Zam Minara

ZAM MINARA

karya Rifki Asmat Hasan

Suasana mencekam memayungi istana Kerajaan Lantana. Sang raja, Saghra Kizbahu, beserta beberapa petinggi kerajaan baru saja mendapat kabar dari para telik sandi kerajaan bahwa, Zhulma Akli, penguasa Kerajaan Korkot akan segera mengirim bala tentaranya untuk menyerang dan menguasi Kerajaan Lantana. Di bawah pimpinan Zhulma Akli, yang terkenal dengan kekejamannya, Kerajaan Korkot telah menghancurkan dan menguasai dua buah kerajaan, yaitu Tamerah di utara dan Muala di selatan. Tampaknya, yang demikian itu belum bias memuaskan nafsu Zhulma, hingga dia berkeinginan untuk menambah daerah kekuasaannya. Lantana, adalah sasaran berikutnya.

Mendengar berita tentang tindak-tanduk dan keganasan pasukan Korkot, Saghra Kizbahu jelas merasa khawatir. Hal tersebut terlihat jelas dari raut wajahnya. Dari atas singgasananya, Saghra Kizbahu memandangi wajah para bawahannya satu per satu.

“Bagaimana pendapatmu tentang berita ini, Syuja?” Tanya Saghra kepada Syuja Asad, panglima perangnya.

“Tuanku, sejujurnya hamba sangat khawatir dengan berita ini. Hamba tahu bagaimana kondisi tentara yang kita miliki. Dan sungguh, baik dari segi jumlah maupun kemampuan, pasukan kita akan banyak mengalami kesulitan untuk mengatasi pasukan Korkot.” Jawab Syuja Asad.

“Jadi sangat kecil kemungkinan kita bias menghalau pasukan Korkot?” Tanya Saghra lagi.

Kali ini Syuja Asad tidak menjawab dengan kata-kata. Hanya satu kali anggukan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan rajanya itu.

“Apakah ada cara yang bisa kita lakukan untuk melindungi kerajaan ini?” Tanya Saghra lagi.

Pertanyaan kali ini diajukannya kepada semua yang hadir di ruang istana, bukan hanya kepada Syuja.

Suasana hening sejenak. Semua larut dalam pikiran masing-masing, mencoba menemukan sebuah cara untuk melindungi dan menyelamatkan kerajaan tempat mereka lahir dan tumbuh.

“Tuanku,” tiba-tiba Patih Fatan angkat bicara. “Bagaimana jika Tuan meminta pertolongan kepada Kerajaan Sembilan Cahaya? Bukankah Raja Ahkam adalah sahabat Tuan?” Sambung patih kerajaan itu.

“Kenapa kamu mengusulkan demikian, Patih?” Raja Saghra balik bertanya kepada Patih Fatan.

“Hamba pernah mendengar kabar bahwa Raja Zhulma cukup segan terhadap Raja Ahkam, karena Raja Ahkam memiliki pasukan yang kuat serta senjata yang sangat luar biasa. Karenanya, Kerajaan Sembilan Cahaya hingga saat ini masih amantenteram. Tak ada satu pun kerajaan yang berniat untuk mengusik Kerajaan Sembilan Cahaya,” jawab Patih Fatan.

“Sepertinya, ini satu-satunya cara yang harus kita ambil agar bisa mempertahankan kerajaan ini,” ucap Raja Saghra.

“Kalau begitu, Aku akan pergi untuk bertemu langsung dengan Raja Ahkam bersama beberapa orang pengawal. Selama pergi, Aku percayakan kerajaan ini kepada kalian berdua.” Ucap Raja Saghra lagi sambil memberi amanat kepada keduaorang kepercayaannya, Syuja Asad dan Patih Fatan.

 

*****

 

Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh selama beberapa hari, akhirnya Raja Saghra beserta dua pengawalnya tiba di kerajaan Sembilan Cahaya.

Kerajaan Sembilan Cahaya terkenal dengan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Meski bukan kerajaan dengan wilayah besar, namun, di bawah kepemimpinan Raja Ahkam Shabra, seluruh potensi yang dimiliki kerajaan berhasil dimaksimalkan untuk kepentingan rakyat.

Tak hanya itu, Kerajaan Sembilan Cahaya juga dikenal sebagai kerajaan yang memiliki pasukan yang kuat dan tangguh, sehingga para penguasa kerjaan lain merasa segan untuk mencari-cari masalah dengan Kerajaan Sembilan Cahaya.

“Selamat datang di Sembilan Cahaya, Kawan!” Raja Ahkam menyambut ramah kedatangan Raja Saghra.

“Terima kasih, Kawan. Senang sekali, Aku bisa hadir di Sembilan Cahaya ini.” Jawab Raja Saghra.

“Ada angin apa yang membawamu ke sini?” Tanya Raja Ahkam sambil mempersilahkan tamu sekaligus kawannya itu. “Silahkan!”

“Angin kurang baik yang membawaku ke sini. Mungkin kau sudah dengar tentang sepak terjang Raja Zulma dari Kerajaan Korkot,” jawab Raja Saghra.

“Ya, Aku sudah mendengar. Raja Zulma sudah menyerang dan menghancurkan dua kerajaan tetangga, Tamerah dan Muala.”

“Aku mendapat informasi dari para telik sandi bahwa, Raja Zulma akan menyerang Lantana, kerajaanku. Karena itulah Aku datang ke sini. Aku datang untuk meminta bantuan darimu agar Aku bisa menghalau Raja Zulma.”

“Sebagai kawan lama, Aku akan membantumu. Tapi bantuanku bukan dalam bentuk mengirim pasukan Sembilan Cahaya untuk bergabung dengan pasukan Lantana. Karena melihat pergerakan Pasukan Korkot, mereka pasti lebih cepat tiba di Lantana.” Ujar Raja Ahkam.

“Karenanya, Aku akan membantumu dalam bentuk lain. Aku akan memberikan senjata yang mungkin bisa melumpuhkan Pasukan Korkot. Senjata ini tidak akan membunuh, namun hanya bertujuan untuk melumpuhkan musuh. Nema, nama senjata ini.”

“Seperti apa senjata itu? Dan bagaimana menggunakannya?” Tanya Raja Saghra.

“Senjata ini berbentuk bubuk. Penggunaannya mudah. Cukup dibakar saja. Jika bubuk Nema ini dibakar, maka akan menghasilkan asap yang berwarna kuning. Siapa saja yang menghirup asap tersebut, maka dia akan tertidur atau pingsan. Karenanya, yang harus diperhatikan ketika pasukanmu menggunakan senjata ini untuk menyerang Pasukan

Korkot adalah arah angin. Pastikan arah angin tidak mengarah kepada pasukanmu,” jawab Raja Ahkam.

“Untuk menangkal asap kuning Nema, gunakan kain yang telah dibasahi dengan minyak jelantah sebagai pelindung. Asap Nema tidak akan bisa masuk menembus kain yang dibasahi minyak jelantah,” sambung Raja Ahkam.

“Terima kasih, kawan. Kerajaanku dan rakyatku sangat berterima kasih atas bantuanmu ini,” ujar Raja Saghra.

“Segeralah kau kembali ke Lantana. Sepertinya, mata-mata dari Korkot sudah mengetahui jejak kedatanganmu ke sini. Waspadalah! Setelah dirimu keluar dari wilayah Sembilan Cahaya, Kau dan pengawalmu mungkin berada dalam bahaya,” pesan Raja Ahkam.

“Baiklah, Aku akan berhati-hati.”

Setelah menerima bubuk Nema, Raja Saghra beserta kedua pengawalnya segera pergi meninggalkan Istana Sembilan Cahaya untuk kembali ke Lantana.

Sepeninggal Raja Saghra, Raja Ahkam merasa khawatir dengan keselamatan Raja Saghra. Dirinya berpikir keras  mencari cara untuk membantu perjalanan Raja Saghra menuju Lantana.

 

*****

 

“Zam Minara, Aku akan memintamu untuk melakukan pekerjaan yang sangat penting, karena akan menentukan keselamatan sebuah kerajaan beserta rakyatnya.” Ucap Raja Ahkam

“Permintaan Tuan, adalah perintah bagi hamba,” jawab Zam Minara.

“Aku memintamu mengantarkan sebuah benda kepada sahabatku, Raja Saghra Kizbahu di Lantana. Benda itu harus Kamu jaga dan jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang yang tak bertanggung jawab.  Kau harus mempertahankannya. Jika perlu, nyawamu adalah taruhannya.  Apakah kamu sanggup?” Tanya Raja Ahkam.

“Hamba sanggup Tuan.” Jawab Zam Minara mantap.

Raja Ahkam kemudian bangkit dari singgasananya. Dia mengambil sebuah benda berbentuk seperti tongkat dengan panjang sekitar satu hasta dan berwarna coklat. Benda itu kemudian dibungkusnya dengan kain persegi berwarna hitam. Selanjutnya, Raja Ahkam memasukkannya ke dalam wadah dari bambu yang diberi tali. Lalu dia melangkah mendekati Zam Minara.

“Bawalah benda ini dan jaga baik-baik.,” pinta Raja Ahkam.

“Baik, Tuanku.” Jawab Zam Minara.

 

*****

 

Setelah melakukan perjalanan selama dua hari, Zam minara tiba di sebuah hutan lebat dengan aneka jenis pepohonan. Di atas jalan setapak yang membelah hutan itu, dia terus memacu kudanya dengan kecepatan tinggi.

Tiba-tiba Zam Minara melihat sebuah pohon besar tumbang menimpa jalan yang akan dilaluinya. Dengan sigap, Zam Minara menarik tali kekang Si Kumbang, kuda kesayangannya. Kuda itu berhenti sambil mengangkat  kedua kaki depannya.

Sesaat kemudian telinga Zam Minara menangkap suara benda terbang ke arahnya. Dengan sigap, Zam Minara menjatuhkan tubuhnya ke sisi kiri kuda yang ditungganginya.

“Jlep!”

Sebuah tombak menancap di sebuah batang pohon yang berada di sisi kiri jalan setapak. Menyadari bahaya yang mengintai, Zam Minara semakin waspada.

Kedua mata Zam Minara melihat bayangan orang yang muncul dari balik pohon. Jumlah mereka lima orang. Semuanya berpakaian serba hitam.

Kelima orang itu berlari mendekati Zam Minara dengan pedang terhunus di tangan. Zam Minara segera menepuk tubuh kudanya, Si Kumbang,  sebagai perintah agar segera menjauh. Zam Minara mencabut tombak yang menancap di pohon untuk kemudian dijadikan senjata demi menghalau serangan dari lima orang tak dikenal tersebut.

“Serahkan benda itu!” Teriak salah seorang di antara kelima lelaki itu sambil menunjuk bambu yang menyembul dari balik pundak Zam Minara.

“Siapa kalian?” Tanya Zam Minara.

“Tak usah kau banyak tanya, cepat serahkan benda itu!”

“Tidak! Tidak akan kuserahkan benda ini kecuali kepada yang berhak!”

“Serang!” Salah seorang dari kelompok .

Kelima orang tersebut langsung menerjang Zam Minara. Sementara Zam Minara mundur beberapa langkah untuk kemudian tubuhnya dengan ringan berkelit ke kiri dan ke kanan, melompat, menunduk, lalu berputar, sambil menangkis tebasan pedang yang diayunkan oleh para pengeroyoknya.

Pertarungan sengit terjadi. Terdengar suara dentingan yang tak henti-henti ketika tombak di tangan Zam Minara beradu dengan pedang di tangan kelima lelaki pengeroyok itu  yang menyerang secara membabi buta. Kondisi itu justru mengurangi tingkat kewaspadaan para pengeroyok. Sementara Zam Minara, meladeni serangan mereka dengan hati-hati dan penuh perhitungan.

Ketika tombak di tangan kanan Zam Minara menahan gempuran pedang salah seorang pengeroyok, tangan kirinya segera mengayunkan pukulan penuh tenaga ke arah wajah si pengeroyok.

“Buk!”

Satu pengeroyok roboh.

Keempat kawan pengeroyok yang melihat kawannya roboh, langsung menyerang lagi secara serempak dari empat penjuru sambil menghunus pedang ke arah dada dan punggung Zam Minara. Zam minara langsung berjongkok untuk menghindari serangan  tersebut dan menemukan titik terbuka dari pertahanan keempat lawannya, kaki-kaki mereka. Dengan menjadikan kaki kiri sebagai tumpuan, Zam Minara melakukan gerak berputar sambil  mengarahkan ujung tombak ke arah kaki lawan-lawannya.

Tubuh keempat pengeroyok itu tersungkur ke tanah hampir bersamaan.

“Aaakh!”

Teriak kesakitan terdengar dari mulut mereka. Tangan mereka memegang luka di kaki mereka yang mengeluarkan darah cukup banyak. Mereka tak sanggup lagi berdiri.

Zam Minara mendekati salah seorang dari mereka. “Siapa kalian?” Tanyanya kemudian.

Yang ditanya tidak menjawab, hanya meringis kesakitan. Mata Zam Minara menangkap sesuatu di punggung telapak tangan salah satu pengeroyoknya itu lalu menarik tangan tersebut.

“Pasukan Srigala Kerajaan Korkot,” ucapnya pelan ketika melihat rajah berbentuk kepala srigala di punggung telapak tangan tersebut.

Zam Minara tidak mau berlama-lama di tempat itu. Tugas yang diembannya harus segera dilaksanakan. Sejurus kemudian, dirinya sudah berada di atas punggung Si Kumbang, lalu melesat  membelah belantara hutan menuju Kerajaan Lantana.

 

*****

 

Di hari ketiga, Zam Minara tiba di sebuah daerah pegunungan. Jalan tersebut dipilihnya untuk memangkas  satu hari perjalanan. Namun, menyusuri jalan pintas tersebut bukanlah hal yang mudah. Jalannya naik turun serta bersisian dengan  jurang yang dalam.

Di kejauhan, Zam Minara melihat sekelompok orang sedang bertarung. Tiga orang lelaki dikeroyok oleh sekitar sepuluh orang berpakaian  hitam-hitam.

“Jangan-jangan itu Pasukan Srigala dari Kerajaan Korkot,” gumamnya dalam hati.

Zam Minara kemudian mempercepat lari kudanya untuk menolong ketiga orang yang dikeroyok pasukan srigala itu. Setelah dekat, dia menemukan bahwa dua orang yang dikeroyok sudah tewas, begitu juga dengan tujuh orang pasukan srigala.

Zam Minara segera turun dari kudanya dan segera membantu lelaki  yang terlihat kelelahan dan mulai terdesak. Dia berlari dan melompat tinggi. Kaki kanannya menendang kepala salah satu anggota pasukan srigala hingga roboh. Begitu kakinya kembali menginjak tanah, dengan gerakan memutar, kaki kanannya kembali menendang anggota pasukan srigala yang lain hingga terpelanting.

Di saat yang bersamaan, sebuah tendangan dari anggota pasukan srigala bersarang di dada lelaki yang akan ditolong Zam Minara. Tubuh lelaki terdorong ke belakang hingga ke bibir jurang. Lelaki itu berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya. Namun faktor kelelahan membuatnya terpleset dan terjatuh ke dalam jurang.

Zam Minara segera melompat lagi sambil menendang kepala anggota pasukan srigala yang terakhir itu hingga roboh.

“Tuan!” teriak Zam Minara sambil mendekati tempat di mana lelaki itu terpeleset.

Terlihat tangan kanan lelaki itu sedang berpegangan pada sebuah batu yang menonjol di tepi jurang. Zam Minara segera mengulurkan tangan kanannya. “Pegang tangan saya, Tuan!”

Tangan kiri lelaki itu berusaha meraih tangan Zam Minara.  Dengan sisa tenaga yang ada, lelaki itu mencoba mengangkat tubuhnya sendiri dengan bantuan tangan Zam Minara. Di saat yang genting, tangan kanan lelaki itu  meraih bambu yang berada di balik punggung Zam Minara. Namun perbuatan itu justru membahayakan dirinya. Tali pengikat bambu itu putus. Tubuh lelaki itu kembali merosot ke bawah. Sementara bambu  yang semula dipegangnya terlepas.

“Tidaaak!” Teriak Zam Minara ketika menyadari bahwa benda yang diamanahkan oleh Raja Ahkam jatuh ke dalam jurang.

Dengan sekuat tenaga, akhirnya Zam Minara berhasil menolong lelaki itu.

“Terima kasih, anak muda. Siapa namamu dan dari mana asalmu?” Tanya lelaki itu.

“Aku Zam Minara dari Sembilan Cahaya,” jawab Zam Minara pelan.

“Maaf, Aku tidak bisa lama-lama. Aku  harus melanjutkan perjalananku. Mudah-mudahan kita bisa bertemu di lain waktu.”

Lelaki itu kemudian melangkah mendekati seekor kuda berwarna putih. Dia lalu menunggangi kuda tersebut dan memacu kudanya meninggalkan Zam Minara sendiri.

“Aku telah gagal.” Zam Minara kecewa. ”Apa yang akan terjadi dengan Kerajaan Lantana? Apakah akan hancur karena tak mampu menahan serbuan Kerajaan Korkot? Dan semua itu karena kesalahanku!”

 

*****

 

“Buka pintu gerbang, Raja sudah kembali!” Teriak Panglima Syuja ketika melihat Raja Saghra memacu kuda putihnya mendekati pintu gerbang kerajaan.

Panglima Syuja langsung menyambut Raja Saghra. “Ke mana para pengawal Tuan?” Tanya Syuja.

“Mereka semua terbunuh oleh Pasukan Srigala dari Kerajaan Korkot. Bahkan diriku mungkin tidak akan selamat dari keganasan mereka, jika saja tidak ditolong olah seorang pemuda  bernama Zam Minara.” Jawab Raja Saghra.

“Lalu sekarang bagaimana, Tuan? Pasukan Korkot sudah tiba di perbatasan. Apa yang harus kita lakukan?”

“Segera kamu kumpulkan lima puluh orang pemanah terbaik yang kita miliki dan buat penutup hidung dan mulut dari kain apapun, kemudian celupkan ke dalam minyak jelantah, dan berikan kepada semua prajurit kita!” Perintah Raja Saghra.

Dengan cepat, Panglima Syuja segera melakukan apa yang diminta oleh Raja Saghra. Dia mencari lima puluh orang pemanah terbaik yang dimiliki Kerajaan Lantana, kemudian memerintahkan mereka agar segera menghadap kepada Raja Saghra. Selanjutnya, Panglima Syuja menemui bagian perlengkapan perang, memerintahkan mereka agar segera membuat penutup hidung dan mulut seperti apa yang diminta Raja Saghra.

Lima puluh orang pemanah sudah berkumpul di hadapan Raja Saghra. Dengan seksama mereka mendengarkan instruksi yang diberikan sang raja. Selesai mendengarkan istruksi, mereka langsung menempati pos-pos di sekeliling tembok benteng kerajaan. Sementara Raja Saghra mempersiapkan sesuatu bersama Panglima Syuja dan beberapa prajurit lainnya.

******

 

“Mereka sudah dekat!” Teriak salah seorang prajurit yang bertugas di menara pengawasan.

Seluruh pasang mata kemudian tertuju ke aras selatan. Debu-debu berterbangan menandakan pasukan Kerajaan Korkot semakin mendekat.

“Tunggu aba-aba dariku!” Perintah Raja Saghra.

Raja Saghra memandang arah datangnya Pasukan Korkot dengan seksama. Dirinya mencoba memperkirakan berapa jauh jarak yang memisahkan antara Pasukan Korkot dengan tembok benteng kerajaan.

Raja Saghra mengangkat tangan kanannya, sipa untuk memberikan aba-aba.

“Ketapel… Serang!” Teriak Raja Saghra.

Sedetik kemudian, terdengar suara ketapel besar melontarkan sesuatu. Lalu terlihatlah beberapa buah benda berbentuk bulat seperti bola mengarah ke Pasukan Korkot.

“Pasukan pemanah!” Teriak Raja Saghra lagi sambil mengangkat tangan kanannya seperti semula. “Tembak!”

Kelima puluh pemanah langsung melepaskan anak panah mereka yang sebelumnya telah dibakar ujungnya. Lima puluh anak panah meluncur deras menuju bola-bola yang terlontar sebelumnya. Ketika panah berapi itu mengenai bola-bola tersebut terjadilah ledakan cukup keras. Yang kemudian memunculkan asap tebal berwarna kuning. Asap itu kemudian turun di tengah-tengah pasukan Korkot.

Tiba-tiba, satu per satu prajurit pasukan korkot berjatuhan. Mereka pingsan. Dalam waktu tidak lama, hampir separuh pasukan Korkot jatuh terkapar. Melihat kejadian tersebut, anggota pasukan lainnya langsung meninggalkan posisi masing-masing untuk menyelamatkan diri.

“Panglima Syuja, kerahkan pasukanmu untuk menyerang. Ingat, jangan membunuh pasukan yang sudah menyerah dan tidak berdaya.” Perintah Raja Saghra.

Tak lama kemudian, dengan didampingi Panglima Syuja dan pasukannya, Raja Saghra bergerak maju menerjang Pasukan Korkot yang sudah  kocar-kacir. Dengan menggunakan kain pelindung hidung dan mulut yang telah dicelup ke dalam minyak jelantah, Pasukan Lantana tidak terpengaruh dengan asap kuning yang masih terlihat.

Pertarungan yang sudah tidak seimbang pun terjadi. Dengan mudah, Pasukan Lantana berhasil mengalahkan Pasukan Korkot. Pasukan Korkot yang menyerah, termasuk Raja Zhulma langsung ditawan. Peperangan pun berakhir dalam waktu yang cukup singkat.

*****

Raja Saghra tersenyum. Peperangan berhasil dimenangkan oleh pasukannya. Namun yang terpenting, peperangan tersebut tidak banyak memakan banyak korban dari kedua belah pihak.

“Senjata yang diberikan Raja Ahkam sungguh luar biasa.” Ucap Raja Saghra kepada Panglima Syuja.

“Benar, Tuanku!” Timpal sang panglima.

“Zam Minara!” Tiba-tiba Raja Sagra teringat akan pemuda yang menolonganya.

“Ada apa Tuanku?” Tanya Panglima Syuja.

“Zam Minara. Pemuda itu yang juga berjasa besar atas kemenangan ini. Dia yang telah meyelamatku dari serangan Pasukan Srigala Kerajaan Korkot. Tuhan telah menolongku melalui tangan pemuda itu.” Papar Raja Saghra.

“Panglima, ikutlah denganku! Ajak serta beberapa pengawal! Kita akan pergi ke Kerajaan Sembilan Cahaya untuk menemui Zam Minara.”

 

*******

 

Setelah berpikir selama dua hari, akhirnya Zam Minara memutuskan kembali untuk pulang ke Sembilan Cahaya dan meceritakan kegagalannya kepada Raja Ahkam. Perjalanan pulang tersebut dilakukan Zam Minara tanpa semangat. Si Kumbang tidak pernah dipacu, melainkan hanya berjalan pelan di bawah naungan cahaya purnama.

“Anak muda! Tunggu!” Tiba-tiba terdengar suara panggilan dari belakang.

Zam Minara menghentikan kudanya dan menoleh ke arah belakang. Terlihat seorang lelaki memacu kudanya dengan kencang. Sementara di belakangnya terlihat beberapa orang penunggang kuda mengikutinya.

“Apa benar kamu adalah Zam Minara dari Sembilan Cahaya?” Tanya lelaki itu.

“Benar,” jawab Zam Minara.

“Namaku Syuja Asad dari Lantana. Jika kau berkenan, hentikan sejenak perjalananmu karena Raja Saghra Kizbahu ingin bertemu denganmu,” ucap lelaki itu sambil menujuk rombongan penunggang kuda di belakangnya.

“Raja Saghra? Apakah dia akan menanyakan tentang benda itu?” Tanya Zam Minara dalam hati.

“Hai anak muda, bagaimana keadaanmu? Maaf jika pada pertemuan sebelumnya Aku dalam dalam keadaaan terburu-buru,” sapa raja Saghra.

“Kabar baik Tuanku,” jawab Zam Minara. “Tapi, apa hamba pernah pernah bertemu Tuan? Di mana?” Tanyanya selanjutnya.

“Aku adalah lelaki yang telah Kau selamatkan di tepi jurang beberapa hari yang lalu,” jawab Raja Saghra. “Aku bermaksud mengundangmu untuk datang ke istana Lantana sebagai tanda terima kasih atas pertolonganmu itu. Aku tidak bisa membayangkan jika saat itu tidak ada dirimu. Aku mungkin sudah mati,  terjatuh ke dalam jurang. Sementara Lantana mungkin sudah hancur oleh serangan Pasukan Korkot.”

“Tapi….”

“Tapi apa?”

“Hamba telah gagal melaksanakan perintah Raja Ahkam untuk menyerahkan benda yang akan membantu Tuan menghalau Pasukan Korkot. Hamba tidak berhasil menyerahkannya ke tangan Tuan.” Zam Minara mencoba menjelaskan.

Raja Saghra tersenyum mendengar  penjelasan tersebut. “Kamu tidak gagal. Kamu telah berhasil melaksanakan tugas dari Raja Ahkam,” ucapnya kemudian.

“Maksud, Tuan?”

“Bukankah ketika Kau menolongku, Aku telah memegang benda itu dengan tanganku? Hanya saja benda itu kemudian jatuh ke dalam jurang. Sudahlah, benda itu tidak terlalu penting. Karena yang jauh lebih penting, Kau  telah menyelamatkan diriku. Dan itu artinya Kau telah menyelamatkan seluruh Kerajaan Lantana.”

“Benarkah?”

“Benar sekali.”

Terlepas sudah rasa kegagalan yang menghantui Zam Minara. Sebuah senyuman terukir di wajahnya setelah mendengar penjelasan Raja Saghra.

“Kau bersedia ikut denganku ke istana Lantana?” Tanya Raja Saghra.

“Baiklah. Aku bersedia.” Jawab Zam Minara.

Di bawah langit cerah malam itu, dengan hiasan rembulan dan beberapa rasi bintang, Zam Minara, Raja Saghra, dan para pengawal kemudian bergerak menuju Kerajaan Lantana.

Dalam perjalanan itu, meski Zam Minara dan Raja Saghra berjalan beriringan, namun yang bergelayut dalam pikiran masing-masing jauh berbeda. Terlintas dalam pikiran Raja Saghra untuk mempertemukan dan menjodohkan Zam Minara dengan putrinya Ayna Kanajma. Sementara Zam Minara bertanya-tanya, benda penting apakah yang sebenarnya Raja Ahkam titipkan kepadanya untuk diserahkan kepada Raja Saghra, sementara Raja Saghra mengatakan bahwa benda itu tidak penting.

 

About Villam

Author of Akkadia: Gerbang Sungai Tigris, host & jury of Fantasy Fiesta, webmaster of Kastil Fantasi, storymaster of Estarath, bad dreamer and always a newbie writer
This entry was posted in Fantasy Fiesta 2012 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

9 Responses to Zam Minara

  1. fitri gita cinta says:

    endingnya bikin penasaran nih …. ^__^

  2. 145 says:

    Endingnya menarik… tapi secara keseluruhan hmmm yah masih banyak hal yang bisa diperbaiki

  3. Hm, benda apa ya? *penasaran mode on*
    Oya, aku tahu! Kripik Rempah Bu Pri! *sotoy mode on*

    Lumayan menarik, khususnya di twist tentang “benda gak penting” itu. Walaupun sebenarnya, kebetulan, saya sudah nonton satu film yang kurang-lebih mirip mekanismenya dan moralnya dengan yang ini.

    Moral kisah ini: “Kebaikan-kebaikan yang sederhana, bahkan walaupun harus mengorbankan tugas, kadang malah lebih penting dan berguna daripada tugas itu sendiri. Jadi, selalulah sisihkan waktu untuk berbuat kebaikan, sesibuk apapun dan sepenting apapun tugas kita.”

    A mind-setting story! Good one!
    Mau kripik?

  4. *geleng geleng*

    Bu Pri, saya nggak suka pedas! Please deh! *tepok jidat*
    Makasih yah buat support di chat waktu itu. lain kali klo mau memberdayakan kuas secara maksimal, jangan lupa tag gambarnya ya! Aku sudah cek blogmu, memuaskan. Terima kasih kembali.

    Ciatttttttttt… (Isi darah dan power kaya Power Puff Girl) (^^);

    *puff!*

    Buka portal saya sendiri which is MS WORD 2007. Sori klo imajinasi saya ketinggian, maklumlah, saya pemusik. (Hidung jadi panjang) PLAK! Ditampar Jin Lampu.

    Waks. XD Sippirili! Suit suitt… *cit cit kroakkk* Oke ini twist yang biohazard buat Skype saya so, selamat dini hari.

  5. Hai salam kenal ya :D

    Ceritanya menarik, cuman agak kerasa sih kalau ini sebenernya cerita panjang yang dipadatkan untuk memenuhi kuota 3000 kata. overall gaya penulisanya oke kok. Kebayang banget pas Zam Minara berantem di awal saat diserang pasukan srigala Korkot.

    Btw, jadi benda yang penting tapi ga penting itu apa ya? Wkwkwk. Jadi ikut penasaran juga. Hehe.

    Kalau sempat, silakan mampir ke lapak 244 ya. Makasih :)

  6. Fapurawan says:

    Pola plottingnya mengingatkan pada sastra kesatria ala Melayu jaman tahun 70-80an, sering jadi drama televisi.

  7. gurugumawaru gurugumawaru says:

    hooo, cerita lain soal peperangan antar kerajaan. Moral ceritanya bagus. tapi selain itu, menurut saya ceritanya biasa aja.

    Don’t get me wrong, adegan perangnya oke loh, walau sedikit dipadatkan ^^ cuman ga ngasih efek yang lebih. lagian kenapa waktu Zam Minara bilang ke Raja Saghra kalo dia berasal dari Negeri Sembilan Cahaya, kenapa sang Raja ga langsung ngeh dan nanya apa maksudnya Zam Minara ada dalam perjalanan ke Lantana? Ngerti sih lagi buru-buru, tapi Raja itu kan baru aja berkunjung, kalo saya sih pasti penasaran. Apa orang ini nganterin barang ketinggalan, atau gimana? ^^

    3,5 out of 5 ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>