Viandy

VIANDY

karya el_JuLiie

Dahulu kala, hidup seorang pemuda remaja bernama Ryan Viandy. Ia tinggal di sebuah rumah mewah di pinggir desa Weerancia, sebuah desa yang dipenuhi oleh masyarakat penyihir.

Ryan hidup sendirian, tanpa keluarga dan orangtua. Kedua orangtuanya meninggal ketika berusaha melindungi kekuatan yang diwariskan secara turun temurun kepada mereka. Sedangkan keluarganya yang lain tinggal di dekat kota yang jauh dari Weerancia.

Ryan sering menangisi kematian orangtuanya itu. Ia merasa tidak berguna sebagai anak. Di dalam keluarga Viandy hanya dia yang tidak memiliki kekuatan penyihir. Sehingga ketika perang saudara berlangsung Ryan terpaksa dikurung di sebuah kamar di rumah itu. Kamar tersebut dilindungi sihir agar tidak ada seorang pun yang bisa menemukan Ryan.

Pada suatu hari, Ryan dikejutkan dengan kehadiran sepupunya. Meccy Viandy dan Mario Viandy. Kedua kakak beradik itu ingin menghabiskan masa liburan mereka di desa. Katanya mereka bosan dengan pemandangan kota yang itu-itu saja.

Tentu saja hal ini disambut baik oleh Ryan. Semenjak orangtuanya meninggal, tidak pernah ada kerabatnya yang berkunjung ke sini untuk menjenguknya. Ryan memberikan kamar tamu terbaik untuk tamu pertamanya itu, sebuah kamar yang sangat luas untuk kedua kakak-beradik itu dengan wallpaper dinding berwarna hijau muda diselinggi beberapa kupu-kupu sihir tiga dimensi.

Ryan juga selalu berusaha untuk memenuhi semua keperluan Meccy dan Mario. Hal ini membuat Meccy dan Mario besar kepala. Mereka memperbudak Ryan, memerintahnya sesuka hati mereka tanpa memperdulikan resiko yang akan menimpa saudara mereka itu.

Seperti beberapa hari yang lalu, ketika mereka berjalan-jalan ke pusat desa Weerancia. Mereka bertiga menonton sebuah pertandingan gulat antar penyihir dan Ryan dipaksa menjadi lawan seorang penyihir bertopeng putih dan berkerudung hitam bernama Zeurio.

Ryan sangat kewalahan. Ia tidak memiliki kekuatan apa-apa, bagaimana bisa ia melawan penyihir terkenal di Weerancia tanpa persiapan? Akhirnya ia pulang dengan wajah yang merah lebab akibat perlakuan Mario yang tidak senang dengan kekalahan Ryan sebelum bertarung.

“Kamu menghabiskan uangku sebesar 3 keping perak! Dasar tidak BERGUNA!” maki Mario. Ia mengangkat tangannya ke atas hendak memberikan pelajaran lagi pada Ryan.

“Sudahlah, kak. Sepupu kita inikan tidak punya kekuatan sihir. Jadi, bagaimana mungkin ia bisa mengalahkan Zeurio itu?” Meccy tersenyum meremehkan. Telunjuk kanannya ia turunkan membuat tangan Mario ikut turun.

“Lagi pula aku sudah cukup puas melihat sepupu tidak berguna kita ini babak belur,” lanjutnya.

Ryan tidak pernah menduga, tamu yang dianggapnya istimewa itu begitu kejam. Semakin hari, ia semakin diperlakukan seperti binatang. Beberapa kali ia disihir menjadi katak karena terlambat mengantarkan makan siang ke kamar Mario dan Meccy. Ia juga sering dibuat sakit perut dengan sihir Mario dan dibuat melayang-layang di udara dengan sihir Meccy.

Ryan mulai tidak tahan. Hingga suatu malam ia berniat meminta agar kedua kakak-beradik itu segara kembali ke rumah mereka di kota. Namun, hal itu diurungkannya ketika mendengar percakapan Mario dan Meccy yang mengejutkannya.

“Kak Mario sudah menemukan batu Laucividy itu?”

“Belum. Aku tidak tahu dimana batu itu disimpan oleh Ryan. Sudah dua kali aku memeriksa kamarnya dan tidak menemukan apa-apa.”

“Lantas kapan kita bisa pulang? Aku bosan di sini terus. Menyiksa sepupu tidak berguna itu membuatku ingin membunuhnya saja. Ia terlalu tidak berguna!” Messy menghempaskan tubuhnya ke kasur. Tangannya ia gerakkan ke atas membuat semua barang di sekitarnya ikut terangkat dan berterbangan.

“Bersabarlah adikku, sayang. Begitu kita mendapatkan batu itu, kita akan segera keluar dari rumah ini dan menjadi kuat. Kita akan membalaskan dendam Ibu dan Ayah untuk memusnahkan sepupu tidak berguna kita itu dan memusnahkan kakek peyot itu. Kita akan menjadi pemimpin bangsa Viandy sebentar lagi.”

Ryan terhuyung beberapa langkah ke belakang. Ia merasa dirinya begitu bodoh. Mengapa ia tidak menyadari hal itu dari awal? Ia benar-benar merasa terjatuh ke dalam jurang yang sama.

Ryan berlari menuruni tangga berlantai marmer berwarna krem itu. Ia memegangi pegangan tangga besi berwarna senada di samping kanannya kemudian memasuki kamarnya yang terletak di ujung lorong rumah itu. Ia mengunci pintu kamarnya agar kedua bersaudara itu tidak bisa masuk ke dalam. Ia juga menutup tirai jendelanya.

Ryan berjalan pelan menuju lemari pakaiannya yang berwarna coklat tua. Ia mengambil sebuah kotak yang sudah tua dari dalam laci lemari pakaiannya itu dan duduk di meja belajarnya. Perlahan dibukanya kotak itu. Matanya yang bulat menyipit ketika sebuah cahaya menyilaukan keluar dari dalam kotak tersebut.

Ryan mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna biru langit dan hijau daun dari dalam kotak itu. Ia menatap pantulan dirinya dalam batu itu. Setetes air mata jatuh membasahi batu itu dan mengalir membasahi meja belajarnya.

Ryan mengusap pipinya kasar. Aku tidak boleh menangis, pikirnya. Aku adalah seorang lelaki, tegasnya sekali lagi.

Ryan meletakkan kembali batu itu dan meraih sebuah figura usang di dekat lampu belajarnya. Ibu jarinya mengusap pipi seorang wanita paruh baya di dalam figura itu. Wanita itu sangat cantik dengan matanya yang sayu nan bulat serta rambut hitamnya yang pendek.

Tangan kanan wanita itu menggenggam tangan seorang bocah berusia kira-kira tujuh tahun yang berada dalam gendongan seorang pria paruh baya. Bocah itu tersenyum gembira memamerkan deretan gigi susunya yang munggil. Ia tersenyum seakan tidak ada sedikit pun beban di hatinya.

Pria paruh baya di sebelah wanita itu ikut tersenyum. Kumis tipis di wajahnya mempertegas ketampanannya. Matanya yang sipit tampak berbinar-binar.

Gambar itu berlatar belakang sebuah rumah mewah berlantai dua bercatkan putih krem dengan pintu besinya yang kokoh sebagai pintu masuk. Tanaman yang tubuh subur di sekitar rumah itu memperjelas betapa bahagianya keluarga kecil itu juga beberapa serangga cantik yang terbang di belakang mereka dengan riang.

“Ayah, Bunda. Maafkan Ryan, Ryan selalu tidak berguna. Ryan hanya bisa menyusahkan,” lirih Ryan. Sekali lagi air matanya jatuh membasahi figura itu dan menyisakan tiga titik air mata di sana.

CRING!

Ryan terhuyung ke belakang. Ia memicingkan kembali matanya ketika sebuah sinar berwarna kuning terang muncul dari figura itu dan memenuhi kamarnya yang tidak begitu luas akan tetapi nyaman untuknya. Ia memegangi kepalanya yang sakit akibat membentur lantai cukup keras sewaktu ia jatuh dari kursi belajarnya tadi. Ia merasa matanya berkunang-kunang.

Perlahan ia bangkit berdiri dan kembali mundur beberapa langkah ketika mendapati figura yang berisikan potret keluarganya berubah menjadi sebuah figura dengan sepasang mata hitam kecil juga sebuah mulut layaknya manusia. Figura itu juga memiliki sepasang telinga kelinci dan sebuah sayap kecil.

“Ka-ka-u si-si-apa?” tanya Ryan terbata-bata. Ia terus berjalan mundur saat figura itu terbang mendekatinya. “Ja-jangan dekk-at-dek-at!”

“Kemarilah anakku. Aku akan menceritakan sebuah kisah padamu.” Ryan menggeleng dengan cepat. Keringat dinginnya mulai membasahi dahinya. “Aku tidak akan menyakitimu. Aku akan menceritakan sebuah fakta yang patut untuk kau ketahui mengenai kedua orangtuamu.”

Ryan mengerutkan keningnya. Alisnya yang tipis saling terpaut membuat keringat dinginnya mengalir ke tulang hidungnya yang mancung.

“Duduklah di kasurmu.” Ryan mengangguk ragu. Ia berjalan pelan menuju tempat tidurnya dan duduk bersila di atasnya menghadap figura ajaib itu.

“Pertama-tama kau harus tahu siapa aku. Aku adalah figura sihir. Aku telah dititipi pesan oleh kedua orangtuamu untuk mengungkap sebuah kebenaran mengenai Laucividy,” jelas figura itu. Seutas senyum mengembang di bibirnya. Ryan hanya mengangguk pelan. Kepalanya terlalu sakit untuk mencerna setiap ucapan figura itu.

“Baiklah, aku akan mulai dari yang paling awal. Apa kau siap, anakku?” tanya figura sihir itu. Ryan kembali mengangguk membuat senyum sang figura sihir semakin merona.

“Anna, ibumu dan Maria, tantemu merupakan anak Ociraius, kakekmu. Namun, ada sesuatu di diri Anna yang buat Ociraius rela menukarkan nyawanya demi ibu dan ayahmu, Peter. Tentu saja hal ini membuat Maria iri.

“Ia tidak terima dengan pembagian kasih sayang yang timpang itu dan memutuskan untuk pergi meninggalkan istana bersama suaminya, Victor. Anna yang sangat menyayangi Maria pun memohon pada Ociraius untuk menahan kepergiannya karena memang hanya Ayahnyalah yang dapat melakukan itu. Dengan berat hati Ociraius mengabulkannya. Ia juga telah menyetujui persyaratan yang diajukan Maria bahwa Ociraius harus memperlakukan Maria sama seperti Anna.

“Hari demi hari berlalu hingga Anna mengandung dirimu. Peter dan Anna meminta izin untuk membangun istana kecil mereka di desa kecil di pinggir kota, Weerancia. Namun, Ociraius menolaknya mentah-mentah. Tapi bukan Anna namanya jika ia tidak bisa meyakinkan Ociraius jika hal itu demi kebaikkan keluarga kecilnya kelak. Mereka ingin mandiri begitu katanya.

“Lagi-lagi dengan berat hati Ociraius mengabulkan permintaan putri bungsunya itu. Ia mengizinkan mereka pindah dengan syarat Anna dan Peter harus menerima batu Laucividy yang telah diwariskan secara turun temurun karena ia yakin jika Anna dan Peterlah yang berhak menjadi pemimpin bangsa Viandy kelak. Mereka juga harus menjaga rahasia ini agar tidak diketahui oleh Maria dan Victor,” jelas figura itu lagi. Ia terbang mendekati meja belajar Ryan.

Ryan beranjak dari duduknya dan berjalan mengikuti figura itu. Ditatapnya batu kristal dalam kotak tua itu bersinar terang akibat pantulan sinar bulan malam itu.

“Kenapa harus dirahasiakan? Dan kenapa harus Bunda dan Ayah?”

“Batu ini batu ajaib. Batu yang melambangkan lautan dan daratan. Namun, ia dipengaruhi oleh pemiliknya. Jika sang pemilik adalah orang berhati hitam seperti Maria, maka ia akan berubah warna menjadi hitam kelam. Ia akan menghasut sang pemilik untuk membunuh orang-orang terdekatnya dan membunuh dirinya sendiri. Ia akan menciptakan kehancuran bagi sang pemilik. Ociraius tidak ingin hal itu terjadi. Jadi, ia meminta Anna untuk menjaga rahasia ini agar Maria tidak iri hati.

“Rahasia itu berhasil ditutupi selama tujuh tahun. Namun akhirnya terbongkar juga. Maria sangat murka. Ia menganggap Ociraius tidak menepati janjinya. Ia juga bersumpah akan mendapatkan Laucividy dan memusnahkan Anna serta ayahnya dengan kekuatan itu. Lalu terjadilah perang saudara sepuluh tahun yang lalu.”

Ryan mengusap air matanya yang kembali terjatuh. Pikirannya kembali pada kenangan sore itu. Kenangan kelam yang ingin dikuburnya. Ia masih dapat mengingat dengan jelas kejadian pahit sore itu.

“Lalu apa yang dilakukan kakek saat itu?”

Lagi-lagi figura itu tersenyum. “Ia hanya bersemedi di dalam istana, mengumpulkan kekuatan untuk memusnahkan Laucividy dengan mantra gaib terlarang milik bangsa Viandy suatu saat nanti. Ia tidak bisa ikut campur karena hal ini merupakan suatu hal yang sudah berlangsung berabad-abad. Perang saudara memperebutkan kekuatan Laucividy hanya untuk saudara yang satu rahim. Tidak boleh orang lain ikut campur.”

“Kenapa?”

Figura itu terdiam sebentar. Ia menatap lekat-lekat batu kristal yang terus memancarkan sinarnya. “Karena ini perang untuk menjadi pemimpin Viandy. Siapa yang kalah artinya dia tak pantas duduk di kursi pemimpin.”

***

Anna sedang memasak di dapur untuk makan siang keluarga kecilnya. Ia yakin jika buah hatinya dan suami tercintanya sudah sangat kelaparan karena ini sudah hampir pukul satu siang.

Ia meraih sendok masak di dekatnya. Akan tetapi, sendok itu jatuh ke lantai diikuti tubuhnya yang ambruk. Ia memegangi dada kanannya yang sakit. Ada sebuah firasat buruk yang dirasakannya.

“Bunda, Bunda, Ryan sama Ayah lapar. Makanannya sudah siap belum?” Sebuah suara bocah berumur tujuh tahun menggema di seluruh ruang tamu rumah itu.

Anna menarik nafasnya berat. Ia berusaha bangkit berdiri dengan bertumpuh pada lemari-lemari di dapurnya begitu melihat kedatangan suami dan anaknya ke dapur. Ia mencium kening Ryan cukup lama dan memeluk Peter erat. Air matanya jatuh membasahi kaus putih Peter yang lusuh.

“Victor dan Maria menuju kemari.” Mata sipit Peter terbelalak ketika Anna berbisik padanya. Ia segera menggendong Ryan dan membawanya ke kamarnya. Ia menurunkan Ryan tepat di atas kasurnya.

“Ryan, dengarkan Ayah. Apa pun yang terjadi di luar kamu tidak boleh keluar dari kamar ini ataupun mengintip melalui jendela kamarmu. Kamu mengertikan, Ryan?” Ryan mengangguk. Wajahnya yang polos membuat Peter tidak sanggup membiarkan anak semata wayangnya itu berada di dalam kamar seorang diri dan kelaparan.

“Baik, Ayah. Tapi janji, ya, jangan lama-lama. Ryan sudah sangat lapar. Ryan juga mengantuk. Tapi permainan hari ini sangat seru. Lain kali kita main lagi, ya, Yah.” Peter mengecup kening Ryan. Air matanya turun membasahi pipinya yang berubah murung. Mungkin ini terakhir kalinya ia melakukan hal itu. Ia sangat yakin Maria dan Victor tidak akan pulang dengan tangan kosong. Setidaknya mereka harus membawa pulang nyawanya dan Anna terlebih dahulu.

Peter bergegas keluar kamar lagi setelah mengambil beberapa potong roti dari dapur untuk Ryan. Ia mengunci pintu kayu itu dan memberinya beberapa mantra sihir. “Maafkan Ayah dan Bunda, nak.”

Peter segera berlari menghampiri Anna yang masih kesulitan bernafas. Ia mengambil segelas air putih dengan telunjuknya.

Baru saja ia hendak membantu istrinya untuk minum, pintu besi rumahnya terbuka dengan kasar dan mengakibatkan dentuman yang sangat keras. Di sana berdiri dua orang yang tidak asing lagi baginya dan Anna.

“Serahkan batu yang menjadi hakku seharusnya.” Maria melangkah memasukki rumah itu dengan angkuh.

“Tidak akan, Maria. Itu hanya akan membuatmu dan Victor berada dalam bahaya. Kehancuran akan menimpa kalian dan anak dalam kandunganmu!” balas Anna. Dadanya semakin berdegup kencang.

“Cih! Kau menganggap dirimu itu lebih suci dari kami?” balas Victor berapi-api.

“Bukan seperti itu maksud kami-” ujar Peter terpotong.

“DIAM! Kalian harus mati! Metrapiratius!”

Ryan bangun dari tidurnya. Ia sangat terkejut saat mendengar Messy meneriaki namanya dengan murka. Tangannya menepuk jidatnya keras. Ia baru teringat akan batu kristal yang belum disimpannya sejak semalam. Ia menghempaskan selimutnya sembarangan dan berlari menuju meja belajarnya.

“Mereka tidak boleh menemukan ini!”

Ryan melangkah dengan tergesah-gesah hingga ia tersandung kaki kursi. Ia menyentuh dagunya yang memar dan segera bangkit berdiri. Ia meraih kotak tua yang masih berada di atas mejanya. Semalam ia tidak sempat menyimpan kotak itu ke lemari.

“Hei, pemalas! Cepat bangun!” pekik Mario murka.

Ryan menyembunyikan kotak itu di balik tubuhnya yang bergetar. Matanya melotot begitu ia menyadari jika pintu kamarnya telah dibuka paksa oleh dua sepupunya.

“Mau mengunci pintu tua ini agar kami tidak bisa masuk? PERCUMA!” sentak Meccy lantang. Ia menyeringai dengan telapak tangan kanannya terbuka lebar.

Ryan mundur beberapa langkah ketika kedua bersaudara itu berjalan mendekat ke arahnya. Tangannya menggenggam erat kotak itu. Ia berkali-kali menyumpai dirinya sendiri yang sudah begitu ceroboh.

“Kak, lihat foto siapa ini?” Meccy meraih sebuah figura usang di samping lampu belajar milik Ryan. Senyumnya luntur ketika mendapati sebuah keluarga beranggotakan tiga orang tengah tertawa bahagia di dalamnya. Matanya memerah dan amarahnya memuncak. Di detik itu juga figura usang itu terbakar.

“Tidak! Padamkan apinya Meccy! Aku mohon,” ujar Ryan memelas.

“Tidak ada gunanya kau memohon begitu! Jadi, apa yang kau sembunyikan?” tanya Mario. Kepalanya mengintip ke balik tubuh Ryan yang bertambah gemataran, membuat rambut pirangnya terjuntai ke samping.

“Biar aku yang lihat, kak. Dia sudah membuatku begitu kesal!” Messy menaikkan telunjuk kirinya ke atas membuat tubuh Ryan teangkat ke atas menyentuh langit-langit kamarnya yang berwarna putih kusam dengan gypsun berwarna senada.

Kaki Ryan mengapai-gapai di udara, berusaha mencari pijakan. Kepalanya begitu pusing ketika Meccy memutarnya berkali-kali di udara dengan seringai yang menaikkan bulu kuduknya.

“Agh!” Ryan menyentuh kepalanya pelan. Di tangannya terdapat bercak darah. Ia jatuh ke lantai dan membentur kaki meja sangat keras begitu Meccy menghempaskan tangannya dengan kasar. Kotak yang dipegangnya lantas terhembas jatuh menyentuh kaki Mario, yang memang berdiri di dekatnya sejak tadi.

“Jadi di sini batu ini?” ujar Mario ketika ia telah membuka kotak itu.

Meccy ikut menoleh ke arah Mario. Ia kembali mengangkat jari telunjuknya dan mengambil kotak itu dari genggaman Mario dengan sepotong senyum yang menghiasi bibirnya. “Biar aku yang pegang, kak. Sekarang kakak bakar saja rumah ini. Musnahkan juga sepupu tidak berguna kita ini!” ujarnya sembari melangkah keluar ruangan.

Meccy tertawa puas ketika melihat pantulan dirinya di dalam batu kristal itu. Bukan hanya karena ia sudah begitu merindukan rumahnya tetapi ia juga sudah tidak sabar untuk menjadi ratu Viandy. Ia akan menyingkirkan kakeknya dan menjadikan kakaknya sebagai bawahannya.

***

Ryan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menyentuh kepalanya yang terasa berat. Ia tersentak begitu menyadari kepalanya dibalut oleh perban. Ryan kembali mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Sepertinya ini gubuk tua yang sudah tidak terpakai. Dinding-dindingnya juga terbuat dari anyaman bambu dengan beberapa lubang cukup besar mengangga di beberapa sisinya.

Ryan menatap ke pintu masuk ketika seorang pemuda bertopeng masuk ke dalam kamarnya. Dahinya berkerut ketika menyadari kalau orang itu adalah Zeurio.

“Aku yang menyelamatkanmu hari itu. Kau tak sadarkan diri selama seminggu.” Zeurio memberikan semangkuk cairan berwarna hitam pekat. “Minumlah! Ini akan membuatmu lebih baikkan. Ramuan ini dibuat dari tanaman liar di belakang rumahmu dengan sedikit matra pengobatan.”

Ryan mengangguk. Ia meminum cairan itu. Lidahnya terjulur ketika ia baru meneguknya sekali. Rasanya begitu pahit! Ingin rasanya ia memuntahkannya namun itu tidak sopan.

Akhirnya ramuan itu habis diteguknya walaupun ia harus menahan nafas berkali-kali. Ryan meletakkan mangkuk itu di atas meja usang sebelah ranjangnya, sebuah meja tua yang di kakinya terdapat beberapa lubang bekas gigitan rayap dan hanya satu-satunya di ruangan yang sempit itu.

“Bagaimana dengan sepupuku?”

“Cih! Kau masih memikirkan mereka yang berniat membunuhmu? Untung saja ketika itu otak tuaku masih menghafal matra untuk memadamkan api sebesar itu.” Zeurio menepuk pundak kiri Ryan pelan. Ia sangat mengetaui sifat Ryan walau baru dua kali ia bertemu dengannya. Ia tahu bahwa Ryan begitu menyayangi sepupunya itu walau ia hampir celaka karena ulah mereka untuk yang kedua kalinya.

“Aku harap kau siap mendengar ini. Mereka sudah meninggal. Mereka saling membunuh karena Laucividy. Begitu kabar yang aku terima beberapa hari yang lalu dari masyarakat kota.” Ryan menatap Zeurio. Mulutnya sedikit mengangga. Ia berusaha menahan air matanya yang hendak menetes.

“Lalu dimana Laucividy?”

“Batu itu dimusnahkan Ociraius. Ia mengorbankan nyawanya karena batu itu abadi,” ujar Zeurio.

“Anda mengenal kakek saya?”

“Ya! Saya sepupunya. Zeurio Viandy.”

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Viandy

  1. xeno says:

    Halo, el_JuLiie. Salam kenal. :)

    Wah, cerpen sederhana dengan twist ringan (yang rasanya agak tiba-tiba sih) dan bumbu dongeng antara cahaya dan kegelapan. Awalnya aku membayangkan ini cerpen dongeng untuk anak-anak. Tapi sisi gelap para tokoh antagonis dan masa lalu orang tua Ryan segera saja mengubahnya. Owh… Poor Ryan. T^T

    Sedikit saran, mungkin peran Zeurio bisa ditambah sedikit. Dan, oh, kedua sepupunya Ryan itu umur berapa, ya?

    Itu saja dulu. Tetap semangat!

  2. negeri tak pernah-48 says:

    Hoo.. penyihir.

    Tingkah sepupunya Ryan itu luar biasa bikin kesel ya. Tapi juga agak kekanakan. Sama dengan bang Xeno, jadi mau nanya mereka umur berapa?

    Trus satu lagi, kenapa tiba-tiba batu itu dimusnahin sama Ociraius? Koq rasanya tiba-tiba gitu?

    Itu aja. Mampir ke nomer 48 jika berkenan :)

    • eL_JuLiie says:

      xeno, makasih. Mereka mau aku bikin seumuran, cuma aku sedikit ragu. Pasalnya kalau mereka seumuran agak aneh. Kan ibunya Ryan yang duluan hamil. Hehe,

      48, makasih. Batu itu dimusnahin karena bikin orang2 celaka. Khususnya orang2 jahat yang pngen punya kekuatan hebat.

  3. gurugumawaru gurugumawaru says:

    Owkeee…saya beneran kesel sama Ryan. Kamu cowo tapi ga punya sikap dan mau aja diperbudak??? *balikin kulkas*

    Kayanya yang kena efek batas kata adalah ending ya, karena endingnya terkesan gitu aja. Sepupu jahat mati, barang sakti diancurin, terus ternyata orang yg dulu cuma lewat selintas adalah kerabat.

    Beberapa dialog juga berasa agak sinetroniyah (buat saya sih) :D

    3 out of 5 ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>