoba menghentikannya.

Aku tak dapat bergerak. Tubuhku lemas. Kulihat Yeti yang mulai mendekatiku lagi. Terasa hawa pembantaian di dalam tatapannya. Kini aku yakin, dialah pelaku sesungguhnya dari pembunuhan penduduk desa enam tahun yang lalu. Dialah yang menyebabkan terjadinya kesalahpahaman dan musnahnya kawananku. Dialah akar utama dari segala dendam yang kurasakan hingga saat ini. Napasku mulai terengah-engah.

Aku menatap tajam mata Yeti yang secara tak sengaja membalas tatapanku. Aku memfokuskan pikiranku pada satu titik. Aku harus melupakan segala rasa sakit yang sedang kurasakan ini. Aku harus mampu membunuhnya. Ibuku pasti bangga. Ya, ayahku juga. Aku harus melindungi penduduk desa.

MATI! MATI KAU!” lolongku keras di dalam hati. Mungkin lolongan paling menyayat hati bagi siapa saja yang mendengarnya.

Tiba-tiba Yeti tersebut memegangi kepalanya dan mengerang kesakitan. Dia berjalan berputar-putar tanpa arah selama beberapa menit sebelum akhirnya terjatuh bebas ke hamparan salju yang tebal. Dia sudah tak bernyawa. Aku menang! Aku berhasil mengalahkannya dengan kekuatan yang kumiliki ini!

Aku tertawa di dalam hati, tertawa karena aku berhasil membersihkan nama baik kawananku. Serigala putih tidak pernah menyerang manusia. Kuharap penduduk desa bisa mengerti sekarang. Aku menghentikan tawaku karena ternyata membuat pedih perutku.

Sementara darah pada kaki belakangku mengalir semakin deras. Pandangan mataku pun melemas. Samar-samar kulihat seorang penduduk desa berjalan menghampiriku. Dia melepaskan topi bulunya dan berlutut dihadapanku. Aku mengenalinya sebagai pria yang tadi hendak mencegah temannya menembakkan senapannya padaku. Dia orang yang baik.

“Ma-ma-maafkan kami, serigala… Ka-kami telah salah menilai kalian…” tak lama kemudian orang tersebut menangis tersungkur di atas tubuhku yang mulai mati rasa. Aku senang. Aku senang kalian akhirnya mengerti. Semoga dengan ini, aku pun bisa mendapatkan ketenangan.

Setelah beberapa menit, penduduk desa berjalan kembali menuju pemukimannya. Meninggalkanku yang sekarat dalam balutan jaket bulu hangat. Samar-samar aku memandang, langkah-langkah mereka yang semakin menjauh. Semakin jauh meninggalkanku.

Frisk!” Owliver berteriak histeris menghampiriku. Dia menangis. Sementara Wimbley dibelakangnya mencoba menenangkannya. “Frisk, bertahanlah! Jangan mati, Frisk! Hu… hu… hu…

Aku hanya bisa membalasnya dengan sebuah senyuman. Senyuman terakhirku untuk sesosok sahabat yang baik hati. Tenanglah Owl, ini adalah yang kuharapkan. Kematian ini mungkin yang terbaik daripada bertahan hidup panjang di dalam kesendirian. Cepat atau lambat, jenisku pun akhirnya punah juga.

Owl terisak di sampingku. Dia menemaniku, bahkan hingga saat-saat terakhirku. Terima kasih Owliver. Terima kasih. Untuk segalanya. Dengan ini kuhembuskan nafasku dengan penuh semangat. Untuk yang terakhir kalinya.

***

Akhirnya aku bisa melihatnya…

Senyuman mereka…

Mereka menyambutku…

Mereka telah lama menungguku…

Maafkan aku ayah, ibu, kakak…

Tapi kali ini…

Dengan senyuman…

Aku kembali kepada kalian…

Aku pulang…

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

64 Responses to Untuk Yang Terakhir

  1. narita amalia says:

    ceritanya keren :D

    emosinya kerasa, suka suka :D

    alur dan penulisannya rapi :D

    hampir sama dg yg sbelumnya, saat yeti mati, kurang dramatis gitu
    hehe

    • Field.Cat says:

      ceritanya keren :D

      Makasih… :D

      emosinya kerasa, suka suka :D

      Makasih lagi… XD

      alur dan penulisannya rapi :D

      Makasih banget!! :))

      hampir sama dg yg sbelumnya, saat yeti mati, kurang dramatis gitu
      hehe

      Iya bener, Gue juga ngerasa begitu… >,< kayaknya kekurangan deskripsi di bagian itu… .__.

  2. negeri tak pernah-48 says:

    Waah.. Kasian Frisk.

    Eh, ada dialog Owliver yang lupa ditulis miring :D

    Luar biasanya Frisk ga dendam sama manusia ya? Padahal dia bisa membunuh Yeti hanya dengan tatapan, mungkin manusia juga bisa dia bunuh dengan cara yang sama? Atau kekuatan Witchwolf itu hanya bisa mempengaruhi hewan? Atau hanya pada saat tertentu saja baru muncul?

    Hahhaa, isi komennya jadi pertanyaan semua. Maaf kalau tidak berkenan.
    Keseluruhan cerpen ini bagus. Narasi oke, plot juga jelas koq. Nice fable :)

    monggo mampir ke 48 jika berkenan :)

    • Field.Cat says:

      Makasih ya udah berkunjung ke lapak ini… :D
      *lempar ikan asin*
      Enak loh itu….
      —–

      Btw, akhirnya ada yg sadar yak!
      Eh, ada dialog Owliver yang lupa ditulis miring :D
      Betul banget, gue juga baru sadar setelah email cerita ini disubmit ke KF… :D

      Luar biasanya Frisk ga dendam sama manusia ya? Padahal dia bisa membunuh Yeti hanya dengan tatapan, mungkin manusia juga bisa dia bunuh dengan cara yang sama? Atau kekuatan Witchwolf itu hanya bisa mempengaruhi hewan? Atau hanya pada saat tertentu saja baru muncul?

      Nggak, sebetulnya bisa aja kok Frisk melakukan itu terhadap manusia. Tapi perjanjian darah yang dijunjung tinggi kaum serigala putih menahan dia untuk gak berbuat demikian… Dia ngga mau menodai perjanjian suci kaumnya sendiri… :D

      Oke nanti kalo ada waktu saya mampir balik… :)

  3. Salam kenal ya Field Cat :D (Ga wolf? haha)

    Wah ini fabel yang sangat menarik. :D Gw suka dengna ide ceritanya. Memang sih terasa kurang greget pas Frisk berhasil ngebunuh si Yeti. Hehe. Berarti sial juga yah waktu 6 tahun yang lalu Yeti-nya ga ketemu.

    Suka dengan bitter sweet endingnya, cuman kenapa ya kayanya lebih sreg kalau beberapa kalimat akhir sebelum Frisk menghembuskan nafas terakhirnya itu lebih enak kalau ga dipisah pake tanda *** atau tanda apapun. Hehe.

    Btw kalau sempat silakan mampir ke lapak 244 ya. Mungkin di sana Frisk bakal ketemu sama kawan sejenis cuman beda suku aja ;)

    • Field.Cat says:

      wohoo! thanks buat pujiannya… :D
      Bagian situ emang rada kurang deskripsi sih. Nanti Gue revisi deh kapan2… Btw, saran untuk bagian akhirnya boleh juga nih Gue pertimbangkan. Tadinya sih maksudnya ganti scene gitu. Jadi bayanginnya gini, kalo film mungkin pas bagian Frisk mati masih disorot, nah pas monolog terakhir itu ganti scene (misalnya kamera rollover langsung ke langit-langit hutan) gitu… :)

  4. Jovyanca says:

    Yak. Akhirnya nemu fabel lage. ^^

    Salam kenal, Kawan. :D (agakz bingung manggilnya. Haha.. Maap.)

    Anyway, saia suka gaya bahasa dan cara penyampaian ceritamoe. (er..Namanya narasi ya? ^^a #awamLewat# ;p) Rasanya padat dan jelas. Tidak ada yang membingungkan ataw bikin kening berkerut. Hehe.. Good job! b^^

    Tapi tapi tapi gampang banget yak si Yeti mati. Kekuatan Witchwolfnya jadi terasa mantaff sekale kalo begitu, walo cuman sempat ditunjukin atu kale. Wkwk.. But it’s not a big deal. Intinya Frisk berhasil membersihkan nama baek keluarga dan kaumnya. Tapi tapi kenapa dia juga harus ikoetan mati? T.T *sniff* Dia idoep sendiri dan kesepian selama 6 taon, tapi setelah balas dendam mala mati begitu sajah. Huwaahh.. T.T Teganya dirimoe. Teganya~ Teganya~ *Plak!* (kena hajar karena ngAlay) ;p

    Otre la. Sepertinya itu sajah yg ingin saia sampekan. Hehe.. (Keknya gak banyak gunanya yak. ^^a)

    Overall, it’s enjoyable. Sukses! :D

    Monggo mampir ke #129 jua kalo ada kesempatan. ^^ tQ~

    • Field.Cat says:

      Heiho, makasih Jovyanca udah mampir and komen di mari… :D Gue coba kasih tanggepan dikit deh…

      Tapi tapi tapi gampang banget yak si Yeti mati. Kekuatan Witchwolfnya jadi terasa mantaff sekale kalo begitu, walo cuman sempat ditunjukin atu kale.

      Walau bukan pujian, Gue seneng akhirnya ada yg sadar kenapa Yeti beneran mati akhirnya…

      Tapi tapi kenapa dia juga harus ikoetan mati?

      Gue sebagai penulis malah bakal merasa berdosa sama Frisk kalo membiarkan dia tetep idup.

      Hehehehe… Oke deh. Kalo sempet nanti Gue coba mampir ke sana… ( >__O)b

  5. frenco says:

    Witchwolf? Bukannya Witch itu utk penyihir wanita ya.. klo jantan mestinya Wizardwolf dunk? hehe *justask
    keseluruhan cerita memang bagus, hanya penyelesaiannya kok terlalu mudah ya.. mestinya Yeti-nya diumpetin dulu sampe akhir-akhir cerita.. jadi bikin pembaca penasaran siapa sih pembantai kawanan serigala putih. hehehe

    terus klo ada adegan Frisk menolong penduduk desa dari terjangan Yeti juga bagus tuh.. semacam pengorbanan… jadi ada adegan mengharukannya. haha

    gt deh, skian komennya. kalo sempat mampir ke no 218

  6. Depz says:

    glen, abdi ceurik… huhuhu…
    crtmu sptnya ga prnh nanggung ya, klo sedih ya sedih, klo tragis ya tragis, klo sweet jg sweet bgt…

    crt awalnya sempet bosen nih krn kerasa monoton…
    tp ternyt puisi awal dan akhir ada hubungannya ya?
    dan yg bikin pnasaran itu pembunuh aslinya… hehe..

    gud job deh…

  7. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Noooooo, Bambi’s mommmm, nooooo mufasaaaaaa

    TT^TT

    cerita ini ngingetin saya sama adegan-adegan di atas. Dan kadang bikin saya nyadara kalau manusia itu bodohnya ga ketulungan. Curse you, human!!! *ga sadar spesies*

    ini cerita fabel terbaik yang saya baca so far. bacanya berasa nonton film, ngalir smooth. Yang bagian Yeti, saya rasa kalau jumlah katanya dinaekin, pasti dirimu bisa bikin adegan keren yang ga kecepetan, dan cerpen ini perfect jadinya ^^

    3,5 out of 5 ^^ Djempol!!!

    Ps: kucing lapangan ini…Glen Tripollo bukan sih? :P *sotoy* *sotoy madura*

    • Field.Cat says:

      Wahahahahaa…. thanks ya apresiasinya… iya bener berasa kecepetan ya mendekati ending… fuhh… nanti deh saya iseng revisi… :D

      Btw, iya bener saya Glen… Salam kenyal! #eh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>